Tokoh Agama di Papua Tolak Eksploitasi Isu SARA, Cegah Terorisme Berkembang


170 view
(Foto: Dok/Detikcom)
Cegah terorisme, tokoh lintas agama di Papua sepakat menolak segala bentuk eksploitasi SARA, Sabtu (3/4). 
Papua (SIB)
Tokoh lintas agama di Papua berkumpul untuk membahas kondisi terkini Indonesia, di mana terjadi dua serangan teroris di Gereja Katedral Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Mabes Polri, Jakarta sepekan terakhir. Mereka sepakat menolak segala bentuk eksploitasi isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) untuk mencegah terorisme berkembang di Bumi Cenderawasih.

"Kami forum kerukunan umat beragama (FKUB) Provinsi Papua, bersama seluruh komponen masyarakat Papua, menyatakan sikap atas tragedi serangan terorisme bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dan aksi penyerangan di Mabes Polri," kata para tokoh lintas agama di Sentani, Kabupaten Jayapura, dikutip dari keterangan tertulis Bidang Humas Polda Papua, Sabtu (3/4).

"Kami mengutuk keras dan mengecam setiap aksi terorisme bom bunuh diri tersebut," seru para tokoh lintas agama.

Dalam pernyataan sikap juga disebutkan mereka mengimbau dan mengajak seluruh elemen masyarakat di Papua untuk tetap tenang dan mempercayakan sepenuhnya penanganan teroris pada aparat kepolisian. Mereka sepakat turut berpartisipasi merawat kerukunan antaragama untuk mengecilkan ruang bagi paham terorisme berkembang.

"Kami mengajak seluruh komponen masyarakat dan umat beragama di Provinsi Papua untuk menolak segala bentuk eksploitasi isu SARA, intoleransi, radikalisme dan terorisme agar terorisme dan radikalisme tidak berkembang di Indonesia," ucap mereka.

Para tokoh lintas agama di Papua ini juga mendesak Pemerintah menindak tegas aliran-aliran agama yang bertentangan dengan nilai Pancasila dan UUD 1945.

Dalam acara ini, hadir Wakapolda Papua Brigjen Eko Rudi Sudarto, Komandan Landasan Udara (Lanud) Silas Papare Marsma TNI Budhi Achmadi dan jajarannya. Sementara tokoh agama yang hadir Ketua Forum Kerukunan Umat Beraga (FKUB) Pendeta Lifius Biniluk Ketua MUI Papua Kiai Haji Syaiful Islam Al Payage dan tokoh agama lainnya.

"Ini salah satu implementasi program prioritas Kapolri yang membawa Polri menuju Presisi, yakni transformasi operasional poin 1 tentang pemantapan kinerja pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat," tutur Eko.

Eko kemudian menjelaskan perkembangan penanganan kedua aksi teror, baik di Makassar maupun Jakarta, kepada para tokoh lintas agama. Eko meminta dukungan para tokoh agama untuk membantu Polri memerangi bibit-bibit teroris.

"Secara umum Kapolri telah resmi memberi release terkait aksi terorisme yang di Makassar dan Mabes Polri, dari analisa peristiwa itu pelaku bisa disebut lone wolf atau serigala sendiri, artinya moment tunggal yang tidak terkait manapun," tutur Eko.

"Saya atas nama pimpinan Polri dan khususnya Polda Papua memohon dukungan dan kerja sama semua tokoh agar sama-sama bisa memerangi bibit-bibit radikalisme," pinta Eko kepada para tokoh agama.

Eko juga menyampaikan arahan khusus Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk menenangkan masyarakat pascateror di Makassar dan Mabes Polri. "Kami mendapat brive khusus dari Kapolri yang esensinya kelompok itu akan tumbuh terus, tapi tidak perlu khawatir karena jaringan tersebut telah dimapping atau secara kuat oleh kami," ujar Eko.

Sementara Budhi mengakui aparat TNI-Polri membutuhkan bantuan para tokoh agama. Dia mengatakan ajaran Islam di Indonesia bersifat toleransi antarumat.

"Kita semua memerlukan tokoh agama dan masyarakat. Tidak ada satu agama di dunia ini yang ingin di sangkutpautkan dengan tindak kekerasan dan terorisme. Islam asli Indonesia adalah islam yang dapat berkolaborasi dengan umat lain. Mari kita jaga kerukunan Islam yang asli Indonesia karena mulai luntur," tutup Budhi. (detikcom/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com