19 Kota Dipantau Ketat Pemerintah Gara-gara Kasus Corona Meningkat


147 view
19 Kota Dipantau Ketat Pemerintah Gara-gara Kasus Corona Meningkat
Internet
Budi Gunadi Sadikin
Jakarta (SIB)
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan ada 19 kota saat ini dipantau ketat karena mengalami kenaikan kasus Covid-19. Kenaikan kasus di 19 kota itu terjadi berturut-turut diatas 2 minggu terakhir.

"Kami juga mengamati situasi pandemi di seluruh kabupaten/kota di Indonesia, semuanya masih baik jadi kita tidak perlu khawatir, tapi kita memonitor yang memiliki potensi ada kenaikan," kata Budi, dalam jumpa pers virtual yang ditayangkan YouTube Sekretariat Presiden, Senin (22/11).

Budi mengungkap totalnya ada 19 kota yang dipantau pemerintah karena mengalami kenaikan kasus. Akan tetapi kenaikan kasus tersebut masih relatif kecil.

"Walaupun memang jumlahnya masih kecil, positivity ratenya masih rendah, BOR rumah sakitnya juga masih rendah, tapi kita mengikuti daerah-daerah ini agar jangan sampai kita terlambat kalau nanti ada kenaikan," ujar Budi.

Adapun rincian dari 19 kota yang dimonitor misalnya Fak-fak dan Purbalingga yang mengalami kenaikan kasus baru dalam 4 minggu berturut-turut. Selain itu ada Lampung Utara telah 3 minggu berturut-turut mengalami kenaikan kasus.

Serta 16 kota selama 2 minggu terakhir mengalami kenaikan kasus. Namun Budi tak menyebutkan 16 kota lainnya yang sedang dimonitor ketat.

"Jadi kurang lebih ada 19 kota yang kita monitor secara ketat, kita survailance secara ketat karena ada kenaikan kasus walaupun masih kecil lebih dari 2 minggu," ungkapnya.

Budi mengatakan di 19 kota tersebut harus dilakukan perbaikan dari sisi tracing dan testingnya. Ia meminta agar pihak yang menjadi kontak erat harus di tracing.

"Kita juga memperhatikan mengenai kota-kota tersebut, apa yang harus diperbaiki, ini adalah tracingnya dan testingnya. Jadi testing harus dilakukan terhadap orang-orang kontak erat hasil dari tracing," ujarnya.

"Kami melihat kota-kota yang ada kenaikan disiplin untuk tracing kontak eratnya dan melakukan testing bagi orang yang didefinisikan sebagai kotak erat sudah sangat rendah," ujarnya.

Menkes Budi meminta agar kepala daerah seperti bupati, walikota agar selalu meningkatkan dan menjaga disiplin testing dan tracingnya. Hal tersebut sangat penting untuk bisa mencegah adanya gelombang baru.

Turun
Budi Gunadi Sadikin juga melaporkan laju suntikan vaksinasi di Indonesia menurun dalam beberapa pekan terakhir. Salah satu penyebabnya adalah keraguan masyarakat terhadap vaksin.

Budi menyebut keraguan masyarakat itu karena merek vaksin yang dianggap baru.

"Kami juga melaporkan bahwa tiga minggu terakhir ini terjadi penurunan laju suntikan yang tadinya konsisten di atas 2 juta sudah ada penurunan. Ini disebabkan oleh beberapa hal salah satunya adalah karena memang Sinovac vaksinnya sudah mulai menurun diganti oleh AstraZeneca dan Pfizer. Dua vaksin ini sama amannya efikasinya lebih tinggi tapi karena baru masyarakat masih ragu untuk menggunakannya," kata Budi.

Budi meminta semua pihak untuk mendorong masyarakat segera vaksinasi, terutama lansia. Dia memastikan apa pun jenis vaksinnya tetap aman.

"Yang AstraZeneca, Pfizer atau Moderna memang ada demam sama seperti waktu kita kecil divaksin cacar juga ada demam. Tidak usah khawatir vaksin-vaksin ini sudah terbukti aman. Tidak usah ragu-ragu untuk segera divaksin. Jangan sampai terjadi apa yang di Eropa bisa terjadi di Indonesia," ujar Budi.

Jadi Landasan
Pemerintah tengah menjalankan survei untuk mengetahui apakah herd immunity atau kekebalan komunal terhadap virus Corona sudah terbentuk di Indonesia atau belum. Nantinya, hasil survei itu akan menjadi landasan kebijakan pemerintah.

"Survei antibodi di 34 provinsi dan 1.000 desa sudah dijalankan, kerja sama antara Kementerian Kesehatan dengan Kementerian Dalam Negeri," kata Budi Gunadi Sadikin.

Survei herd immunity ini juga melibatkan sejumlah perguruan tinggi yang memiliki ahli-ahli epidemiologi. Hasil survei bakal segera diketahui.

"Diharapkan Desember ini selesai, sehingga kita bisa lihat di minggu ketiga atau keempat Desember laporan lengkap dari hasil serum prevalen survei seluruh kabupaten kota di Indonesia, seluruh provinsi Indonesia," kata dia.

Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, hasil suveri itu bisa menjadi bekal pengambilan keputusan pemerintah untuk menangani pandemi Covid-19. Pemerintah juga akan menjadikan survei herd immunity itu sebagai survei rutin per semester.

"Sehingga kita memiliki kontrol dasar pengambilan kebijakan ke depannya," kata Budi. (detikcom/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com