Biden Dilantik Sebagai Presiden AS 20 Januari, Mendag: Angin Segar Bagi RI


86 view
Reuters
Joe Biden secara nasional memperoleh 78 juta suara, lima juta lebih banyak dari perolehan Donald Trump. 
Jakarta (SIB)
Joe Biden akan dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) pada 20 Januari mendatang. Setelah itu, maka pemerintahan AS akan mengalami pergeseran dari Partai Republik ke Partai Demokrat.

Pergeseran pemerintahan AS yang sebelumnya dipimpin Presiden Donald Trump dan kini Joe Biden tentunya punya dampak tersendiri bagi Indonesia yang memiliki hubungan dagang dengan negara tersebut. Menurut Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi, pemerintahan Joe Biden ini akan membawa angin segar kepada Indonesia.

Ia menjelaskan, Biden punya agenda yang cukup berbeda dengan Trump. Pertama, pemerintahan Biden akan fokus pada permasalahan perubahan iklim dan kembali mengikuti ketentuan di Paris Agreement,

"Beliau (Biden) mengatakan bahwa Amerika Serikat akan kembali mengikuti Paris Agreement untuk masalah climate change. Berarti beliau akan berbicara yang selama ini AS tidak mengikuti Paris Agreement dan climate change, akan kembali ke climate change," kata Lutfi dalam konferensi pers virtual, Senin (11/1).

Kedua, AS juga akan kembali mengutamakan perjanjian dagang internasional yang mencakup beberapa negara atau multilateral.

"Sejak zaman Presiden Trump kemarin beliau lebih banyak bilateralism. Jadi antara satu negara dengan negara lain memutuskan termasuk perjanjian dagang dan keamanan. Jadi ini adalah sesuatu yang baru dalam 3 tahun berikut bahwa beliau akan kembali ke sana," imbuh mantan Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk AS tersebut.

"Apakah mereka akan masuk ke dalam Trans-Pacific Partnership (TPP) agreement? Menurut hemat saya, ongkosnya terlalu besar secara politik. Tetapi bahwa mekanisme multilateralism terutama WTO menurut hemat kami akan menjadi ajang utama bagi AS," sambung Lutfi.

Dari situlah ia menilai pemerintahan Biden akan membawa angin segar bagi Indonesia. Pasalnya, perjanjian dagang multilateral akan mengutamakan keadilan di antara negara-negara pesertanya, dan membuka peluang bagi Indonesia yang sedang melakukan transformasi perdagangan ke arah produk yang memiliki nilai tambah.

"Oleh sebab itu, Indonesia sebagai negara yang ingin mengikuti pasar-pasar besar ini, akan mengikuti tren-tren tersebut. Dan saya membayangkan bahwa kita memang dalam transformasi menjadi negara yang mengekspor barang industri, dan barang industri berteknologi tinggi, ini akan menjadi angin segar bagi Indonesia. Karena multilateralism itu menjanjikan sesuatu yang adil dan baik bagi pertumbuhan terutama perjanjian dagang," pungkasnya. (detikfinance/f)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com