Berhikmat: Menjadi Berkat bukan Membabat (1 Raja 3:16-26)


175 view
Foto Dok/Pdt Dr. Victor Tinambunan, MST
Pdt Dr. Victor Tinambunan, MST
Kita tidak kekurangan orang yang pintar. Kita membutuhkan lebih banyak orang berhikmat. Dari 1 Raja-raja 3:16-26 kita dapat melihat sedikitnya tiga tipe manusia.

Tipe pertama, yang ingin memiliki tanpa mengasihi. Ia adalah salah satu perempuan yang disebut di sini yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa anaknya mati dan ia ingin memiliki milik orang lain. Hal ini nampak dari sikapnya yang tidak peduli pada anak tersebut jika dipenggal dengan pedang. Dia hanya ingin memiliki tetapi tidak mengasihi. Ia berkata: "Supaya jangan untukku ataupun untukmu, penggallah!" (ayat 26). Perempuan ini tidak menerima kenyataan yang terjadi pada dirinya. Padahal, bisa saja karena kelalaiannya ia menimpa anaknya pada malam hari itu juga.

Dalam bentuknya yang berbeda-beda, sikap dan perilaku seperti ini kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak menerima kenyataan dan ingin memiliki kepunyaan orang lain dengan berbagai cara. Hal ini menimbulkan persoalan kepada diri sendiri dan kepada orang lain, karena keinginan demikian amat deras menguras tenaga, pemikiran dan waktu. Godaan untuk memiliki milik orang lain kita hadapi tiap hari. Itu sebabnya banyak orang tidak berbahagia walaupun alasan untuk bersukacita dan berbahagia selalu terbuka setiap hari. Banyak orang tidak bahagia dalam hidupnya bukan karena tidak berkecukupan tetapi karena melihat orang lain memiliki lebih banyak dan ingin seperti itu.

Ketabahan dalam menghadapi situasi sulit, menghargai orang lain dan apa yang mereka punyai merupakan cara hidup yang berkenan kepada Tuhan. Sikap demikian juga membawa kebahagiaan dan kedamaian hati bagi diri sendiri dan orang lain juga.

Tipe kedua, yang mengasihi meskipun harus tidak memiliki. Yang penting anak itu hidup, meskipun akan pahit rasanya seandainya anaknya sendiri harus bersama orang lain. Ketika pedang diambil dan raja mengatakan bayi akan dipenggal, kita baca dalam ay. 26: "Maka kata perempuan yang empunya anak yang hidup itu kepada raja, sebab timbullah belas kasihannya terhadap anaknya itu, katanya: "Ya tuanku! Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia." Dikatakan, "sebab timbullah belas kasihannya kepada anak itu". Belas kasihan seperti inilah yang tidak dimiliki oleh perempuan yang satu lagi. Kita lihat betapa penting dan menentukannya 'kasih'dalam kehidupan.

Pelajaran yang lain yang dapat kita petik ialah kenyataan bahwa perempuaan ini tidak mau main hakim sendiri, tidak larut dalam pertengkaran, tetapi pergi kepada orang yang tepat untuk menyelesaikan masalahnya. Dalam kehidupan ini kita harus memusatkan perhatian pada 'penyelesaian masalah' bukan menambah masalah. Ada kalanya kita tidak dapat menyelesaikan masalah kita sendiri.

Dalam keadaan seperti ini, dengan memohon petunjuk Tuhan, kita mencari penyelesaian terbaik. Yang terpenting ialah selalu bertolak dari rasa cinta akan kehidupan.

Tipe ketiga, yang takut akan Allah, mengasihi manusia dan bertindak bijaksana. Itulah yang kita lihat dalam diri Raja Salomo. Sebelum peristiwa ini, ia sudah memohon 'hikmat' kepada Tuhan dan bukan yang lain. Allah mengindahkan permohonannya.

Salomo tidak mengatakan, "hei perempuan jalang, sudah perempuan jalang bertengkar lagi!". Benar bahwa perilaku kedua perempuan itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, tetapi sekarang bukan itu yang dipersoalkan. Raja berhadapan dengan masalah kejujuran dan kebenaran. Waktu itu belum ada teknologi kedokteran yang bisa membuktikan kepemilikan anak seperti yang ada sekarang ini dengan test DNA. Tetapi dengan hikmat Salomo, kebenaran tersingkap.

Allah yang memberikan hikmat kepada Salomo dulu, adalah Allah yang hidup dan memelihara kita hingga hari ini. Allah itu juga senantiasa siap sedia menganugerahkan hikmat kepada kita dalam menjalani hidup kita. Dengan demikian, setiap persoalan yang kita hadapi, kita dapat melihat kebenaran kehendak Tuhan untuk kebaikan kita dan kebaikan orang lain.

Kehadiran seseorang di tengah sebuah masalah sedikitnya ada tiga kategori: ideal, minimal dan fatal. Kehadiran yang ideal adalah kehadiran seseorang di tengah sebuah masalah memberi solusi atau jalan keluar terbaik. Salomo termasuk dalam kategori ideal, karena dengan hikmat yang dari Tuhan, ia memberi jalan keluar yang baik. Kehadiran seperti ini jugalah seharusnya kehadiran orang-orang percaya di tengah dunia yang penuh pergumulan ini. Kehadiran yang minimal adalah, kehadiran yang tidak memberi solusi tetapi juga tidak memperkeruh atau memperparah masalah. Biasa saja dalam situasi tertentu kehadiran kita masuk kategori ini. Di sinilah kita perlu memohon hikmat dari Tuhan. Kehadiran yang fatal adalah, kehadiran yang justru memperparah masalah. Kehadiran seperti inilah yang harus kita hindari. Orang-orang Kristen di sepanjang zaman membutuhkan hikmat dari Tuhan agar kehadirannya menjadi berkat. (d)