Kemenhub Catat Kerugian Organda karena Pandemi Capai Rp 15,9 T per Bulan


175 view
Kemenhub Catat Kerugian Organda karena Pandemi Capai Rp 15,9 T per Bulan
Internet
Anggota Ikatan Alumni Lalu Lintas Sekolah Tinggi Transportasi Darat (IKALL/STTD) membagikan paket sembako kepada pengemudi angkutan umum secara "drive thru" di Terminal Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat, 8 Mei 2020. ANTARA-HO-Sudin Perhubungan Jakarta Selatan
Jakarta (SIB)
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Budi Setiyadi mengungkapkan, kerugian operator transportasi yang tergabung dalam Organisasi Angkutan Darat atau Organda selama pandemi Covid-19 mencapai Rp 15,9 triliun per bulan. Kerugian dialami karena menurunnya jumlah penumpang lantaran adanya pembatasan pergerakan massa.

“Kami dapat data ini setelah dikusi dengan Organda. Namun ini sifatnya masih perhitungan kasar,” ujar Budi Setiyadi dalam webinar, Jumat (18/9).

Berdasarkan paparan Budi Setiyadi, kerugian dari penurunan penumpang dialami oleh operator bus angkutan antar-kota antar-provinsi (AKAP), antar-jemput antar-provinsi (AJAP), bus pariwisata, antar-kota dalam provinsi (AKDP), taksi, angkot, dan bus angling.

Untuk bus AKAP, kerugian yang ditanggung per bulan mencapai Rp 1,6 triliun atau Rp 53 miliar per hari. Total kerugian ini terhitung untuk 346 perusahaan yang mengoperasikan 11.949 armada angkutan.

Sedangkan kerugian yang dialami 56 perusahaan operator AJAP sebesar Rp 61,6 miliar per bulan atau Rp 2 miliar per hari. Total armada yang dioperasikan bus AJAP sebanyak 1.724 unit per hari.

Adapun kerugian untuk 1.112 operator bus pariwisata yang mengoperasikan 13.113 armada mencapai Rp 1,8 triliun per bulan. Angka ini setara dengan Rp 39,3 miliar per hari.

Selanjutnya, kerugian bus AKDP per bulan tercatat paling besar, yakni mencapai Rp 3,9 triliun atau Rp 131,1 miliar per hari. Kerugian ini ditanggung oleh 20 ribu perusahaan bus yang mengoperasikan 51 ribu armada per hari.

Kemudian, operator taksi yang jumlahnya 113 perusahaan dengan 53.268 armada juga tercatat mengalami kerugian Rp 878,9 miliar per bulan atau Rp 29,2 miliar per hari. Lalu 40 ribu perusahaan angkot dengan 58.470 armada menanggung kerugian Rp 701,6 miliar per bulan atau Rp 23,3 miliar per hari.

Terakhir, angkutan bus angling dengan total perusahaan 8.500 entitas melaporkan kerugiannya sebesar Rp 67,5 miliar per bulan atau Rp 2,2 miliar per hari. Total armada bus angling yang beroperasi saban hari sebanyak 10 ribu unit.

Selain angkutan penumpang, truk logistik juga mengalami kerugian. Kementerian mencatat kerugian angkutan barang dari 20 ribu perusahaan truk mencapai Rp 7,49 triliun. Setiap hari, total armada truk yang beroperasi terdata sebanyak 199,9 ribu unit.

Budi Setiyadi menjelaskan, penurunan omset paling tajam terjadi saat pemerintah memberlakukan kebijakan larangan mudik pada Mei lalu. “Setelah ada pelonggaran (PSBB transisi), kami mencatat terjadi kenaikan (penumpang),” ucapnya.

Peningkatan jumlah penumpang mulai tampak pada Juni hingga pekan pertama September. Namun, tiga hari pertama setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan PSBB ketat kembali, kinerja angkutan penumpang terlihat melorot. (T/d)
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com