87 Orang Tewas Akibat Perang Antarsuku di Sudan


140 view
Foto: AFP/TONY KARUMBA)
Iustrasi (Aktivitas latihan bersenjata di Sudan
Darfur (SIB)
Perang antarsuku yang telah berlangsung selama 5 hari di wilayah Darfur Barat, Sudan telah menewaskan sekitar 87 orang. Sementara itu, ribuan orang lari untuk menyelamatkan diri dari pertempuran itu.

"Komite telah mencatat jumlah korban terbaru. Total 87 tewas dan 191 luka-luka," kata Komite Dokter Darfur Barat, seperti dilansir, Kamis (8/4).

Perang antara Massalit dan komunitas Arab pecah pada hari Sabtu lalu. Akibatnya ribuan orang melarikan diri. Beberapa melarikan diri ke negara tetangga Chad, hal itu disampaikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Penduduk El Geneina dan PBB telah melaporkan hari-hari pertempuran termasuk tembak-menembak. Perang itu mengakibatkan pembangkit listrik hancur, ambulans diserang dan granat berpeluncur roket menghantam Rumah Sakit utama Sultan Tajeldin.

Rumah sakit lain juga rusak dalam pertempuran itu. Komite dokter menyebut aksi itu "perilaku biadab yang tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apapun,".

PBB mengatakan hal ini adalah wabah terbaru di antara masyarakat sejak Januari, yang telah memaksa lebih dari 100.000 orang meninggalkan rumah mereka. Pemerintah Sudan pada Senin mengumumkan keadaan darurat dan mengerahkan pasukan ke Darfur Barat.

PBB telah menangguhkan penerbangan dan operasi bantuan ke kota itu, pusat utama bantuan kemanusiaan. Keputusan penangguhan itu sebuah keputusan yang menurut badan dunia itu akan mempengaruhi lebih dari 700.000 orang.

Pada hari Selasa, PBB memperingatkan bahwa "kekerasan antar-komunitas semakin memperburuk situasi yang sudah mengerikan bagi orang-orang yang rentan,"

Wilayah Darfur dilanda perang saudara yang meletus pada tahun 2003 lalu, menyebabkan sekitar 300.000 orang tewas dan 2,5 juta orang mengungsi, menurut data PBB.

Perang itu terjadi ketika pemberontak etnis minoritas bangkit melawan pemerintah yang didominasi Arab diktator Omar al-Bashir.

Khartoum membalas dengan melepaskan milisi terkenal yang didominasi Arab yang dikenal sebagai Janjaweed, yang direkrut dari suku-suku nomaden di kawasan itu.

Konflik telah mereda selama bertahun-tahun, dan serangkaian kesepakatan perdamaian terbaru telah disepakati pada bulan Oktober. Tetapi setelah konflik bertahun-tahun, wilayah tersebut dibanjiri dengan senjata otomatis dan bentrokan masih meletus.

Penduduk yang lama mengungsi selama tahun-tahun terburuk perang, saat mereka kembali orang lain telah menempati tanah mereka.

Sudan berada di tengah-tengah transisi yang sulit menyusul penggulingan presiden lama Omar al-Bashir pada April 2019, menyusul protes massa terhadap pemerintahannya.

Pemerintah transisi telah mendorong untuk membangun perdamaian dengan kelompok pemberontak di zona konflik utama Sudan, termasuk Darfur. Al-Bashir dicari oleh Pengadilan Kriminal Internasional atas tuduhan genosida selama konflik Darfur. (Detikcom/a)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Tag:Sudan
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com