Pdt Arlinton Nainggolan :

Aku Menyertai Kamu Senantiasa Mulut, Hati dan Pikiran Harus Disalibkan Agar Tidak Keluar Kata-kata Hoaks


141 view
(Foto: SIB/Horas Pasaribu)
FOTO BERSAMA: Pdt Arlinton Nainggolan STh, Pendeta GKPI Resort Medan Barat, foto bersama para pengurus gereja GKPI Siriwijaya, usai ibadah peringatan Jumat Agung Kematian Yesus Kristus, Jumat (2/4) di GKPI Siriwijaya, Medan.
Medan (SIB)
Orang Kristen adalah yang sudah disalibkan dan menyalibkan dirinya, artinya menerima Tuhan Yesus yang sudah disalibkan di bukit Golgota. Penyaliban Kristus adalah tanda keselamatan, karena setelah disalibkan dan bangkit kembali, dosa umat yang percaya sudah diampuni.

“Untuk itu, mulut, hati dan pikiran harus kita salibkan dulu, agar bertobat sehingga tidak keluar dari mulut kita kata-kata hoaks (berita palsu). Melainkan kata-kata membangun dan berkat. Melalui kematian Kristus, jadi berkatlah kita melalui perkataan dan perbuatan,” kata Pdt Arlinton Nainggolan STh, Pendeta GKPI Resort Medan Barat dalam khotbahnya pada perayaan Jumat Agung, Jumat (2/4) di gereja GKPI Sriwijaya, Medan.

Dikatakannya, jika ada kata-kata hoaks di media sosial, berarti hati dan pikiran orang tersebut belum disalibkan. Seperti yang tertulis dalam Roma 2:2 disebutkan: janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga dapat membedakan mana kehendak Allah apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

“Makanya, akal dan pikiran kita harus disalibkan dulu agar jangan melalui akal dan pikiran kita jadi menomor 10-kan Tuhan. Lewat penyaliban Yesus, kita harus bisa mengatasi ego, sehingga tangan bisa membantu orang lain,” terangnya.

Pada masa sebelum penyaliban Tuhan Yesus, kata Pdt Arlinton, penghapusan dosa harus melalui imam. Ada tirai pemisah antara manusia dengan Tuhan. Tapi lewat kematian Kristus, tirai itu terbelah, tidak ada lagi pemisah manusia dengan Tuhan, lewat Tuhan Yesus manusia bisa berdoa dan meminta pengampunan, bukan perantara pendeta.

Penyaliban itu menyamakan Yesus sebagai pelaku kejahatan paling tinggi. Sama seperti dua orang yang di kiri dan kanan Yesus, mereka menjalani hukuman karena melakukan kejahatan yang tertinggi. Tuhan Yesus disamakan dengan mereka.

Setelah Yesus menghembuskan nafas terakhir, bergemuruhlah bumi, terjadi gempa maha dahsyat. Tirai panjang pemisah ruang kudus di bait suci robek terbelah dua.

“Para serdadu kekaisaran Romawi langsung mengatakan, Yesus tidak bersalah, Yesus orang benar. Sementara orang-orang yang sempat mencemoh Yesus merasa menyesal melihat kejadian itu, mereka memukul-mukul dada sambil mengangkat tangan tanda menyesal. Marilah kita salibkan diri kita, mulut, hati dan pikiran, agar kita dipenuhi Roh Kudus dan tidak menyesal di kemudian hari,” tuturnya. (A8/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Tag:Mulut
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com