IPW: Sistem Pengamanan Mabes Polri Lemah


149 view
MI/Susanto
Ketua Presidium Indonesian Police Watch Neta S Pane
Jakarta (SIB)
Masuknya teroris dan beraksi di dalam lingkungan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia merupakan pukulan telak yang sangat memalukan. Ini membuktikan sistem pengamanan di Mabes Polri lemah dan harus dievaluasi.

"Tapi hingga kini tidak ada tindakan tegas dari Mabes Polri tentang siapa pejabat kepolisian yang bertanggungjawab terhadap bobolnya sistem pengamanan Mabes Polri," ujar Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane dalam keterangan tertulisnya yang diterima SIB di Jakarta, Sabtu (3/4).

Menurut Neta, sampai tiga hari pasca serangan teroris di Mabes Polri, belum ada satu pun aparatur dan pejabat kepolisian yang ditindak sebagai pihak yang bertanggungjawab atas kecerobohan hingga teroris bisa masuk ke Mabes Polri.

Lebih jauh Neta mengatakan, lolosnya teroris ke jantung markas besar Polri tak terlepas dari kecerobohan jajaran kepolisian dalam menjaga sistem keamanan di markas besarnya. Ia mengatakan sistem keamanan yang dibangun di Mabes Polri harus dievaluasi. Termasuk konsistensi dalam menerapkan protokol keamanan yang ada. "Kemungkinan petugas penjaga cenderung ceroboh. Sehingga teroris terbiarkan masuk dan melakukan serangan dari dalam," tegas Neta.

“Apa yang terjadi di Mabes Polri itu harus dimaknai sebagai pukulan telak buat Kapolri Sigit yang baru menjabat. Di saat Sigit sibuk konsolidasi ke berbagai eksternal Kepolisian, markas besarnya justru kebobolan diserang teroris dari dalam. Ironisnya hingga kini tidak ada tindakan tegas yang dilakukan Kapolri terhadap bobolnya sistem keamanan Mabes Polri itu. Terbukti hingga kini tidak ada satu pun aparaturnya yang ditindak. Siapa pejabat Polri yang harus bertanggungjawab atas bobolnya sistem keamanan Mabes Polri itu pun menjadi tidak jelas. Seolah kebobolan markas besar Polri itu dari serangan teroris adalah hal biasa saja,” katanya.

Dengan terjadinya serangan teroris di Mabes Polri itu, kata Neta lagi, akan dapat membuat publik menjadi krisis kepercayaan terhadap Kepolisian.

"Publik akan bertanya, bagaimana polisi bisa menjaga dan melindungi masyarakat dari serangan teroris wong menjaga markas besarnya saja tidak mampu. Sebab itu Polri perlu mengonsolidasikan diri dan menindak aparaturnya yang ceroboh agar kepercayaan publik tetap terbangun pada Polri," jelas Neta. (BR8/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com