Kasih Tuhan Memberi Semangat Hidup

(Yesaya 57:16)

215 view
Foto Dok/Pdt Dr Pahala J Simanjuntak
Pdt Dr Pahala J Simanjuntak
Siapakah orangtua yang tidak sayang kepada anak-anaknya? Tentu tidak ada bukan. Sejengkel apapun si anak di hadapan orangtuanya pasti mendapat perhatian dan rasa sayang dari orangtuanya.Namun rasa sayang tersebut terungkap dalam berbagai bentuk. Bukan hanya ketika si anak membutuhkan sesuatu dari orang tuanya atau sebaliknya orangtua yang selalu memberikan apa saja yang diminta anaknya tanpa ada pertimbangan. Tetapi rasa sayang orangtua terhadap anaknya jauh lebih dari sebuah pemberian akan kebutuhan anak. Bahkan orangtua dapat menolak permintaan si anak suatu saat. Orangtua yang mengasihi anaknya harus berani memberikan teguran dan peringatan bahkan hukuman agar si anak menyadari kesalahan yang diperbuatnya. Menegor dan mengatakan bahwa yang salah itu salah, bukan membiarkan begitu saja sehingga kesalahan si anak merajalela.

Alkitab mengajarkan kita akan kasih Allah kepada manusia di sepanjang zaman. Sejak pemilihan nenek moyang Israel hingga kita saat ini dan berlangsung kepada hari-hari yang akan datang.Kitab Mazmur menulis: "Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikianlah Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia (Mazmur 103:13). Namun kasih sayang yang bagaimana yang digambarkan oleh Alkitab? Kasih Allah itu harus dilihat dari dua sisi yang berbeda. Allah mengasihi manusia melalui perbuatan-perbuatan baik-Nya, pemeliharaan-Nya dan memberi kita nafas kehidupan. Tetapi disi lain Allah mengasihi kita melalui teguran, murka dan ujian yang sangat berat untuk kita hadapi. Namun bukan berarti Allah membenci atau menghukum kita melalui ujian atau teguran itu. Justru perhatian Allah sangat tinggi kepada kita bila kita diberi teguran melalui cara Allah sendiri.

Firman Tuhan dari Yesaya 56: 16 berkata: "Sebab bukan untuk selamanya Aku hendak berbantah, dan bukan untuk seterusnya Aku hendak murka, supaya semangat mereka jangan lemah lesu di hadapan-Ku, pada hal Akulah yang membuat nafas kehidupan." Teks ini menghibur dan menguatkan umat Allah ketika mereka mengalami pergumulan yang sangat berat ketika mereka kembali dari Babilonia menuju kota Yerusalem yang lama mereka tinggalkan.Seolah-olah mereka kehilangan harga diri dan tidak memiliki jaminan hidup. Pada hal sebagai umat Allah mereka telah mengalami indahnya kasih Tuhan selama ini. Memang mereka merasa sedih karena selama ini mereka ditawan di negeri Babel dan akhirnya keluar dari pembuangan itu. Bagi Allah itu hanya sesaat saja dan tidak selamanya karena Allah sungguh-sungguh mengasihi mereka (Yes. 54:7).

Pertama, masa pembuangan itu tidak boleh dianggap sebagai murka atau hukuman Allah semata, itu hanya peringatan saja. Allah tidak murka selama-lamanya tapi membenci beberapa perbuatan mereka yang menyimpang dari kehendak Allah. Murka Allah adalah bahagian dari kasih Allah yang tidak lepas dari sifat Allah sendiri. Kedua, kehidupan mereka pasti akan jauh lebih baik dari kehidupan yang akan mereka terima di kemudian hari. Oleh sebab itu semangat mereka tidak boleh lemah lesu menghadapi masa depan.
Memang ketika mereka ditindas oleh bangsa lain, mereka merasa ditinggalkan Allah dan dihukum oleh Allah. Pada hal Allah tidak menghukum mereka bahkan kasih Allah melebihi penderitaan yang mereka alami. Ketiga, Allah pemberi kehidupan kepada umat-Nya di sepanjang waktu. Maka mereka dituntut untuk memiliki hidup yang berkeyakinan dan berpengharapan yang kuat kepada Tuhan. Jangan memiliki semangat yang lemah lesu, rapuh, goyah di hadapan Tuhan.Sebab orang yang kehilangan semangat akan sulit bangkit dan berkembang. Dia tidak lagi dapat berpikir dengan baik dan cepat.

Kita adalah anak-anak Tuhan yang selalu menerima belas kasihan dari Allah. Kasih Allah itulah yang selalu menyemangati hidup kita sepanjang hari. Sehingga kita kuat dan berpengharapan.Tanpa kasih Allah kita akan binasa dan tidak memiliki arti hidup. Di sepanjang sejarah Allah tetap menunjukkan kasih-Nya kepada umat pilihan-Nya sekalipun ada saja pergumulan yang dihadapinya. Suka dan duka dipakai-Nya untuk kebaikan kita.

Semangat hidup hanya bersumber dari diri Yesus Kristus yang menjadi anak Allah yang datang ke dunia ini. Yesus Kristus mewujudnyatakan kasih Allah kepada kita orang berdosa sehingga kita boleh selamat.Maka kekuatan kita adalah di dalam Yesus yang memberi kehidupan dan semangat hidup. Orang yang kehilangan semangat ibarat kapal yang kehilangan kompas tidak tahu arah dan tujuannya. Atau ibarat jarum jam yang kehabisan baterai, selalu terlambat menunjukkan waktu. Demikianlah manusia kalau sudah kehilangan semangat dia akan lambat berpikir apalagi dalam bertindak. Maka firman Allah mengingatkan kita untuk tetap memiliki semangat hidup yang menyala-nyala. Semangat adalah bahagian dari iman dan kekuatan roh di dalam diri kita. Orang yang memiliki semangat hidup akan tetap bertahan dan pantang menyerah sekalipun menghadapi banyak pergumulan dan penderitaan.

Gereja hadir memberi kekuatan kepada warga jemaatnya yang kehilangan semangat dan pegangan hidup. Sebab banyak di antara warga jemaat merasa ditinggalkan Tuhan bahkan mendapat hukuman dari Allah. Kalau dia miskin, sakit dan gagal atau tidak beruntung. Pada hal kita masih mempunyai banyak kesempatan untuk meraih kesuksesan asal kita memiliki semangat hidup yang bersumber dari Allah. Rasul Paulus berkata: "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan (Roma 12:11)”. Amin. (c)