7 Warga Sipil Tewas Usai Taliban Berlakukan Aturan Baru di Bandara Kabul

* Taliban Larang Pegawai Pemerintah Afghanistan Masuk Kantor

336 view
7 Warga Sipil Tewas Usai Taliban Berlakukan Aturan Baru di Bandara Kabul
(Foto : AFP)
KERUMUNAN : Kerumunan warga sipil Afghanistan memenuhi area dekat fasilitas militer di bandara Kabul berharap bisa pergi meninggalkan Afghanistan, yang kini telah dikuasai Taliban. Sebanyak 7 warga sipil dilaporkan tewas akibat kekacauan yang kembali terjadi di area bandara Kabul, Minggu (22/8). 
Kabul (SIB)
Kericuhan kembali terjadi di sekitar Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul. Akibatnya, tujuh warga sipil Afghanistan tewas. Kabar soal kericuhan pada Minggu (22/8) dikonfirmasi oleh Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Inggris.

"Kami turut berduka cita bersama keluarga dari tujuh warga sipil Afghanistan yang meninggal secara menyedihkan saat kerumunan di Kabul," demikian isi pernyataan Kemenhan Inggris, seperti dilansir AFP, Minggu (22/8). "Kondisi di lapangan tetap sangat menantang tetapi kami melakukan segala yang kami bisa untuk mengelola situasi seaman mungkin," imbuh salah seorang juru bicara Kemenhan Inggris.

Kepada surat kabar lokal, Inggris Mail, Menteri Pertahanan Inggris, Ben Wallace mengatakan: tidak ada negara yang bisa mengeluarkan semua orang sebelum batas waktu AS 31 Agustus. "Mungkin Amerika akan diizinkan untuk tinggal lebih lama dan mereka akan mendapat dukungan penuh kami jika mereka melakukannya," katanya.

Seorang jurnalis, yang termasuk di antara sekelompok pekerja media dan akademisi lain yang cukup beruntung untuk sampai ke Bandara dan bisa terbang pada hari Minggu, menggambarkan pemandangan putus asa orang-orang yang mengelilingi bus mereka dalam perjalanan masuk.

"Mereka menunjukkan paspor mereka kepada kami dan berteriak 'bawa kami bersamamu...tolong bawa kami bersamamu'," kata wartawan itu kepada AFP. "Taliban yang berada di truk depan kami harus menembak ke udara untuk membuat mereka pergi." imbuhnya.

Taliban menyalahkan Amerika Serikat (AS) soal kacaunya proses evakuasi puluhan ribu warga Afghanistan dan orang asing lainnya dari Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul.

"Amerika, dengan segala kekuatan dan fasilitasnya telah gagal menertibkan bandara. Ada kedamaian dan ketenangan di seluruh negeri, tetapi hanya ada kekacauan di bandara Kabul," kata pejabat Taliban Amir Khan Mutaqi, seperti dilansir AFP, Minggu (22/8).

Meski Taliban berjanji untuk 'lebih baik' dari masa pendudukannya 20 tahum silam, masih banyak warga Afghanistan yang ketakutan dan terus mencoba melarikan diri. Akibatnya, kerusuhan di bandara Kabul tidak terhindarkan, di mana Amerika Serikat dan sekutunya tidak mampu mengatasi sejumlah besar orang yang ingin dievakuasi.

Berlakukan Aturan Baru
Sebelumnya, Taliban memberlakukan beberapa aturan baru di bandara Kabul. Orang-orang diminta membentuk antrian yang tertib di luar gerbang utama bandara dan dilarang berkumpul di sekeliling bandara.

Seperti dilansir Reuters, Minggu (22/8) seorang saksi mata menyebut aturan diberlakukan mulai Minggu (22/8). Orang-orang diminta membentuk antrean yang tertib di luar gerbang utama bandara dan dilarang berkumpul di sekeliling bandara. "Tidak ada kekerasan atau kekacauan di bandara saat fajar menyingsing pada hari Minggu," kata para saksi mata. "Meski masih pagi, antrean panjang sudah terbentuk," kata mereka.

Pada Sabtu (21/8) lalu, Amerika Serikat (AS) dan Jerman mengatakan kepada warganya di Afghanistan untuk menghindari bepergian ke bandara Kabul. Hal ini lantaran adanya risiko keamanan ketika ribuan orang memadati bandara untuk melarikan diri dari negara tersebut. Sementara itu, Uni Eropa mengakui "mustahil" untuk mengevakuasi semua orang dari Taliban.

Menurut pejabat NATO dan Taliban, sedikitnya 12 orang tewas di dalam dan di sekitar landasan pacu tunggal Bandara sejak minggu lalu. Menurut saksi mata, sebagian tertembak dan yang lainnya tewas lantaran terinjak-injak. Setelah Taliban mengambil alih Afghanistan dengan cepat, ketakutan muncul akan terjadinya pembalasan dan berlakunya kembali hukum Islam garis keras khas Taliban. Hal ini memicu gelombang warga yang hendak melarikan diri. Selama seminggu terakhir, kerumunan tidak bisa dihindarkan di bandara. Akibatnya, proses evakuasi warga AS dan negara-negara lainnya terhambat.

Pada Sabtu (21/8) lalu, seorang pejabat Taliban mengatakan kepada Reuters bahwa risiko keamanan tidak dapat dikesampingkan. “Meski begitu Taliban bertujuan untuk memperbaiki situasi dan memberikan jalan keluar bagi orang-orang yang mencoba pergi selama akhir pekan,” tukas pejabat Taliban tersebut.

Sebanyak 5.800 tentara AS dikerahkan di bandara Kabul untuk mengamankan proses evakuasi. Major Jenderal Angkatan Darat AS, William Taylor mengatakan negaranya dalam seminggu terakhir telah mengevakuasi 17.000 orang, termasuk 2.500 orang Amerika, dari Kabul.

Dalam 24 jam terakhir, kata Taylor, enam pesawat militer C-17 dan 32 penerbangan charter telah meninggalkan bandara Kabul, membawa 3.800 orang.

Menurut Biden, sekira 10.000-15.000 orang Amerika perlu dievakuasi dari Afghanistan. Pemerintahannya juga ingin mengevakuasi 50.000-60.000 sekutu Afghanistan dan anggota keluarga mereka ke luar dari negara tersebut.

Larang Pegawai
Sementara itu, Taliban pada Sabtu (21/8) dilaporkan menghalangi pekerja pemerintah Afghanistan di Kabul kembali ke kantor untuk bekerja. Pelarangan tersebut bertentangan dengan pernyataan Taliban sebelumnya yang mengizinkan mereka lanjut bekerja.

Sejak Taliban menguasai Kabul pekan lalu, sebagian besar gedung pemerintah, bank, sekolah, dan universitas telah ditutup.

Sejauh ini hanya sedikit perusahaan swasta yang diizinkan tetap beroperasi, termasuk perusahaan telekomunikasi. "Saya ke kantor pagi ini, tetapi Taliban yang ada di gerbang memberi tahu kami bahwa mereka tidak menerima perintah membuka kantor pemerintahan," kata Hamdullah, seorang pekerja yang menceritakan pengalamannya kepada AFP. "Mereka mengatakan agar kami menonton televisi atau mendengarkan radio untuk pengumuman kapan kembali bekerja," ucap dia lagi.

Taliban belum membentuk pemerintahan baru di Afghanistan dan salah satu kekhawatiran terbesar saat kekacauan administrasi yaitu apakah pekerja masih mendapatkan gaji.

Juru bicara Taliban sebelumnya mengatakan pemerintahan baru akan berbeda dari rezim 1996-2001 yang dikenal melarang perempuan dari hampir semua aspek kehidupan publik. Dia juga mengumumkan amnesti umum. "Semua pihak yang berseberangan diampuni dari A sampai Z. Kami tidak akan membalas dendam," katanya. (AFP/detikcom/CNNI/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com