HKBP Menjadi Berkat di Tengah Aneka Tantangan


137 view
Foto Dok/Pdt. Dr Victor Tinambunan, MST
Pdt. Dr Victor Tinambunan, MST
Visi HKBP adalah “menjadi berkat bagi dunia”. Sebagai berkat, HKBP terpanggil untuk mewujudkan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan di tengah dunia yang tengah menghadapi aneka tantangan ini. Dari sekian tantangan yang menghadang kehidupan masa kini, di sini dapat disebut empat di antaranya di mana HKBP harus hadir sebagai berkat, bagian dari solusi bukan memperparah apalagi sumber masalah.

1. Menjadi Berkat di Tengah Masalah Krisis Ekologi
Salah satu acaman global terbesar saat ini adalah krisis ekologi. Kita tidak sedang berada di persimpangan jalan memilih kehidupan, tetapi sudah mendekati pada musibah maha dahsyat. Di Indonesia, krisis ini terutama disebabkan oleh penebangan hutan secara masif ; limbah industri, dan polusi kendaraan bermotor. Bencana demi bencana (banjir, tanah longsor, dll) sudah sering terjadi di Indonesia. Para ahli menyimpulkan bahwa kerusakan ini terjadi karena kesalahan dan keserakahan manusia. Pengajaran HKBP hendaknya menyertakan pembangunan spiritualitas Kristen yang mencakup pengakuan bahwa bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan (Mzm 24:1). Seluruh ciptaan adalah ‘subjek’ di hadapan Tuhan. Semua yang bernafas memuji Tuhan (Mzm 150:6).

Beberapa sumber menyebutkan kejuaraan Indonesia di tingkat dunia dalam proses penghancuran alam: Juara I sedunia dalam laju tercepat pengrusakan hutan. Juara II sedunia penghasil sampah plastik. Juara III sedunia pembuang emisi ke atmosfir. Juara IV sedunia perusak bumi. Bumi sedang menderita.

Sesungguhnya karakter Kristen mengandung kepekaan terhadap jeritan alam ini karena penderitaannya serta terlibat langsung dalam merawat alam ciptaan Tuhan. Karakter Kristen berkaitan dengan tugas merawat alam ciptaan Tuhan. Orang Kristen memiliki tugas “Lima R”: Repent, Reduce, Reuse, Recycle, Replant. Repent (pertobatan) dari: mentalitas subjek-objek terhadap ciptaan Tuhan, gaya hidup konsumerisme, perilaku menerabas dan eksploitatif, pengesampingan tema ini dalam kurikulum dan ibadah. Reduce (mengurangi): penggunaan enerji listrik, BBM, air, sampah. Reuse (penggunaan ulang): kertas bekas, dll. Recycle (daur ulang): organik dan anorganik. Replant (penanaman ulang): pohon-pohon di hutan, kompleks hunian, pinggir jalan, lingkungan sekolah dan kampus pendidikan Kristen dan sebagainya.

2. Menjadi Berkat dengan Mengatasi Dampak Negatif ITE
Sesungguhnya perkembangan Informasai dan Transaksi Elektronik dan semua turunannya membawa begitu banyak kemudahan. Perkembangan ini adalah anugerah Tuhan yang harus disambut dengan sukacita, pengucapan syukur dan tanggung jawab. Tetapi tidak dapat dipungkiri juga bahwa kemajuan ini membawa aneka dampak negatif secara khusus karena kurang pengendalian diri, di antaranya: kecanduan, menyebarnya hoax dan ujaran kebencian, menambah ketegangan dan ketidakstabilan emosi, menyuburkan konsumerisme: keinginan mengalahkan kebutuhan, maraknya penipuan dan kekerasan, hilangnya minat baca anak-anak sekolah, munculnya penyakit baru “Game Disorder” dan sebagainya.

HKBP menjadi berkat dalam kemajauan ini dapat diwujudkan dengan menciptakan aplikasi-aplikasi yang menolong warga jemaat bertumbuh secara spiritual dengan tersedianya renungan harian dan sejenisnya dalam bentuk digital. HKBP juga dapat menyediakan aplikasi untuk mempromosikan produk-produk warga jemaatnya untuk kesejahteraan dalam hal jasmani.

Dalam hal penggunaan media sosial, pelayan dan warga HKBP haruslah menampakkan ketaatan kepada Tuhan dan dalam rangka membangun persekutuan. Amat menyedihkan menyaksikan pengguna media sosial yang justru memicu perselisihan, menghakimi, merendahkan, menghujat, membully dan sejenisnya. Inilah kesempatan emas bagi pelayan dan warga HKBP menjadi berkat melalui kemajuan ITE dengan menghadirkan teks, audio, video yang mencerahkan, meneguhkan hati, membawa kesejukan dan menyemangati dalam menjalani kehidupan.

3. Menjadi Berkat di Tengah Tumbuhnya Radikalisme
Setiap hari Indonesia disuguhi berita ancaman radikalisme yang sudah merasuk ke hampir semua sendi-sendi kehidupan bangsa. Tak dapat dipungkiri bahwa masalah kemiskinan dan ketidakadilan termasuk sebagai faktor penyebab lahir dan bertumbuh-kembangnya radikalisme di Indonesia. Wali Kota Surabaya, Risma, dalam ceramahnya di STT HKBP baru-baru ini mengungkapkan adanya warga Surabaya yang bergabung ke ISIS karena faktor kemiskinan.

Dalam hal ini HKBP perlu menyelaraskan pembangunan gedung gereja dan gedung lain dengan pembangunan hubungan harmonis dengan sesama warga bangsa dan mempraktekkan solidaritas dengan mereka yang miskin dan menderita. Pembangunan fisik atau gedung yang tidak didasarkan atas iman dan ketaatan kepada Tuhan hanyalah pengulangan pembangunan menara Babel dalam bentuk lain. Kemegahan gedung harus disertai dengan ketangguhan iman dan kepedulian terhadap sesama yang menderita.

Donald B. Kraybill dengan sangat tepat menjelaskan kedatangan dan misi Yesus yang juga menjadi acuan bagi HKBP untuk solider dengan orang-orang miskin dan tertindas: “Yesus juga menyatakan bahwa Ia ada di tengah-tengah orang tertindas. Akan tetapi, Yesus menolak pilihan untuk hidup hanya dari roti saja. Memberi makan dengan ajaib adalah pemecahan jangka pendek. Untuk menghindari penyelesaian kilat dan sementara itu, Yesus menawarkan alternatif yang baru. Hidup-Nya, jalan-Nya, pengajaran-Nya akan menjadi dasar hidup yang baru. Bila orang memakan roti yang baru itu, itu akan mengisinya dengan semangat dan visi yang baru. Mereka yang telah diberkati dengan roti yang berlebihan akan mulai membagikannya dalam cara-cara yang baru. Pranata-pranata sosial ekonomi masyarakat akan kehilangan kuasanya. Orang kaya yang menerima roti kekal itu dengana cuma-cuma akan membagikan roti duniawinya. Inilah cara memberikan makan kepada mereka yang lapar, bukan dengan revolusi menciptakan roti ajaib. Mereka yang berkelimpahan karena digerakkan oleh belas kasih Allah, berhenti menumpuk harta dan sebaliknya akan membagi dengan murah hati.”

4. Menjadi Berkat di tengah maraknya “Jual-beli Kematian”
Manusia terkesan sangat boros untuk yang merusak kehidupan tetapi sangat kikir untuk yang membangun kehidupan. Globalisasi memberi ruang yang lebih leluasa bagi para “pedagang kematian” (meminjam istilah Paus Paulus Yohannes II untuk para penjaja narkoba) dengan terbuka dan beranekaragamnya pintu msuk satu wilayah ke wilayah lainnya. Hal yang sama kita alami di Indonesia, di mana tak ada satu kota pun di Indonesia yang tidak dimasuki oleh narkoba. Ada jutaan pengguna narkoba dan kerugian ekonomi triliunan rupah tiap tahun karena narkoba. Demikian halnya dengan rokok. Urutan pengeluaran rumah tangga Indonesia adalah: (1) Membeli beras dan padi-padian. (2) Membeli rokok. (3) Membeli lauk-pauk. Artinya, Indonesia lebih boros untuk membeli penderitaan dan kematian ketimbang yang membangun kehidupan.

Sudah saatnya HKBP lebih serius ambil bagian memerangi NAPZA, tidak saja dalam ujaran dan ajaran tetapi terutama dalam aksi konkrit. Sudah saatnya lebih banyak jemaat-jemaat HKBP yang Gedung gerejanya bebas rokok. Para pelayan gereja memberi keteladanan bebas rokok kepada warga jemaat.

Presiden Barack Obama pernah berkata, “Perubahan tidak akan pernah datang jika kita hanya menunggu seseorang yang lain, atau suatu waktu nanti. Kita adalah orang-orang yang kita tunggu. Kita adalah perubahan yang kita cari.” Dalam artian tertentu hal ini berlaku bagi HKBP. Sejauh ini terlihat bahwa ungkapan “luas kekristenan beribu kilometer tapi kedalamannya hanya beberapa sentimeter” mencerminkan HKBP. Di sinilah transformasi itu sebagai sebuah keharusan.

Tuhan Yesus Kristus mengundang umatnya, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” (Yoh. 15:4). Udangan ini juga berlaku bagi HKBP pada hari ini. Hanya dengan tinggal di dalam Kristus pembaharuan gereja dapat berlangsung seturut kehendak Dia Sang Pemilik HKBP.

Keadaan demikian pulalah yang mengubah kecenderungan “memanfaatkan Tuhan” menjadi “dipakai oleh Tuhan” dalam misiNya di dunia ini, dari memanfaatkan Tuhan untuk kerajaan kita, menjadi bersedia dipakai oleh Tuhan dalam mewujudkan misi kerajaanNya. (c)
Penulis
: Redaksi