Kemenperin Dorong Industri Farmasi Kembangkan Obat Tradisional RI


121 view
Foto: Dok. Kemenperin
Doddy Rahadi
Jakarta (SIB)
Kementerian Perindustrian serius mengembankan industri farmasi di tanah air. Salah satunya dengan mendorong pengembangan obat tradisional menjadi obat modern asli Indonesia (OMAI) atau berupa Obat Herbal Terstandar (OHT) dan Fitofarmaka.

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Doddy Rahadi, Indonesia ditopang dengan potensi ketersediaan sumber daya alam melimpah sehingga mudah dijadikan bahan baku untuk pengembangkan industri ini.

"Indonesia memiliki keaneka-ragaman hayati terbaik di dunia seperti jahe, lempuyang, pala, nilam dan lain-lain, yang tentunya bisa menjadi modal utama dalam membangun kemandirian untuk memproduksi obat," ujar Doddy dalam keterangan tertulis, Rabu (14/10/2020).

Oleh karenanya, kata Doddy, sejumlah satuan kerja di bawah BPPI dipacu untuk meningkatkan kegiatan litbang agar bisa menghasilkan inovasi yang dibutuhkan dalam pengembangan industri ini.

"Contohnya adalah Balai Besar Kimia dan Kemasan (BBKK) Jakarta yang memiliki kompetensi dan pengalaman di bidang tersebut, termasuk untuk mengembangkan fasilitas produksi guna mendorong pertumbuhan industri OMAI," paparnya.

Saat ini, BBKK Jakarta dalam proses merancang pembangunan fasilitas House of Wellness yang bakal dilengkapi dengan mini plant bersertifikasi Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB), Smart Laboratory (R&D serta QC), Centre of Essential Oils (Learning Factory dan Laboratorium Essential Oils Authentication) dan soft computing room.

"Program ini termuat dalam roadmap pengembangan fitofarmaka BBKK 2021-2026," terangnya.

Sementara tahun 2021 nanti, direncanakan pembangunan prasarana gedung dan penunjangnya, dengan mengikuti standar CPOTB. Dilanjutkan tahun 2022, membangun instalasi peralatan dan sertifikasi CPOTB. "Pada tahun 2023, nantinya sudah dapat memproduksi ekstrak bahan alam serta mengembangkan smart laboratory," imbuhnya.

Ia berharap OHT ini sudah dapat diproduksi pada tahun 2024 dan pada tahun 2026 fasilitasnya sudah dapat menghasilkan fitofarmaka.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bertekad memerkuat struktur manufaktur dan daya saing industri farmasi dan alat kesehatan. Oleh sebab itu, kedua industri strategis tersebut, dimasukkan ke dalam sektor tambahan yang mendapat prioritas pengembangan pada peta jalan Making Indonesia 4.0.

Lebih lanjut, kata dia, kemandirian di sektor industri farmasi dan alat kesehatan diharapkan berkontribusi dalam program pengurangan angka impor impor hingga 35 persen pada akhir tahun 2022.

Sebagai informasi, berdasarkan catatan Kemenperin industri farmasi dan alat kesehatan merupakan sektor yang masuk dalam kategori yang mengalami permintaan tinggi (high demand) ketika pandemi Covid-19, di saat sektor lain mengalami dampak yang berat.

Pada triwulan I tahun 2020 misalnya, industri kimia, farmasi dan obat tradisional tumbuh positif sebesar 5,59%. Di samping itu, industri kimia dan farmasi juga menjadi sektor manufaktur yang menyetor nilai investasi cukup signifikan pada kuartal I-2020, dengan mencapai Rp 9,83 triliun. (detikFinance/d)