Kapolri: Tindak Tegas Bandar Narkoba hingga ke Akar-akarnya

1 Tersangka Jaringan Narkoba Asal Timur Tengah Ditembak Mati, 2,5 Ton Sabu Disita


297 view
1 Tersangka Jaringan Narkoba Asal Timur Tengah Ditembak Mati, 2,5 Ton Sabu Disita
Foto : Antara/M Risyal Hidayat
SABU JARINGAN INTERNASIONAL : Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo (kedua kanan) bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani (ketiga kanan), Kepala BNN Komjen Pol Petrus Reinhard Golose (kanan), Kabareskrim Komjen Pol Agus Andrianto (kiri) menunjukkan barang bukti sabu saat gelar kasus jaringan internasional di Lapangan Bhayangkara Mabes Polri, Jakarta, Rabu (28/4).
Jakarta (SIB)
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan pihaknya berkomitmen memberantas narkoba. Sigit meminta jajarannya menindak tegas jaringan narkoba hingga ke akar-akarnya.

"Tidak ada toleransi bagi pelaku, bahkan anggota kalau kedapatan, maka akan diberikan tindakan tegas dan usut tuntas sampai akar-akarnya," kata Sigit dalam jumpa pers di Lapangan Bhayangkara Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (28/4).

Sigit meminta jajarannya berkoordinasi dengan instansi lain dalam upaya pencegahan penyelundupan narkoba. Mantan Kabareskrim Polri ini juga memerintahkan jajarannya untuk terus memonitor jaringan narkoba yang berada di Lapas.

“Saya minta anggota melaksanakan koordinasi dengan BNN, Kemenkeu, Bea-Cukai, dengan rekan-rekan di lapas untuk monitor sehingga peredaran narkoba bisa kita cegah semaksimal mungkin," katanya.

Jaringan narkoba bisa melakukan aktivitasnya di mana saja. Untuk itu, Sigit menegaskan kembali agar jajarannya tidak lengah dan berkoordinasi terus dengan stakeholder yang ada.

"Kita tahu jaringan internasional ini bisa melakukan aktivitasnya di mana saja dengan memanfaatkan kaki-kaki dari jaringan yang ada. Kita sepakat seluruh stakeholder terus menegakkan kerja sama dengan DEA (Drug Enforcement Agency) dan yang lain sehingga mereka tak bisa lagi melakukan kegiatan transaksi," tuturnya.

Ditembak Mati
Sebelumnya, Satgassus Polri dan Direktorat IV Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri menangkap jaringan narkoba dengan barang bukti 2,5 ton sabu. Dari 18 orang tersangka, salah satunya ditembak mati.

"Mengamankan 18 tersangka, 17 WNI dan 1 WN Nigeria. Satu kita lakukan tindakan tegas dan terukur," ujar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Sigit mengatakan, dari 18 tersangka ini, 7 orang di antaranya merupakan pengendali dan 8 orang lainnya adalah jaringan pengendali. Sementara itu, tiga tersangka merupakan pemesan.

"Di mana ada tersangka atas inisial KMK, AW, AG, A, MI, dan AL, yang merupakan terpidana di lapas dengan hukuman di atas 10 tahun dan (pidana) mati," ungkapnya.

Para tersangka ditangkap di empat lokasi terpisah, yakni TKP pertama di Lampaseh Kota, Kuta Raja, Kota Banda Aceh; TKP kedua di Pantai Lambada Lhok, Kabupaten Aceh Besar. Kemudian TKP 3 di Lorong Kemakmuran, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh dan TKP keempat di pertokoan Daan Mogot, Jalan Tampak Siring, Jakarta Barat.

Sigit menyebutkan, para tersangka merupakan bagian dari jaringan Timur Tengah dan Malaysia. Jaringan ini menyelundupkan narkoba via laut.

"Tentunya kita masih ingat Presiden beri perhatian khusus terhadap narkoba agar pengejaran, penangkapan, dan hantam terhadap seluruh bandar narkoba. Terkait dengan instruksi Bapak Presiden 10 April kemarin pukul 17.40 WIB kita telah lakukan penangkapan terhadap penyelundupan narkoba," tuturnya.

Dalam pengungkapan ini, Polri bekerja sama dengan Dirjen Bea-Cukai. Adapun total barang bukti yang diamankan sebanyak 2,5 ton sabu.

Bongkar
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengapresiasi Polri atas kinerjanya dalam mengungkap 2,5 ton sabu. Sri Mulyani mengatakan, pihaknya mendukung Polri dan BNN dalam upaya penggagalan penyelundupan narkoba.

"Saya senang sekali kita bisa sama-sama menyampaikan pengungkapan penyelundupan 2,5 ton (sabu), di mana 1,3 ton metamfetamin yang berasal dari jaringan Timur Tengah yang menggunakan sandi 'Operasi Dewaruci'. Saya terima kasih pada pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia yang masih fokus untuk lakukan penanganan pandemi Covid dan sekaligus juga memulihkan perekonomian kita. Kita, pemerintah, masih tetap waspada terhadap kegiatan-kegiatan ilegal underground economy seperti penyelundupan, yang merupakan salah satu tindakan ilegal, dalam hal ini penyelundupan yang berkaitan dengan metamfetamin atau dalam hal ini psikotropika," jelas Sri Mulyani dalam jumpa pers di Lapangan Bhayangkara Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (28/4).

Sri Mulyani mengatakan pihaknya, dalam hal ini Ditjen Bea-Cukai, terus bersinergi dengan Polri dan BNN dalam upaya pengawasan penyelundupan narkoba.

"Karena kita semua tahu tadi yang disampaikan jaringan internasional bekerja sama dengan jaringan yang ada di Indonesia akan terus-menerus melakukan upaya yang sangat luar biasa, tak kenal lelah dalam menyelundupkan barang bahaya ini, karena nilainya sangat tinggi, mencapai lebih dari Rp 1 triliun dan membahayakan lebih dari 10 juta masyarakat Indonesia," jelasnya.

Hingga April 2021 ini, Ditjen Bea-Cukai bekerja sama dengan Polri dan BNN telah mengungkap ratusan penyelundupan narkoba.

"Hingga April 2021, Ditjen Bea-Cukai Kemenkeu bersama Polri dan BNN telah berhasil mengungkap 422 kasus upaya penyelundupan narkoba dengan berat bruto mencapai 1,9 ton yang telah dijelaskan Kabareskrim, sebuah nilai yang luar biasa dan ini baru sampai April," katanya.

Menurut Sri Mulyani, penyelundupan narkoba semakin gencar dalam beberapa tahun terakhir ini.

"Kalau kita lihat di dalam tahun-tahun terakhir kenaikan setiap tahun jumlah kasus maupun dari kasus jumlah narkotikanya juga semakin meningkat, ini mengingatkan kita semuanya untuk terus waspada," katanya.

"Sekali lagi saya ingin sampaikan pada Kapolri, jajaran Kabareskrim, dan BNN atas sinergi yang sangat baik dengan teman-teman dari Ditjen Bea-Cukai, terutama Direktur P2 dan seluruh kanwil Bea-Cukai di seluruh Indonesia. Dalam kesempatan ini bea cukai dan Polri serta BNN telah menghasilkan kerja sinergi yang luar biasa dengan melakukan pengungkapan penindakan terhadap 1,3 ton narkotika yang diduga jenisnya metamfetamin," tuturnya.

Sri Mulyani berharap sinergi antarlembaga terus ditingkatkan demi Indonesia bebas narkoba. Ia juga berharap peran intelijen terus ditingkatkan untuk mendeteksi pergerakan jaringan penyelundupan narkoba.

"Ini telah diperdagangkan atau akan diperdagangkan di berbagai lokasi yang tadi disampaikan. Harapan saya selanjutnya di dalam operasi-operasi selanjutnya kita akan terus kembangkan seluruh intelijen, data intelijen dan juga langkah-langkah profesional, sinergi, dan kolaborasi dengan integritas yang tinggi dari seluruh institusi-institusi," tuturnya. (detikcom/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com