Satresnarkoba Ungkap Peredaran Gelap Ribuan Butir Psikotropika di Rantauprapat dan Labusel


401 view
Foto: Dok/Satresnarkoba
PSIKOTROPIKA: Kasat Reserse Narkoba Polres Labuhanbatu AKP Martualesi Sitepu, didampingi penyidik pembantu memperlihatkan 4 tersangka dan 2.391 butir obat-obatan mengandung psikotropika yang diungkap tim Satresnarkoba sejak Rabu lalu hingga Senin (27/7/2020) sore, di kantor Satresnarkoba, Jalan MH Thamrin Rantauprapat. 
Rantauprapat (SIB)
Satuan Reserse Narkoba Polres Labuhanbatu mengungkap peredaran gelap obat-obatan mengandung psikotropika di Kabupaten Labuhanbatu dan Labuhanbatu Selatan. Ada 2.391 butir pil terlarang disita dari 3 lokasi berbeda di 2 daerah itu. Tim polisi juga menangkap orang-orang yang tidak memiliki izin dalam peredaran obat-obatan rumah sakit itu, sejak Rabu lalu hinggu Senin (27/7/2020) sore.

"Empat tersangka yang terlibat dalam peredaran gelap psikotropika itu ditangkap dan telah ditahan di Satresnarkoba Polres Labuhanbatu," kata Kapolres Labuhanbatu melalui Kasat Reserse Narkoba AKP Martualesi Sitepu, didampingi Kanit Idik I Ipda Sarwedi Manurung dalam rilis pers kepada SIB lewat WhatsApp, Senin (27/7/2020) malam.

Tersangka yang telah ditangkap, sebut Kasat Resnarkoba Martualesi Sitepu, yaitu MR alias Ridho (24), pekerjaan swasta, diringkus dari Hotel Nuansa Rantauprapat, Rabu 22 Juli 2020. Dari tersangka diamankan barang bukti 21 butir pil Riklona (Klonazepam), psikotropika golongan 4 nomor urut 30.

"Dari Ridho berkembang ke tersangka ES alias Eko (23), pekerjaan pegawai honorer RSUD Kotapinang, dan ditangkap 22 Juli 2020 di depan RSUD Kotapinang Kabupaten Labuhanbatu Selatan, setelah dipancing under cover buy. Dari tersangka ini disita barang bukti 50 butir pil Riklona (Klonazepam)," ungkapnya.

Kasus kepemilikan psikotropika MRE dan ES, kemudian dikembangkan dan tim menangkap wanita SDM SFarm (27), juga tenaga honorer (apoteker pendamping) di RSUD Kotapinang.

"Dari tersangka apoteker pendamping itu disita barang bukti 2.240 butir obat Atarax (Alprazolam) yang merupakan psikotropika golongan 4 nomor urut 2, dan 40 butir obat Riklona (Klonazepam) psikotropika golongan 4 nomor urut 30. Tersangka ditangkap 22 Juli 2020 dari rumahnya di komplek perumahan AA Residen Kotapinang," sebutnya.

Hasil pengembangan dari tersangka MRE dan ES, tim Idik I Satnarkoba juga berhasil menangkap ASH (26), juga tenaga honorer di RSUD Kotapinang, Labuhanbatu Selatan (Labusel).

"ASH yang bekerja pada bagian Anastesi RSU milik Pemkab Labuhanbatu Selatan itu ditangkap Senin, 27 Juli 2020, sekira pukul 16:00 WIB, saat berada di rumah mertuanya di Jalan Lintas Cikampak-Riau. ASH berperan menghubungkan ES dengan SDM SFarm yang menyediakan obat psikropika," ungkap Kasat.

Total barang bukti psikotropika yang disita dari keempat tersangka sebanyak 2.391 butir. Obat Atarax yang merupakan psikotropika golongan 4 dengan sebutan Alprazolam nomor urut 2 pada Permenkes RI No.3 tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Psikotropika, 2.280 butir dan 111 butir obat Riklona serta ratusan butir obat keras lainnya.

Dari hasil penyidikan, peredaran obat ini sudah berlangsung lebih setahun dengan modus membeli dari penyedia obat 1 strip (10 butir) seharga Rp 100.000 dan dijual kepada konsumen Rp50.000/butir atau 1 strip Rp500.000.

Para tersangka dipersangkakan melanggar pasal 60 ayat 3 dan 4 Undang-Undang nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika juncto Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Psikotropika, dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

"Terhadap kasus ini masih dilakukan penyelidikan (pengemvangan) kenapa obat-obatan dari RSU pemerintah daerah itu bisa beredar bebas tanpa ada resep dokter ataupun izin terhadap 4 tersangka," ujarnya. (*)

Penulis
: Efran Simanjuntak
Editor
: donna@hariansib.com
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com