Segala yang Bernafas Memuji Tuhan (Mazmur 150:1-6)


2.731 view
Segala yang Bernafas Memuji Tuhan (Mazmur 150:1-6)
Foto Istimewa
 Pdt Dr Pahala J Simanjuntak
Mazmur 150:1-6 mengingatkan kita untuk selalu memuji Allah dan menjadi salah salah satu kewajiban umat percaya. Betapa pentingnya memuji Tuhan. Menurut pemazmur adapun alasan manusia memuji Tuhan adalah karena kekudusan, keperkasaan dan kebesaran-Nya (ay.1-2). Allah tidak terbatas kepada ruang dan dimensi, tidak terbatas pada waktu tetapi Dia hadir dimana-mana. Melampaui segala akal dan pikiran manusia.Dia adalah Allah di atas segala allah, Raja di atas segala raja, Tuhan di atas segala tuhan.

Semua agama pasti mengajarkan pemujian kepada Tuhan yang disembahnya. Tidak ada satupun agama atau kepercayaan yang tidak mengajarkan kepada pemeluknya memuji Tuhan. Baik sebagai pemimpin agama maupun sebagai pemeluk agama melakukan hal yang satu ini. Sebab pemujian itu merupakan salah satu bentuk pengakuan iman, sambutan positif, pengenalan dan kasih kepada Allah yang sesungguhnya. Dia kita kenal sebagai Allah yang Maha Hadir (omni present), Maha Kuasa (omni potent) dan Maha Tahu (omni science) di sepanjang sejarah dunia ini. Oleh ketiga hal inilah semua yang bernafas memuji dan memuliakan Allah (ay.6).

Teks khotbah ini cukup menarik untuk direnungkan. Pertama, diawali dan diakhiri dengan kata "Haleluya." Perkataan ini hanya disampaikan kepada Tuhan atas pekerjaan-Nya yang ajaib. Allah adalah pencipta dan pemilik segala ciptaan. Melalui ciptaan-Nya, Dia menyatakan diri-Nya kepada dunia. Kedua, setiap ayat dari Mazmur 150 ini disertai dengan kata "pujilah”. Kata ini merupakan seruan atau perintah untuk mengakui dan menyaksikan Tuhan. Pujian yang kita sampaikan kepada Tuhan tidak sama dengan pujian yang kita sampaikan kepada manusia. Tetapi pujian itu benar-benar lahir dari pengalaman pribadi atas perbuatan Allah sendiri dalam hidup kita. MemujiTuhan pun dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, seperti bernyanyi, berdoa, bersaksi, dan memberikan persembahan ucapan syukur. Memuji Tuhan bukan hanya ketika kita senang dan mendapat berkat yang banyak, tetapi dalam keadaan apapun.

Ketiga, dalam perikop ini dikatakan, memuji Tuhan dengan berbagai alat musik seperti sangkakala, gambus, kecapi seruling dan lain-lain (ay. 4-5).Ternyata alat-alat musik baik tradisional maupun modern merupakan sarana untuk memuji Tuhan. Semua alat musik dijadikan untuk memuji Allah. Ditemukannya jenis-jenis alat musik menjadi sarana memuji Tuhan, bukan hanya sebagai alat hiburan atau kebutuhan entertainment. Bagi kalangan orang Batak misalnya, dahulu gondang sabangunan (baca: gendang dan perangkatnya) dianggap sebagai pemujaan kepada dewa, roh atau ilah nenek moyang leluhur atau yang disebut 'ompu mulajadi nabolon' (OMN). Tetapi setelah kekristenan hadir di tanah Batak gondang tersebut dipakai di gereja dan kegiatan kerohanian untuk memuji Tuhan hingga saat ini. Demikian juga dengan gitar, awalnya banyak orang terkesan negatif mendengar suara gitar di gereja. Masih dianggap seperti orang yang bernyanyi-nyanyi di kedai tuak hingga mabuk. Namun akhirnya alat musik ini digunakan juga memuji Tuhan di berbagai acara gereja baik muda maupun tua. Demikianlah dengan alat musik yang lain yang dimiliki oleh daerah masing-masing yang ada di dunia ini dapat digunakan memuji Tuhan. Maka kita sungguh bersyukur kepada Tuhan karena kita memiliki banyak cara untuk memujiNya termasuk dengan alat-alat musik.Namun jangan menghakimi kalau ibadah tidak menggunakan alat musik kita anggap tidak memuji Tuhan. Dengan musik atau tanpa musik kita boleh memuji Tuhan.

Nyanyian baru bagi Tuhan
Minggu ini kita telah tiba pada di Minggu Kantate (Italia: Cantata), artinya nyanyikanlah nyanyian baru bagi Tuhan. Tentu melalui Minggu Kantate ini masih mengingatkan akan peristiwa kebangkitan Yesus Kristus (Paskah) yang membawa kehidupan baru. Dia adalah anak Allah yang menjembatani kasih Allah kepada kita. Dulunya kita jauh dari Allah (transenden) karena dosa dan pelanggaran kita, tetapi melalui Yesus Kristus kita menjadi dekat, terhubung dengan Allah (imanen, Imanuel).

Selanjutnya nyanyian baru yang dimaksud adalah ucapan syukur dan kesaksian kita kepada Allah yang mengaruniakan anak-Nya menjadi juruselamat kita. Nyanyian baru bukan hanya suara yang merdu, indah dan kata-kata yang tersusun rapi, tetapi pengakuan dan rasa terimakasih kita yang tetap baru, tulus, jujur dan bukan basa-basi. Selain itu nyanyian baru juga merupakan kehidupan kita yang nyata. Menolong sesama dan peduli kepada orang lain yang mengalami penderitaan atau musibah. Sehingga orang lain ikut memuji Tuhan melalui perbuatan kita.

Maka ketika semua agama dan kepercayaan di dunia ini melakukan pemujian kepada Allah-Nya, itu berarti kasih dan solidaritas harus terbangun dan bertumbuh.Komunikasi vertikal terhadap Tuhan dan komunikasi horizontal kepada sesama manusia itulah bagian pemujian yang sesungguhnya. Sebagai orang Kristen di Indonesia, kita tidak menyaksikan saudara-saudara kita umat Muslim sedang melaksanakan ibadah puasa. Tentu kita mendukung dan menghargai mereka sebagai sesama warga negara sekalipun berbeda agama. Sehingga dalam menjalankan ibadah puasa tersebut mereka tidak terganggu karena kita melakukan tindakan yang membuat mereka tersinggung. Pokoknya saling mengasihi dan saling menghormati dengan sesama manusia. Itu sebabnya rasul Paulus berkata: "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing (1 Kor. 13:1). Maka puji-pujian kita adalah hidup kita yang harum, indah di hadapan Tuhan. Sama seperti suara dan irama musik yang terdengar dengan indah membuat hati kita senang dan gembira.

Dengan demikian tepatlah topik khotbah hari ini, seluruh yang bernafas memuji Tuhan. Baik manusia maupun ciptaan lainnya turut memuji Tuhan. Pertanyaannya, bagaimana supaya seluruh yang bernafas memuji Tuhan? Rawat dan peliharalah bumi milik Tuhan. Itulah sebabnya Yesus berpesan kepada murid-Nya: Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahluk (Mark. 16:15). Memelihara dan merawat ciptaan juga merupakan bagian dari pemberitaan Injil. Selamat Hari Minggu! Amin. (d)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com