Minggu, 23 Juni 2024 WIB

Elon Musk: AI akan Ambil Alih Pekerjaan Manusia

Microsoft: Hanya Alat
Redaksi - Minggu, 09 Juni 2024 09:58 WIB
155 view
Elon Musk: AI akan Ambil Alih Pekerjaan Manusia
Foto: Istimewa
Elon Musk
Jakarta (SIB)
Elon Musk mengatakan bahwa kecerdasan buatan atau AI akan mengambil alih pekerjaan manusia. Akan tetapi hal itu bukan suatu hal yang buruk. Kenapa demikian?


"Mungkin tidak ada satu pun dari kita yang akan memiliki pekerjaan," kata Elon Musk tentang AI di konferensi teknologi VivaTech di Paris, yang dikutip dari CNN.


Elon Musk pun menggambarkan bahwa di masa depan, pekerjaan akan menjadi hal yang opsional alias pilihan bagi manusia atau bukan keharusan, seiring kian merebaknya AI.

Baca Juga:

"Jika kalian ingin melakukan pekerjaan yang mirip dengan sebuah hobi, kalian bisa mengerjakannya. Namun jika tidak, AI dan robot akan menyediakan apapun barang dan jasa yang kalian inginkan," kata Musk.


Ia menjelaskan agar skenario ini berhasil, perlu ada sistem 'pendapatan tinggi universal'. Namun, jangan disamakan dengan pendapatan dasar universal, meski ia sendiri tidak menjelaskan seperti apa bentuknya. (UBI atau Universal Basic Income mengacu pada pemerintah memberi sejumlah uang pada semua orang terlepas berapa banyak penghasilan mereka).

Baca Juga:

"Tidak akan ada kelangkaan barang atau jasa," tambahnya.


Kemampuan AI telah melonjak selama beberapa tahun terakhir, cukup cepat sehingga regulator, perusahaan, dan konsumen masih mencari cara untuk menggunakan teknologi ini secara bertanggung jawab. Kekhawatiran juga terus meningkat tentang bagaimana berbagai industri dan pekerjaan akan berubah seiring dengan berkembangnya AI di masyarakat.


Pada Januari, peneliti di MIT menemukan bahwa adopsi AI di beberapa tempat kerja lebih lambat dari yang diperkirakan. Mereka juga melaporkan bahwa banyak pekerjaan yang dianggap rentan terhadap AI ternyata tidak ekonomis untuk diotomatisasi.


Para ahli percaya bahwa pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan emosional dan interaksi manusia, seperti profesional kesehatan mental, kreatif, dan guru, tidak perlu digantikan.


Musk sendiri telah menyuarakan kekhawatirannya tentang AI. Selama pidato kuncinya pada hari Kamis, ia menyebut teknologi sebagai ketakutan terbesarnya.


Dia mengutip 'Culture Book Series' oleh Ian Banks, sebuah pandangan fiksi utopis tentang masyarakat yang dijalankan oleh teknologi canggih, sebagai yang paling realistis dan gambaran terbaik tentang AI di masa depan.


Namun, di masa depan yang bebas dari bekerja, Musk mempertanyakan apakah orang-orang akan merasa puas secara emosional.


"Pertanyaannya adalah tentang makna, jika komputer dan robot bisa melakukan segalanya lebih baik daripada kalian, apakah hidup kalian memiliki makna? Kurasa mungkin masih ada peran manusia dalam hal ini, dalam hal ini kita bisa memberikan makna pada AI." jelasnya.


Dia juga memanfaatkan waktu di atas panggung untuk mendorong orang tua membatasi akses media sosial anak-anak karena platform tersebut didesain oleh AI untuk meningkatkan dopamin.


Tak Sepenuhnya
Sementara itu, Director of Government Affairs Microsoft Indonesia & Brunei Darussalam Ajar Edi menilai anggapan tersebut cenderung keliru. Pasalnya, meskipun memiliki risiko dan tantangannya sendiri, namun kehadiran teknologi kecerdasan buatan juga membawa peluang baru yang justru menguntungkan.


"AI bagi Microsoft adalah tools yang membuat kita makin produktif dan membantu kita mencari discovery baru, jadi sekali lagi itu hanya tools," kata Ajar dalam acara Bisnis Indonesia Goes To Campus 2024 yang digelar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada pada Kamis (6/6) lalu.


Ajar menyebut, produk Co-Pilot milik Microsoft sebagai implementasi teknologi kecerdasan buatan telah memberikan nilai lebih bagi penggunanya.


Selain meningkatkan efisiensi, Co-Pilot juga ikut mendorong inovasi baru sehingga pengguna dapat memiliki waktu lebih untuk memikirkan hal-hal yang lebih strategis.


Teknologi kecerdasan buatan juga tak melulu dimanfaatkan oleh pekerja di bidang teknologi informasi. Ajar menyebut bahwa pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan juga telah menyentuh banyak bidang lain, mulai pemasaran, pendidikan, hingga pertanian.


Hal tersebut juga menjawab kekeliruan masyarakat yang menilai kecerdasan buatan sebagai satu teknologi yang kaku. Padahal, Ajar menjelaskan bahwa teknologi tersebut adalah kumpulan dari beragam aplikasi yang bisa diterapkan dalam banyak keperluan.


Lebih lanjut, Ajar juga menyampaikan bahwa pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan sebagai salah satu isu strategis yang perlu ditanggapi dengan lebih terbuka. Dari sisi ekonomi, pemanfaatan AI dapat meningkatkan Gross Domestic Production (GDP) sebuah negara hingga 20 kali lipat.


"Negara yang bisa memanfaatkan AI saat ini, dia bisa menjadi salah satu negara yang terkuat secara ekonomi di masa yang akan datang," jelasnya.


Ajar juga mengutip hasil riset yang mengatakan bahwa pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan memiliki perputaran ekonomi hingga US$330 juta pada 2030 kelak.


"Ada juga riset yang mengatakan [pemanfaatan teknologi AI] ada opportunity mengangkat US$243 juta production capacity di Indonesia," pungkasnya.


Seperti diketahui hadirnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dikhawatirkan bakal menggantikan peran manusia, baik di lapangan kerja maupun di ruang kreatif.


Anggapan itu muncul seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang tak hanya mampu merangkai kalimat, tapi juga dapat berkomunikasi secara alami dengan manusia, hingga mampu memproduksi gambar maupun video sesuai perintah atau prompt yang diberikan. (**)

SHARE:
Tags
beritaTerkait
Bupati Sergai Bantu Korban Puting Beliung di Perbaungan
Bupati Asahan Dipertimbangkan Jadi Cawagub Bobby Nasution
Strategi Polres Sergai Hindarkan Generasi Muda dari Geng Motor dan Balap Liar
Puluhan Jemaah Haji Meninggal, Menteri Agama Tunisia Dipecat
Revisi UU Polri, Hinca Panjaitan: Usia Pensiun Polisi 60 Tahun Masuk Akal
Satnarkoba Polres Sergai Amankan 2 Pria Terduga Pengedar Sabu di Kotarih
komentar
beritaTerbaru