Semakin Seperti Yeshua

* Oleh Ev Panogari Panggabean SH, M.Si (Jemaat GKPI Sidorame Medan

105 view
THINKSTOCK
Ilustrasi
Setelah tiba jam keenam, terjadilah kegelapan atas seluruh tanah itu sampai jam kesembilan. Dan pada jam kesembilan, berserulah Yeshua dengan suara nyaring, seraya berkata, “Eloi, Eloi lama sabhaktani,” yang bila diterjemahkan berarti Elohim-ku, Elohim-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”. Dan tabir tempat suci terkoyak menjadi dua dari atas sampai ke bawah. Dan perwira yang sedang berdiri di hadapan-Nya, setelah melihat bahwa Dia menyerahkan Roh-Nya dengan berteriak seperti itu, berkatalah dia, “Sungguh, Orang ini adalah Putra Elohim!”. Demikian laporan Rasul Markus yang tertulis di dalam Markus 15:33-34, 37-39.

Sementara itu Rasul Matius di dalam Matius 27:51-52 melaporkan: Dan lihatlah, tabir di tempat suci terbelah menjadi dua dari atas sampai ke bawah, dan bumi terguncang, dan bukit-bukit terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka, dan banyak tubuh orang-orang kudus yang sudah meninggal dibangkitkan. Kedua nats tersebut dikutip dari Kitab Suci Indonesian Literal Translation edisi-3.
Luar biasa reportase kedua rasul ini atas kematian seorang anak manusia. Tidak pernah ada kematian anak manusia sampai sehebat reportase tersebut. Dalam segala hal Dia harus disamakan dengan manusia (Ibrani 2:17). Apakah ini reportase fiktif? Benarkah demikian?

Sepanjang sejarah dunia, tidak ada buku yang menulis kejadian, peristiwa dan fakta selengkap kitab suci orang Kristen yang memuat tentang awal penciptaan bumi dan segala isinya, penciptaan manusia Adam dan Hawa sampai kepada nubuatan kedatangan seorang juru selamat manusia yang akan dilahirkan oleh seorang dara (Yesaya 7:14) ribuan tahun sebelumnya dan kemudian direalisasikan pada awal tahun masehi sesuai yang tertulis di dalam Matius 1:21.

Sampai sekarang, sangat sulit membantah kebenaran-kebenaran yang termuat di dalam kitab suci tersebut baik kitab suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, karena mengandung fakta-fakta kebenaran. Secara khusus tentang keberadaan jejak Yeshua, fakta-faktanya lengkap di berbagai kawasan yang ada di Israel, mulai dari Betlehem kota kelahiran-Nya, Nazareth tempat Dia dibesarkan, tempat-tempat di mana Ia pernah mengajar sampai tempat Dia disalibkan dan dikuburkan, semuanya terpelihara dengan baik. Pada suatu kesempatan Hari Raya Paskah tahun 2005 penulis berkesempatan dan merasa beruntung bisa menyaksikan berbagai tempat bersejarah tersebut. Pada intinya, semua yang ditulis di dalam kitab suci adalah fakta dan tak terbantahkan hingga hari ini.

Kalau kita merayakan Jumat Agung, tentu tak sekedar ikut seremoni dan kemudian berlalu begitu saja seperti hari-hari yang lain. Sebab Jumat Agung memiliki makna khusus dalam setiap kehidupan orang, karena Dia mati di kayu salib bukan hanya untuk Kristiani, tetapi bagi seluruh umat manusia.

Pesan apakah yang bisa kita ambil dari perayaan Jumat Agung dan kebangkitan-Nya, agar terutama hidup ini tidak sia-sia menjadi murid dan pengikut Yeshua.

Pertama, mari kita menyadari betapa mahalnya dan agungnya pengorbanan Yeshua, yang rela menebus dosa seluruh umat manusia. Sebab tanpa ada pengorbanan penebusan tersebut, seluruh umat manusia meluncur masuk ke dalam neraka. Untuk itu setiap orang harus berubah dan bertobat, agar dirinya yang berkodrat dosa bisa menjadi berkodrat ilahi.

Kedua, setiap orang harus bisa menyadari dengan tulus, bahwa dirinya sudah ditebus dan dengan demikian mestinya menjadi milik penebusnya. Sang penebus bisa memperlakukan orang tebusannya menurut kehendaknya dan itu legal. Tetapi Bapa Elohim Yahweh Yang Maha Kasih dan Maha Agung, tidak memaksa setiap umat yang ditebus-Nya untuk mengikut Dia, dan bahkan Dia ingin tak seorang pun yang binasa melainkan beroleh hidup yang kekal seperti tertulis di dalam Yohanes 3:16. Untuk itu, setiap orang harus melakukan kehendak-Nya, jika tidak kelak akan diusir dari hadapan-Nya (Matius 7:21-23).

Kalau Guru kita telah mengajarkan dan memberi contoh rela kehilangan nyawa, kita juga harus rela kehilangan “nyawa” sebelum mengalami kematian yang sesungguhnya. Di dalam Galatia 5:24-25 rasul Paulus menulis, orang-orang yang telah ditebus Yeshua itu harus menyalibkan daging bersama nafsu-nafsu dan hasrat-hasratnya dan harus hidup di dalam pimpinan roh Kudus. Menyalibkan di sini dimaksudkan adalah membunuh semua keinginan, hawa nafsu yang tidak sesuai dengan keinginan Tuhan.

Sedangkan di dalam Roma 8:12-17 Rasul Paulus menegaskan, kita ini adalah orang-orang yang berhutang, oleh karena itu kita wajib membayarnya dengan cara hidup menurut Roh Kudus. Jika kita hidup menurut roh Kudus, kita wajib memusnahkan semua keinginan kita yang tak sesuai dengan keinginan-Nya. Kita hanya melakukan yang menyenangkan-Nya. Kita senang kalau Dia senang. Selama ini kita bersenang-senang, tetapi hati Tuhan terlukai oleh berbagai perbuatan kita, karena tak sesuai kehendakNya.

Hanya orang-orang yang hidup selaras dengan pimpinan Roh Kudus yang berhak menjadi anak-anak Elohim dan sekaligus menjadi ahli waris Kerajaan Sorga. Hanya orang yang hidup selaras dengan pimpinan Roh Kuduslah yang hidupnya semakin hari semakin seperti Yeshua, itulah yang diinginkan Bapa di sorga. Hidup seperti Yeshua adalah standard yang diinginkan Elohim Yahweh. Itulah sebabnya di dalam Roma 8:17 Rasul Paulus menegaskan, sebagai anak-anak dan benar-benar ahli waris Elohim, dan sesama pewaris dengan HaMashiakh (Kristus), orang-orang yang hidup semakin serupa dengan Yeshua, akan dipermuliakan bersama Kristus, karena mereka telah menderita untuk mencapai prestasi tersebut. Selamat Merayakan Jumat Agung dan Merayakan Paskah. (d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com