KY 2010-2015 Menutup Tugas dengan Mengadili Hakim Pengintip Celana Dalam


500 view
Jakarta (SIB)- Komisi Yudisial (KY) dan Mahkamah Agung (MA) memberikan sanksi bagi Ketua Pengadilan Agama (KPA), Kuala Tungkal, Jambi, Erwin Efendi karena intip celana dalam bawahannya. Sidang ini menjadi penutup masa tugas komisioner KY periode 2010-2015.

Kasus Erwin Efendi ialah kasus terakhir para Komisioner KY di bawah kepemimpinan Suparman Marzuki yang dibawa ke majelis kehormatan hakim (MKH). 7 Komisioner KY jilid II ini akan purna tugas pada 20 Desember 2015.

"Ya, ini (kasus Erwin) adalah kasus terakhir kami yang kami bawa ke MKH. Dan hasilnya cukup bagus yaitu berupa sanksi berat dengan non palu (skorsing) 7 bulan," ujar komisioner KY, Imam Anshori Saleh, saat dikonfirmasi, Kamis (19/11/2015).

Selama menjadi komisioner KY sejak tahun 2010 sampai 2015, Imam mengatakan, proses MKH yang dilakukan oleh KY dan MA cukup baik. Para hakim yang dibawa ke MKH tidak pernah lolos dari sanksi.

"Proses MKH kita cukup baik dengan MA. Semua yang kita bawa ke MKH tidak ada yang lolos dari sanksi. Rata-rata diberi sanksi berat," ucap Imam.

Namun Imam tak menepis adanya kekurangan dalam proses kerjasama dengan MA soal MKH. Imam dan kawan-kawan yang rencananya akan pensiun pada bulan depan ini juga berharap proses kerjasama antara MA-KY dalam MKH lebih baik lagi.

"Masih ada rekomendasi KY yang belum dilaksanakan MKH karena dari pihak MA belum mau menindaklanjuti," imbuhnya.

Ke depan, dia berharap ada aturan yang mempertegas agar rekomendasi KY untuk menjalankan MKH bisa dipatuhi oleh MA.

"Kita berharap ke depan ada aturan yang lebih jelas untuk mengatur tentang rekomendasi KY harus dilaksanakan MKH oleh MA. Saat ini sudah ada aturan tersebut tapi kurang tegas," pungkas Imam.

Di masa KY generasi kedua, beberapa MKH telah dilakukan. Tak jarang hasil MKH memecat para hakim yang melanggar kode etik dan pedoman perilaku hakim. Kasus hakim Erwin juga menambah daftar panjang para hakim yang melakukan tindak asusila.

Berikut rangkuman detikcom soal hakim detikcom yang terjerembab nafsu birahi dalam kurun waktu 2014-2015:

19 Mei 2015, hakim Herman Fadhililah A Daulay asal PN Sibolga juga dipecat. Namun hukuman kepada hakim Herman masih manusiawi karena dia tetap mendapat hak pensiun. Selain perbuatan zinah, Herman juga terbukti berpesta narkoba.

Maret 2014, dua hakim yaitu Elsadela asal PN Tebo dan Mastuhi asal Pengadilan Agama (PA) Tebo juga dipecat. Mereka dipecat karena ketahuan berhubungan badan di ruang sidang. Tindakan itu tergolong mencoreng dunia peradilan. Ruang sidang yang harusnya mulia dijadikan tempat cabul oleh 2 hakim yang dirundung nafsu birahi itu.

2 Februari  2014, hakim Reza Latuconsina juga diberi hukuman karena melakukan tindak asusila. Hakim  asal PN Ternate ini diskrosing 2 tahun karena kepergok selingkuh.

Yang paling heboh adalah hakim cantik Vica Natalia asal PN Jombang. Hakim yang juga mantan pramugari ini dipecat karena melakukan selingkuh dengan pejabat negara.

Tentunya kasus-kasus asusila ini menambah daftar hitam para hakim. Selain asusila, ada juga para hakim yang melanggar kode etik karena menerima uang suap hingga narkoba.(detikcom/h)
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com