Hari Kesehatan Mental Sedunia

1 Miliar Orang Hidup dengan Gangguan Mental


204 view
Foto Dok/Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus
Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus
Jakarta (SIB)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa 1 miliar orang di dunia hidup dengan gangguan mental. Bahkan, menurut rilis WHO dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia, Sabtu (10/10), 3 juta orang meninggal setiap tahunnya akibat penggunaan alkohol dan setiap 40 detik satu orang meninggal karena bunuh diri.

Kini di tengah pandemi Covid-19, ancaman kesehatan mental semakin memengaruhi dan memberi dampak yang lebih jauh. Kendati demikian, di seluruh dunia, orang yang memiliki akses layanan kesehatan mental relatif sedikit.

WHO mencatat negara dengan penghasilan rendah dan menengah lebih dari 75 persen orang dengan gangguan mental, neurologis dan penyalah-gunaan zat tidak menerima pengobatan yang sesuai kondisi mereka.

Terbatas
Akses terbatas ke perawatan kesehatan mental yang berkualitas dan terjangkau di dunia sebelum pandemi. Terutama dalam keadaan darurat kemanusiaan dan pengaturan konflik, semakin berkurang karena Covid-19, sebab pandemi telah mengganggu layanan kesehatan di seluruh dunia.

Penyebab utama terbatasnya akses perawatan bagi mereka yang memiliki gangguan mental adalah infeksi dan risiko infeksi di fasilitas jangka panjang seperti panti jompo dan lembaga psikiatri.

Selain itu penyebab lainnya, hambatan untuk bertemu orang secara langsung, staf kesehatan mental terinfeksi virus, dan penutupan fasilitas kesehatan mental untuk mengubahnya menjadi fasilitas perawatan bagi penderita Covid-19.

Bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia, WHO bersama dengan United for Global Mental Health dan World Federation for Mental Health menyerukan peningkatan investasi kesehatan mental.

Direktur Jenderal WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, Hari Kesehatan Mental Sedunia adalah kesempatan bagi dunia untuk berkumpul dan mulai memperbaiki pengabaian kesehatan mental.

"Kami sudah melihat konsekuensi pandemi Covid-19 pada kesejahteraan mental masyarakat, dan ini baru permulaan. Kecuali jika kita membuat komitmen serius untuk meningkatkan investasi dalam kesehatan mental saat ini, konsekuensi kesehatan, sosial, dan ekonomi akan berdampak luas," kata Tedros.

Terganggunya layanan kesehatan, banyak negara menemukan cara inovatif untuk memberikan perawatan kesehatan mental, bahkan inisiatif dukungan untuk memperkuat psikososial mulai bermunculan.

Di tengah pandemi Covid-19, kampanye Hari Kesehatan Mental Sedunia menawarkan peluang secara online untuk melakukan sesuatu yang menguatkan hidup, bagi orang-orang yang hidup dengan gangguan mental.

Dr Ingrid Daniels, Presiden Federasi Kesehatan Mental Dunia mengatakan sudah hampir 30 tahun sejak Hari Kesehatan Mental Sedunia pertama kali diluncurkan oleh Federasi Kesehatan Mental Dunia.

"Selama itu, kami telah melihat peningkatan keterbukaan untuk berbicara tentang kesehatan mental di banyak negara di dunia," kata Dr Daniels.

Namun, saat ini tindakan yang harus dilakukan saat ini adalah dengan membangun sistem kesehatan mental yang sesuai dan relevan untuk dunia, baik di masa kini maupun di masa yang akan datang. (Kps/d)
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com