Plus Minus Perpres Investasi Miras dalam Prospek Bisnis Kuliner Daerah

Minuman Tuak Masih Produksi dan Butuh Proteksi


464 view
Minuman Tuak Masih Produksi dan Butuh Proteksi
Foto Dok
Eddin Sihaloho dan Raya Timbul Manurung
Medan (SIB)
Pasca penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang investasi minuman keras (miras) dan minuman mengandung alkohol seperti anggur atau bir dan lainnya, respon pro-kontra publik masih tampak marak setelah Presiden Jokowi mencabut kembali lampiran Perpres yang memuat hal-hal teknis dalam investasi tersebut.

Praktisi bisnis pariwisata Sumut Eddin Sihaloho selaku pengelola hotel dan restoran di Samosir, dan konsultan jasa investasi Ir Raya Timbul Manurung MSc selaku pemerhati produksi dan distribusi kuliner khas Batak (tuak atau arak), secara terpisah meyebutkan plus minus yang terjadi akibat pencabutan (lampiran) pasca penerbitan Perpres investasi miras itu adalah fenomena faktual sosial ekonomi bahwa sejumlah produk kuliner khas daerah sangat butuh proteksi karena memang masih terus berproduksi sebagai konsumsi rutin masyarakat tradisional.

"Terlepas dari dampak akibat tingkat konsumsinya bagi masyarakat, pemerintah selama ini pasti sudah tahu kalau produk tuak atau arak Batak yang terbuat dari air nira atau aren itu sudah menjadi menu tradisi yang wajib bahkan mutlak tersedia dalam berbagai acara sosial budaya dan adat, yang selalu dihadiri kalangan pejabat, seperti halnya tradisi serupa di Bali, Manado, NTT dan Papua. Lalu, program dan kebijakan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI Sandiaga Uno untuk pengembangan ekonomi kreatif UKM berbasis nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom), kan harus diwujudkan," ujar Eddin Sihaloho kepada pers di Medan, Kamis (4/3).

Bersama rekannya sesama pengurus inti Komite Independen Batak (KIB) Captain R Tagor Aruan, Eddin mengutarakan hal itu di sela-sela acara diskusi interaktif (FGD) tentang Ekonomi UKM Kreatif Kawasan Pariwisata Danau Toba (KPDT), usai pelantikan pengurus DPW Komite Masyarakat Danau Toba (KMDT) Sumut, di aula utama Royal Room Hotel Danau Toba Medan.

Mereka mengungkapkan, produksi minuman tuak atau sari aren sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi, telah mendorong pemerintah Provinsi Sumut melalui Dinas Perkebunan (Disbun) membuat kebijakan pengolahan dan pengembangan Unit Hasil Hutan (UHH) pada 2018 lalu (di masa Kadisbun Ir Herawati). Bahkan, pada 2019 para petani aren di Karo, Langkat, Tobasa (kini kabupaten Toba) memperoleh bantuan mesin pengolah sari aren untuk pembuatan air minum nira (tuak atau arak), gula kristal yang disebut gula semut atau gula tuala di Karo (istilah petani aren).

"Beberapa daerah tertentu memang memproduksi minuman tuak secara tradisional dan manual mulai sistem menderes (marragat) hingga penyajian di pasar atau warung-warung (lapo tuak). Tapi untuk produksi sari aren dan gula semut, para petani aren di sejumlah daerah juga memperoleh bantuan bibit aren. Ini kan menunjukkan bahwa Pemda menyadari tanaman aren itu sangat potensial. Masalah petani mau menjadikannya produk minuman tuak atau sari nira dan gula semut, itu kan tergantung pasar dan kebutuhan konsumennya," ujar Eddin serius.

Hal senada juga dicetuskan Raya Timbul Manurung yang juga pengurus Badan Pariwisata Daerah (Bawisda) Sumut, bahwa minuman tuak sebagai kuliner khas Batak di Sumut (Karo, Toba, Simalungun, Deliserdang dan lainnya) perlu diproteksi atau legalisasi dengan penerbitan Perpres baru. Selain karena merupakan sumber ekonomi berbasis pelestarian alam (vegetasi), juga karena tuak sudah terbukti higienis dengan proses pencampuran (fermentasi) bahan tambahan seperti air rendaman beras ketan, sari ragi gula aren yang kemudian mengandung alkohol atau karbondioksida yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

"Secara produk, tuak mirip dengan minuman kuliner khas di sejumlah negara seperti sake di Jepang, sato di Thailand, makgeolli di Korea, mi jiu di China, tapuy di Filipina atau tuo nifaro di Nias dan arak di Jawa. Ada catatan ahli herbal bahwa kandungan alkohol pada tuak bervariasi 5-15 persen, tergantung kualitas mulai rasa asam, legit (pahit/paet) atau manis (tonggi). Kalau soal alasan mudarat atau risiko mabuk dan semacamnya, itu kan tergantung kendali dan volume minum si konsumen. Minum air putih atau susu dan syrup berlebihan pun bisa membahayakan," ujar Raya Timbul sambil mengakui sedang ikut minum tuak hanya dalam acara atau pesta adat, bukan karena kecanduan (martiap ari) di warung lissoi atau lapo-lapo. (A05/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com