Sengketa Lahan dengan PTPN II

Seratusan Warga Deliserdang Jalan Kaki ke Istana Negara Nginap di Labusel


758 view
Seratusan Warga Deliserdang Jalan Kaki ke Istana Negara Nginap di Labusel
SIB/ Rudi Afandi Simbolon.
Beristirahat: Petani asal Kabupaten Deliserdang yang melakukan aksi jalan kaki menuju Istana Negara beristirahat dan bermalam di Gedung SB3 Bukit Kotapinang, Minggu (5/7/2020) sore.
Kotapinang (SIB)
Seratusan petani asal Desa Simalingkar A dan Desa Sei Mencirim, Kabupaten Deliserdang, yang melakukan protes dengan cara jalan kaki menuju Istana Negara di Jakarta, singgah dan menginap di gedung SB3 Bukit Kotapinang, Kabupaten Labusel.

Mereka mengharapkan agar tuntutan terkait sengketa lahan yang dituding diserobot PTPN2 dipenuhi.

Pengamatan SIB, massa yang berjumlah 170 orang itu, tiba di Gedung SB3 Kotapinang, Minggu (5/7/2020), sekira pukul 19.00 WIB. Peserta aksi memilih bermalam di gedung tersebut, sebelum melanjutkan aksi jalan kaki menuju Istana Negara.

Secara umum kondisi massa terlihat sehat dan baik-baik saja. Hanya saja, sebagian tampak kelelahan dan kakinya mengalami lecet-lecet, karena sudah berjalan selama 350 Km yang ditempuh selama 12 hari.

"Kondisi massa sehat-sehat saja, hanya banyak yang kakinya lecet-lecet, makanya kami istirahat hari ini di Gedung SB3 Kotapinang. Lagian sore ini rencananya kami akan konferensi jarak jauh dengan Wakil Menteri Agraria terkait tuntutan kami," kata Koordinator Aksi, Aris Wiyono.

Lebih lanjut Aris mengatakan, jika hari ini tidak ada titik temu komunikasi dengan Wakil Menteri Agraria, para petani tetap akan melanjutkan perjalanan menuju Istana Negara di Jakarta.

Dikatakan, aksi tersebut dilakukan untuk meminta keadilan kepada Presiden Joko Widodo terkait penderitaan yang sedang mereka alami, mengenai penggusuran paksa yang dilakukan PTPN2 atas lahan dan pemukiman mereka.

"Konflik ini sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 70-an, namun penggusuran terakhir dilakukan pada Maret tahun 2020 ini, yang mana banyak di antaranya yang sudah punya Sertifikat Hak Milik (SHM) pun ikut digusur,"katanya.

Lebih lanjut dikatakan, penggusuran secara paksa tersebut, merupakan tindakan semena-mena yang berdampak luas kepada ribuan jiwa penduduk di kedua desa tersebut.

"Itulah makanya kami rela, berjalan kaki untuk mengadukan nasib kami kepada Presiden," katanya. Dia pun mengharapkan dukungan semua pihak terkait kasus tersebut. (*)
Penulis
: Rudi Afandi Simbolon
Editor
: wilfred@hariansib.com/donna@hariansib.com
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com