Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 24 Mei 2026

Pupuk Subsidi Langka, Petani di Tapteng Khawatir Gagal Panen

Rosianna Anugerah Hutabarat - Minggu, 24 Mei 2026 20:24 WIB
194 view
Pupuk Subsidi Langka, Petani di Tapteng Khawatir Gagal Panen
Foto: harianSIB.com/Dok
Areal persawahan di Kecamatan Sibabangun, Tapteng.

Tapteng(harianSIB.com)

Petani di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Provinsi Sumatera Utara, kembali menyuarakan keluhan pelik yang dirasakan belakangan ini.

Pasalnya, pupuk bersubsidi yang menjadi kebutuhan utama dan penopang biaya tanam ratusan petani di wilayah Kecamatan Sibabangun, Tapteng, justru semakin sulit ditemukan.

Para petani mengaku telah mendatangi satu per satu kios pengecer maupun agen resmi penyalur di beberapa kecamatan namun hasilnya nihil. Stok pupuk kosong atau tidak tersedia sama sekali.

Baca Juga:
"Sudah seminggu ini kami cari ke mana‑mana, mulai dari agen sampai kios pengecer di desa‑desa, tapi jawabannya sama saja, tidak ada pupuk bersubsidi. Padahal sekarang waktunya kami menanam, kalau terlambat, panen nanti bisa mundur dan risiko gagal panen lebih besar," ucap Yahya Harahap warga Desa Mombang Boru kepada wartawan di Sibabangun, Minggu (24/5/2026).

Sebagai petani petani kecil, pria paruh baya ini mengaku dirinya sangat menggantungkan diri pada pupuk bersubsidi karena harga pupuk non‑subsidi harganya sudah sangat mahal, tidak terjangkau mereka.

Yahya menyebutkan, jenis pupuk yang paling langka adalah urea, NPK, dan SP-36. Jika pun ada yang tersedia dalam jumlah sangat terbatas, pembelian sering kali dibatasi kuota per orang, bahkan ada yang mensyaratkan harus memiliki Kartu Tani yang lengkap berkasnya.

"Masalahnya, tidak semua teman‑teman petani kami punya Kartu Tani atau terdaftar di e-RDKK. Akibatnya, kami yang belum terdata dipersulit, malah dibilang tidak berhak," katanya dengan nada kesal.

Diungkapkannya, pertumbuhan padi saat ini usia tanam sudah satu minggu hingga dua pekan belum mendapatkan pemupukan tahap pertama.

Kondisi ini dapat mempersulit fase awal yang krusial untuk pertumbuhan tanaman dan peningkatan jumlah anakan padi.

Sementara itu, Lobe Ansor Harahap selaku Ketua Gapoktan Desa Mombang Boru menilai situasi kelangkaan pupuk subsidi semakin memburuk sejak awal tahun 2025.

Fakta di lapangan memperlihatkan kontradiksi dengan kebijakan pemerintah yang sebenarnya telah menurunkan harga eceran tertinggi untuk pupuk bersubsidi.

"Tahun ini harga pupuk memang lebih murah karena subsidi ditambah pemerintah. Tapi barangnya justru sulit didapat. Itu lebih parah dari sebelumnya," sebutnya.

Para petani mengeluhkan ketiadaan pasokan yang membuat penurunan harga komoditas bersubsidi tersebut menjadi tidak krusial bagi kelangsungan produksi harian mereka.

Sesuai informasi yang dihimpun, pada 2024 harga pupuk bersubsidi jenis Urea tercatat sebesar Rp2.250 per kilogram atau Rp112.500 per karung isi 50 kilogram, sementara jenis NPK dijual seharga Rp2.300 per kilogram atau Rp115.000 per karung.

Pemerintah kemudian menurunkan harga tersebut mulai tahun 2025 menjadi Rp1.800 per kilogram untuk Urea atau sekitar Rp90.000 per karung isi 50 kilogram, sedangkan untuk jenis NPK menjadi Rp1.840 per kilogram atau sekitar Rp92.000 per karung.

"Untuk apa harga turun kalau pupuk tidak ada. Kami tidak tahu harus mengadu ke mana. kami berharap kepada Dinas pertanian Tapanuli Tengah, supaya lebih serius mengawasi pendistrbusia pupuk subsidi tersebut," ujar Lobe Ansor.

Dikonfirmasi ke Plt Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Tapanuli Tengah, Jinto Siburian, mengatakan, pihaknya akan melakukan penelusuran ke tingkat distributor dan kios kios resmi.

"kita akan cek ke lapangan, apa masalahnya kelangkaan pupuk tersebut," ucapnya, Minggu (24/5/2026) sore. (**)

Editor
: Donna Hutagalung
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Musim Hujan, Petani Diimbau Waspadai Penyakit Busuk Daun
Bupati Sergai Ajak Mahasiswa jadi Penggerak Smart Farming
Budidaya Bawang Bergairah di Saran Padang
Harga Cabai di Silimakuta Simalungun Berangsur Naik
Koptan Juma Bolon Sebut 5 Kendala Petani di Simalungun
Bupati Sergai Dorong Modernisasi Pertanian, Target 10 Ton Padi per Hektare
komentar
beritaTerbaru