Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 24 Mei 2026

Resmi Berdiri, Yayasan Ecopark Danau Toba Fokus Pulihkan Ekonomi Petani dan Ekosistem Lingkungan

Victor R Ambarita - Minggu, 24 Mei 2026 19:37 WIB
105 view
Resmi Berdiri, Yayasan Ecopark Danau Toba Fokus Pulihkan Ekonomi Petani dan Ekosistem Lingkungan
Foto: Dok/Ecopark Danau Toba
Foto bersama: Pengurus Yayasan Ecopark Danau Toba di Jakarta foto beberapa waktu lalu.

Jakarta(harianSIB.com)

Penurunan drastis kualitas ekologi dan merosotnya kesejahteraan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan Danau Toba memicu keprihatinan mendalam.

Menjawab krisis senyap tersebut, sejumlah tokoh senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) resmi mendirikan Yayasan Ecopark Danau Toba.

Langkah nyata ini dikukuhkan melalui Akta Pendirian bernomor 14 tertanggal 24 April 2026. Yayasan ini dinahkodai oleh Dr. Ir. Nelson Simanjuntak, SH, MH, sebagai ketua umum, dengan jajaran Dewan Pembina yang diketuai oleh Dr. Ir. Muktar Napitupulu, M.Sc, dan Dewan Pengawas yang diketuai Hot Timbang PM Nainggolan.

Sesuai dengan anggaran dasarnya, yayasan ini menitikberatkan pada dua pilar utama yakni sosial dan kemanusiaan, yang mencakup pemberdayaan masyarakat, edukasi, pelestarian lingkungan, hingga penerapan gaya hidup ramah lingkungan.

Baca Juga:
Dalam wawancara eksklusif dengan Jurnalis SNN, Sabtu (23/5/2026), Ketua Umum Yayasan Ecopark Danau Toba, Nelson Simanjuntak, membeberkan realitas getir yang tengah melanda kawasan tersebut. Menurutnya, modernisasi semu di sektor pertanian justru menjadi bumerang bagi ekosistem dan kantong para petani.

"Sasaran utama kami adalah memperbaiki kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat di sekitar Danau Toba yang kini kondisinya jauh dari ideal. Pertanian di sana merosot tajam. Perkembangan teknologi yang semestinya membantu, justru menimbulkan masalah baru secara ekonomi dan ekologi," ungkap Nelson.

Ia menyoroti pergeseran budaya bertani masyarakat. Penggunaan traktor tangan (jetor) membuat petani tak lagi mencangkul, namun menambah beban biaya produksi. Ironisnya, budaya menyiangi rumput secara manual kini digantikan secara masif oleh penggunaan herbisida dan pestisida.

"Pengaruh herbisida ini merusak lingkungan ekologi jangka panjang. Secara jangka pendek, mikroorganisme dan ikan-ikan endemik yang dulu hidup subur di sawah kini mati. Sayuran lokal seperti genjer hingga sayur 'shortcut' pun lenyap. Petani yang dulunya bisa mengambil sayur dari sawah, kini terpaksa harus membeli," papar pria yang juga berprofesi sebagai pengacara ini.

Lebih parah lagi, residu bahan kimia yang tidak terurai dari area persawahan, termasuk dari wilayah Tanah Karo dan Simalungun, mengalir deras ke muara-muara sungai yang bermuara langsung di Danau Toba.

"Sungai itu semestinya membawa nutrisi alami untuk anak-anak ikan di pinggiran danau. Namun yang masuk kini justru racun pestisida. Akibatnya, ikan di Danau Toba tidak bisa berkembang biak dengan baik di habitat alaminya," jelas Nelson.

Dampak ekonomi dari kerusakan ini langsung dirasakan petani. Masa tanam padi yang idealnya selesai pada bulan Desember, kini mundur hingga Februari. Banyak lahan persawahan yang akhirnya dibiarkan terbengkalai. Percobaan konversi sawah menjadi kolam ikan air tawar pun sering gagal karena matinya mikroorganisme alami yang menjadi pakan ikan.

Sadar bahwa pemerintah memiliki keterbatasan prioritas dan anggaran politik ekonomi di kawasan tersebut, Yayasan Ecopark Danau Toba mengambil inisiatif untuk turun tangan langsung.

"Kita tidak mungkin hanya menunggu. Kami, orang-orang GMKI yang sudah senior dan sebagian sudah pensiun, merasa perlu melakukan sesuatu di sisa hidup ini," tegas Nelson.

Langkah konkret pertama yang sedang digodok adalah melakukan kajian lapangan mendalam. Salah satu program percontohan (pilot project) yang akan segera direalisasikan adalah pengendalian populasi "ikan merah" (spesies invasif/ikan iblis merah) yang selama ini memangsa ikan endemik Danau Toba.

Namun, Nelson menekankan bahwa pelestarian lingkungan tidak akan berjalan tanpa adanya pendekatan ekonomi.

"Strategi kami selalu melibatkan masyarakat. Di masa sekarang, mustahil mengajak masyarakat bergerak tanpa memberikan manfaat ekonomi langsung bagi mereka. Tujuan kami simultan yaitu memperbaiki lingkungan sekaligus meningkatkan pendapatan petani. Ini tidak mudah, makanya kami terus membangun jaringan dan mengajak para pelaku di lapangan untuk berkolaborasi," pungkas Nelson.

Kehadiran Yayasan Ecopark Danau Toba kini menjadi secercah harapan baru. Dengan susunan pengurus yang diisi oleh kalangan akademisi, praktisi hukum, hingga tokoh masyarakat—sebagaimana tertuang dalam Akta Notaris—yayasan ini siap bekerja memulihkan kembali marwah ekologi Danau Toba dan senyum para petaninya. (*)

Editor
: Eva Rina Pelawi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Bupati Samosir Minta PT Aqua Farm Nusantara Kurangi Keramba di Danau Toba
Kadis Pariwisata Sukabumi Puji Keindahan Danau Toba
Luhut Ingin Tak Ada Lagi Keramba di Danau Toba
Bondjol : Sejak Ditetapkan Sebagai Geopark Kaldera, Mafia Tanah Marak di Seputaran Danau Toba
Edison Manurung Center Bekerjasama dengan PIK Gelar Perkemahan Pejuang Danau Toba
Prof Emil Salim: Danau Toba Punya Banyak History Jaga Kelestariannya
komentar
beritaTerbaru