Bersorak Sorai Menyambut Kasih Setia Tuhan

(Mazmur 31:8-16)

162 view
Foto Dok
Pdt Dr Luhut P Hutajulu
Lirik lagu "Allah Peduli" ;Banyak perkara yang tak dapat kumengerti. Mengapakah harus terjadi di dalam kehidupan ini?. Satu perkara yang kusimpan dalam hati."Tiada satupun yang terjadi tanpa Allah peduli. Allah mengerti, Allah peduli, segala persoalan yang kita hadapi. Tak akan pernah dibiarkannya, kubergumul sendiri s'bab Allah mengerti . Banyak perkara yang tak dapat kumengerti. Mengapakah harus terjadi di dalam kehidupan ini. Satu perkara yang kusimpan dalam hati. Tiada satupun yang terjadi tanpa Allah peduli.Di dalam lirik lagu"Allah Peduli" ini nampak penderitaan sekaligus kesaksian kehadiran Allah di dalam pergumulan manusia.

Di dalam Mazmur 31 ini memperlihatkan bagaimana berat penderitaan yang dihadapi oleh pemazmur yang sampai membuat tubuh dan jiwanya merana. Tubuhnya semakin melemah karena tangisan dan duka yang berkepanjangan. Penderitaannya juga diperparah lagi ketika sikap teman-teman dan kenalannya seakan tidak pernah mengenalnya dan orang yang memusuhinya yang sudah siap untuk mencabut nyawanya. Maka pemazmur menggambarkan dirinya seperti barang yang pecah, yang hendak menggambarkan betapa hancurnya kehidupannya oleh karena tekanan penderitaan yang dihadapinya.

Apa yang bisa dilakukannya? Tubuh dan jiwanya yang sudah merana tidak akan mungkin dapat berbuat bagi dirinya sendiri. Dia juga tidak bisa mengandalkan orang lain, sebab teman dan kenalannya sendiri pun sudah tidak mau mendekat dan sudah menganggap dia tidak ada. Artinya jika mengandalkan kemampuannya maupun mengandalkan orang lain mustahil dia akan sanggup mengatasi pergumulannya yang berat itu.

Seandainya pemazmur ini adalah orang yang tidak beriman mungkin sudah sakit jiwa atau mungkin bunuh diri, tetapi karena dia adalah seorang yang beriman kepada Tuhan, andalan hidupnya hanyalah Tuhan. Pemazmur mengungkapkan dalam doanya bahwa hidupnya ada di tangan Tuhan bukan di tangan musuh-musuhnya.

Pemazmur memiliki keteguhan iman bahwa dia memiliki Allah yang penuh dengan kasih setia. Pemazmur percaya bahwa kasih setia Tuhan itu nyata, yaitu bahwa Tuhan menilik, memperhatikan dan menegakkannya dalam pergumulan yang sedang dihadapinya. Sehingga sekalipun pergumulannya itu terasa sangat berat, namun dia dapat bersorak sorai dan bersukacita karena imannya kepada Tuhan.

Saat kita hendak memasuki peringatan masa sengsara dan kematian Tuhan Yesus, Mazmur 31 ini menjadi perenungan yang sangat mendalam bagi kita. Apa yang dialami oleh pemazmur ini menggambarkan kesengsaraan kita yang dihancurkan oleh kuasa dosa. Tidak ada yang dapat kita perbuat untuk keselamatan diri kita, tidak ada yang dapat diperbuat oleh orang lain untuk menyelamatkan kita, sementara musuh kita si iblis sudah siap untuk menyerang kita. Dosa telah membuat tubuh dan jiwa kita merana, dosa yang mendatangkan duka, tangisan, kesakitan, kelemahan.

Tetapi, sama seperti pemazmur yang bersorak sorai dan bersukacita karena mengimani ada Tuhan yang penuh dengan kasih setia, demikian juga dengan kita diajak untuk bersorak sorai menyambut kasih setia Tuhan. Memasuki minggu Palmarum, kita mengingat Yesus yang memasuki Yerusalem yang disambut dengan sorak-sorai. Ketika Yesus memasuki Yerusalem ini artinya bahwa waktunya sudah dekat bahwa Yesus akan menghadapi penderitaanNya dan mati di kayu salib. Namun walaupun demikian, sukacita dan sorak-sorai orang-orang yang menyambutnya tidak dapat terbendung seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus "Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak" (Luk.19:40).

Merenungkan Mazmur 31 ini di minggu Palmarum, kita diarahkan untuk merenungkan sikap iman yang diperlihatkan oleh pemazmur. Dalam kesengsaraannya, pemazmur percaya bahwa Tuhan tidak akan diam, tetapi Tuhan peduli, mengerti dan memperhatikan dan Tuhan menegakkannya adalah karena kasih setia Tuhan. Inilah yang kita lihat saat Yesus akan memasuki Yerusalem, ini adalah bukti dari kasih setia Tuhan kepada kita, bahwa dalam kesengsaraan kita karena dosa, Tuhan datang menghampiri kita yang ada dalam penderitaan bahkan Dia yang datang untuk menanggung penderitaan kita dengan mengorbankan diriNya mati di kayu salib. Sehingga di dalam iman kita selayaknya bersorak sorai dan bersukacita menyambut keselamatan yang Tuhan bawa dalam hidup kita.Yesus mengetahui, bahwa jika Ia menyerahkan tubuh dan darah-Nya sebagai perjanjian baru (Luk.22:70) yang melayani manusia. Dengan kata lain, Yesus menyatakan kasih-setia Allah dalam penderitaan dan maut, melalui salib kuasa yang jahat dipatahkan, Yesus ditinggalkan dan orang banyak dibebaskan.

Maka firman Tuhan yang kita renungkan saat ini mengingatkan kita untuk selalu menyerahkan diri kepada Tuhan, sebab tidak ada yang bisa kita andalkan di dunia ini. Ketika kita sedang menghadapi beban hidup yang berat, tubuh dan jiwa kita dapat melemah, orang-orang dekat bisa menjauhi kita, namun Tuhan penuh dengan kasih setia, Dia menilik, memperhatikan apa yang sedang terjadi dalam hidup kita dan Tuhan akan bertindak untuk keselamatan kita, dan inilah yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus dalam hidup kita, bahwa kasih Tuhan itu nyata dan bekerja dalam hidup kita.

Renungan: Mungkin kita perah punya pengalaman hidup saat menghadapi pengumulan yang membuat tubuh dan pikiran kita tidak terkendali, tubuh kita lemah bukan karena mengerjakan pekerjaan yang berat, hati dan pikiran kita yang lelah yang selalu memikir-mikirkan masalah yang sedang terjadi. Tetapi Firman Tuhan hendak mengingatkan kita, siapa yang dapat kita andalkan? bukan pikiran kita, bukan kekuatan kita bukan juga orang lain, tetapi hanya Tuhan saja, sebab hidup kita ada ditanganNya, Dia yang berkuasa melepaskan kita dari beban hidup kita yang berat.(c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com