Menyongsong Sinode Agung HKBP 2020:

Mengawal Keutuhan dan Kedamaian HKBP


501 view
Foto Dok/Pdt Banner Siburian MTh
Pdt Banner Siburian MTh (Praeses HKBP Distrik XIX Bekasi)
Bila tidak ada aral melintang, sejatinya Sinode Agung HKBP akan digelar pada tanggal 19-25 Oktober 2020 mendatang. Namun, aral melintang itu ternyata ada, yakni pandemi Covid-19. Oleh Ephorus HKBP, jadwal Sinode Agung tersebutpun ditunda menjadi tanggal 9-13 Desember 2020. Semua kita tanpa kecuali, tentu merindukan kiranya wabah ini cepat berlalu dari kita, dari gereja, bangsa kita Indonesia bahkan dari dunia ini.

Penundaan ini ternyata membawa dinamika yang beragam, baik di kalangan para pendeta, majelis dan warga jemaat. Semoga tidak ada lagi penompang gelap dalam dinamika tersebut, dengan jadwal semula atau ditunda. Kita semua, pastilah akan belajar dari sejarah. Mengulang sejarah kelam, sengaja atau tidak, sadar atau tidak, tentu akan menjadi sebuah legacy buruk dalam perjalanan kehidupan kita di dunia ini. Keledai saja, tidak akan mau terjerumus ke jurang yang sama untuk kedua kalinya.

Di satu sisi, kalau jadwal awal tersebut tetap dilangsungkan, maka segala proses yang harus ditempuh dan dipersiapkan pun tentulah memiliki kendala yang cukup besar dan sangat terlambat. Di sisi lain, bila jadwal penundaan tersebut pun diteruskan, tanpa melalui mekanisme aturan gerejawi HKBP atau karena legal standing yang lemah, misalnya belum melalui rapat yang berkompeten untuk itu serta dengan petimbangan politis lainnya, tentu hal ini pun pastilah sangat riskan dan beresiko. Ibarat buah simalakama, maju atau mundur, keduanya pun beresiko.

Dilema seperti ini pernah dialami HKBP, meski dengan konteks yang berbeda. Kala itu, Sinode Agung akan digelar tanggal 13-19 September 2004. Pemilihan umum legislatif sebelumnya telah terselenggara tanggal 5 April 2004. Pemilihan Presiden dan wakil Presiden putaran pertama telah usai digelar tanggal 5 Juli 2004. Lalu putaran kedua dijadwalkan bulan September 2004, bersamaan dengan tanggal Sinode Agung. Penjadwalan awal Sinode Agung, memang mengasumsikan pemilihan Presiden dan wakil Presiden cukup dengan sekali putaran. Ternyata hasilnya berbeda. Peta politik bergeser. Suhu politik pun memanas.

Bila Sinode Agung 2004 dipercepat, dikuatirkan Sinode Agung akan diperpolitisir atau ditunggangi oleh mereka yang memiliki kepentingan, termasuk mereka yang tidak menginginkan kondisi bangsa ini aman dan kondusif. Bila Sinode Agung ditunda, kegiatan dalam skala Nasional dan Internasional jadinya tidak dapat diikuti oleh fungsionaris baru, padahal keikutsertaan mereka sangat relevan untuk membekali diri dalam perspektif HKBP ke depan, dalam perspektif gerakan Oikumenis dalam dan luar negeri, termasuk dalam berhadapan dengan pemerintah.

Konteksnya memang beda, namun bukan tidak mungkin impac dan dampaknya bisa kurang lebih sama. Dalam konteks kini, casualnya memang terutama adalah pandemic Covid-19, meski bukan mustahil Covid-ini pun bisa dipolitisir sesuai dengan kepentingan dari mereka yang memiliki kepentingan untuk itu. Sekarang ini memang, apapun bisa di-covidkan. Bukan hanya jenazah, tetapi juga hal-hal lainnya. Namun, kita merindukan dan berdoa dengan sungguh-sungguh, kiranya gereja HKBP sebagai tubuh Kristus, jangan sampai dicovidkan oleh siapa saja atau pihak mana saja.

Apapun alasannya, diteruskan atau ditunda, yang terpenting adalah legitimasi dan legal standing serta mekanisme pengambilan keputusannya sesuai dengan domain yang ada. Di satu sisi, Ephorus misalnya tidak lagi menjadi sasaran tembak secara perseorangan yang secara simultan bisa menggerus wajah HKBP, tetapi di sisi lain, amanat konstitusi juga terkawal dengan baik. Di satu sisi, otoritas pelayan tidak bergeser menjadi arogansi kekuasaan yang sewenang-wenang, dan di sisi lain, kemerdekaan yang ada pun tidak menjadi liar dan destruktif.

Sementara itu, Sinode Agung HKBP 1998 adalah tonggak rekonsiliasi baru bagi HKBP. Rekonsiliasi tersebut kini telah berumur kurang lebih 22 tahun. Setiap kita menyelenggarakan Sinode pasca 1998, momentum itu adalah kairos yang amat berharga bagi kita untuk senantiasa mengingat dan merenung ulang, bahwa dalam Sinode Reskonsiliasi 1998 tersebut kita telah berjanji di hadapan Tuhan untuk komit bersama-sama memacu derap langkah pelayanan. Sinode tersebut kita jadikan sebagai tonggak demokrasi gerejawi dalam arak-arakan untuk penginjilan global.

Sinode tersebut pun menjadi starting way bagi kita semua dalam menancapkan kesepakatan luhur untuk bersatu dan menyatu. Tuhan memanggil kita semua untuk mendahulukan kasih Kritus di atas segala kepentingan, pola pikir atau cara pandang. Dominasi beberapa orang person adalah bahaya laten yang mesti disingkirkan jauh-jauh. Kita menyatukan missi bahwa gereja mesti berada di garis depan.

Globalisasi menuntut kita semua lebih interaktif dan partisipatif satu sama lain. Konvergensi (persilangan) antar potensi akan memperkokoh komitmen pelayanan, dalam rangka mendahulukan kehendak Tuhan ketimbang mempertahankan kepentingan individu atau kelompok. Tanpa kebersama-samaan yang tulus, ke depan kita akan seperti Dinosaurus yang keberadaannya hilang ditelan zaman, atau seperti kegagahan kerajaan Sriwijaya, yang tinggal sejarah hilang ditelan dahsyatnya arus globalisasi. Iklim global memaksa kita merangkul lawan sebagai partner (bnd. 1 Sam 25:14-35). Segala ikatan soliter haruslah kita buang dan singkirkan.

Dalam bingkai perspektif itu, Sinode Agung HKBP 2020 menjadi kairos yang amat mahal bagi kita guna memperkokoh dan mempertahankan HKBP dengan segenap iman dan dengan sekuat tenaga. Sinode ini mestinya kita pandang dan isi sebagai tugas missioner untuk membangun bersama persekutuan yang tulus dan sejati menuju transformasi yang lebih baik. Namun, teologi transformatif yang selama ini kita geluti dan agungkan, haruslah tetap dilakoni juga dalam bingkai teologi yang partisipatif.

Sesama pelayan mutlak kita lihat sebagai sesama, mitra dan Imago Dei; bukan saingan apalagi musuh. Sebagai sesama mitra, marilah berkarya lebih sungguh, agar produktif bagi semua pihak, terutama produktif bagi pekerjaan Tuhan Sang Pengutus. Sebagai mitra, kita membuka mata untuk mampu melihat dan mengakui kemajuan orang lain, sekaligus membuka hati untuk memajukan orang lain (bnd. Pil 3:14), demi kemajuan bersama, terutama demi kemajuan Firman Tuhan di dunia ini.


Sinode Agung HKBP 2020 mestinya kita maknai menjadi kesembuhan bagi semua, baik secara internal maupun eksternal. Dalam kenosis Yesus, kita harus dengan rendah hati mengakui berbagai kelemahan dan kekurangan kita, baik para pemimpin HKBP (termasuk saya), para pendeta dan pelayan lainnya. Semoga para warga jemaat dan setiap orang yang mencintai HKBP, tetap cinta HKBP, dan tidak akan pernah merasa beroleh musibah dari HKBP, dengan segala pergulatan imannya di tengah-tengah dunia ini. Kiranya hegemoni kekuasaan, dari dalam maupun dari luar, tidak akan pernah lagi mempan melakukan pembusukan di dan ke HKBP.

Marilah kita semua mengharamkan diri untuk kembali berkonflik dan berupaya menghindari design diri sebagai pintu masuk untuk berkonflik. Demikianlah kita menjadi bagian dari ekklesiologi yang melekat dalam diri dan tindakan kita. Sejarah akan menilai, apakah HKBP semakin terbuka kepada masa depan bersama Tuhan. Kata orang bijak: " A Crisis is a turning point to be better or to be worst". Marilah kita semua hidup dan dihidupi oleh damai Kristus (Yoh 15:4-5, 14-16; Yehz 37:1; 2 Kor 5:18-20) !(a)