Kasus Suap Wali Kota Tanjungbalai

AKP Robin Ungkap Syahrial Ditelepon Wakil Ketua KPK Lili Pintauli

* AKP Robin Cabut BAP Terkait Keterlibatan Azis Syamsuddin

152 view
AKP Robin Ungkap Syahrial Ditelepon Wakil Ketua KPK Lili Pintauli
(Ahmad Arfah/detikcom)
AKP Stepanus Robin Pattuju saat menjadi saksi di PN Medan
Medan (SIB)
Mantan penyidik KPK, AKP Stepanus Robin Pattuju menjadi saksi di sidang kasus suap Wali Kota Tanjungbalai Muhammad Syahrial. Dalam sidang, Robin mengatakan Syahrial pernah bercerita soal ditelepon Wakil Ketua KPK, Lili Pintauli.

Robin awalnya mengatakan, Syahrial bercerita akan meminta pertolongan untuk menyelesaikan persoalan hukumnya dengan seseorang bernama Fahri Aceh. Syahrial akan meminta bantuan ke Fahri atas saran dari Lili Pintauli.

"Seperti itu penyampaian beliau (meminta bantuan ke Fahri). Atas saran Bu Lili Pintauli Siregar, setahu saya Wakil Ketua KPK," ucap Robin dalam sidang di PN Medan, Senin (26/7).

Robin mengatakan, hal itu disampaikan Syahrial setelah ditelpon Lili Pintauli. Robin mengatakan Lili menelepon Syahrial saat berkas milik Syahrial berada di meja Lili.

"Terdakwa menyampaikan bahwa baru saja ditelepon oleh Bu Lili. Yang menyampaikan bahwa 'Gimana? Berkas kamu di meja saya ini', kata Bu Lili ke terdakwa," ucap Robin.

"Kemudian terdakwa (Syahrial) menyampaikan kepada Bu Lili, 'Bantulah, Bu'," tambahnya.

"Kemudian setelah itu Bu Lili menyampaikan untuk bertemu orang saya di Medan, Fahri Aceh," jelasnya.

Karena hal itu, Robin meminta Syahrial memilih meminta bantuan kepadanya atau Fahri. Robin mempersilakan Syahrial memilih.

"Terserah mau milih saya atau Fahri Aceh," paparnya.

MENEPIS
Sebelumnya Lili Pintauli sudah menepis adanya komunikasi dengan M Syahrial sebelum berstatus tersangka di KPK. Lili menepis membantu Syahrial.

"Dapat kami sampaikan bahwa saya tegas mengatakan tidak pernah menjalin komunikasi dengan tersangka MS terkait penanganan perkara yang bersangkutan," ucap Lili dalam konferensi pers di KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (30/4).

"Apalagi membantu dalam penanganan perkara yang sedang ditangani oleh KPK," imbuhnya.
Lili menyadari posisinya sebagai pimpinan KPK dibatasi aturan-aturan etik. Dia memastikan integritasnya sebagai pimpinan KPK terjaga.

"Dan saya juga sangat menyadari bahwa sebagai insan KPK saya tentu terikat dengan kode etik dan juga peraturan KPK yang melarang untuk berhubungan dengan pihak-pihak yang berperkara. Akan tetapi sebagai pimpinan KPK, khususnya dalam pelaksanaan tugas pencegahan, saya tentu tidak dapat menghindari komunikasi dengan seluruh kepala daerah dan komunikasi yang terjalin tentu saja terkait dengan tugas KPK dalam melakukan pencegahan supaya tidak terjadi tindak pidana korupsi," kata Lili.

"Posisi saya memang sebagai pejabat publik sebelum bergabung di KPK ini membuat saya telah memiliki jaringan yang cukup lumayan luas dan hubungan silaturahmi itu tetap terjalin tapi dengan batasan-batasan yang ditentukan oleh aturan.

Dalam komunikasi saya dengan siapapun juga khususnya terhadap pejabat publik selalu juga saya mengingatkan untuk selalulah bekerja dengan baik dan hindarilah tindak pidana korupsi dan saya juga selalu menjaga selektifitas untuk berkomunikasi, menjaga harkat dan martabat diri saya sebagai insan KPK maupun sebagai marwah lembaga KPK," imbuhnya.

Cabut BAP
Sidang perkara dugaan korupsi senilai Rp 1,6 miliar, yang menjerat Muhammad Syahrial berlangsung panas di Pengadilan Tipikor Medan, Senin (26/7).

Pasalnya, Stepanus Robinson Pattuju selaku penyidik KPK yang juga salah satu tersangka dalam perkara ini, mencabut beberapa keterangannya yang sudah ditandatangani dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di KPK.

Semua keterangan Stapanus terkait keterlibatan Wakil Ketua DPR RI dari fraksi Golkar Azis Syamsuddin dalam perkara ini, tiba-tiba ia cabut dengan alasan saat memberi keterangan BAP dalam keadaan tidak fokus.

"Kondisi saya saat itu lagi stres, tidak bisa berpikir, sehingga saya tidak bisa fokus," ucapnya usai dicecar Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK Budhi Sarumpaet.

Di persidangan, ia mengatakan kehadirannya ke rumah Azis atas suruhan ajudan Azis yang bernama Dedi.
Pernyataan tersebut, sontak mendapat perhatian dari Jaksa, sebab berbanding terbalik dengan BAP Stepanus, yang awalnya mengaku bahwa Azis lah yang menyuruhnya datang melalui ajudannya guna bertemu dengan seseorang.

"Di BAP saksi ada menyebutkan, bahwa Dedi saat itu mengatakan bahwa saya dipanggil oleh bapak, maksudnya Azis Syamsudin karena ada yang mau ketemu. Ini bagaimana keterangan saksi," tanya Jaksa.

Lantas Stepanus mengaku kalau saat itu Ajudan Azis yang menyuruhnya datang, bukan Azis.
Tidak hanya itu, saat bertemu di rumah Azis, ia mengaku Azis tidak ada di lokasi tempat ia bertemu dengan Syahrial karena sedang mengikuti rapat.

"Setelah saya ingat lagi, pak Azis tidak ada. Pak Dedi yang menjelaskan kalau itu pak Syahrial," cetusnya.
Lantas Jaksa pun membacakan BAP Stepanus yang awalnya mengakui bahwa Azis lah yang memperkenalkan Syahrial padanya.

"BAP saksi menyebutkan, tidak lama menunggu di pos rumah dinas, ajudan Azis meminta saya masuk ke pendopo. Sampai di Pendopo saya bertemu dengan saudara Azis Syamsudin dan Syahrial," kata Jaksa.

Meski BAP sudah dibacakan, Stepanus tetap bersikukuh, bahwa Azis tidak ada memperkenalkannya dengan Syahrial.

"Kondisi saya waktu itu (memberikan keterangan dalam BAP) masih stres, banyak hal yang saya tidak bisa fokus.
Yang benar waktu itu kondisinya pak Azis ada rapat di dalam rumah, setelah berbicara dengan Syahrial saya langsung pulang dan hanya bertemu dengan Dedi," cetusnya.

Tidak sampai di situ, Jaksa kembali mencecar BAP Stevanus yang menyebutkan bahwa setelah ia berbicara dengan Syahrial, Azis Syamsudin sempat menanyakan dan meminta agar ia membantu perkara Syahrial.

"Di BAP Nomor 49, setelah berbicara dengan Syahrial, saya pamit ke Azis lalu ia menanyakan apakah sudah selesai dan tukaran nomor hp. Lalu saya jawab sudah selesai, saudara Azis lalu mengatakan kalau bisa kamu bantulah. Dalam pemahaman saya bahwa apa yang disampaikan oleh Azis, Azis sudah mengetahui apa yang disampaikan Syahrial. Ini bagaimana keterangan anda di BAP," cecar Jaksa.

Lagi-lagi, Stepanus mencabut keterangan tersebut, dengan alasan saat memberikan keterangan tersebut, ia kurang konsentrasi.

"Waktu itu saya kurang konsentrasi pak, saya merubahnya, di sini," ucapnya.
Meski demikian, Stepanus mengakui di rumah Azis ia mengatakan bahwa saat itu Syahrial meminta bantuannya agar dua kasus yang sedang diselidiki KPK di Tanjung Balai dapat dihentikan.

"Terdakwa mendapat info ada permasalahan yang akan ditangani KPK, terkait temuan BPK yakni proyek pembangunan jembatan yang tidak selesai dan laporan dugaan jual beli jabatan di Tanjungbalai. Terdakwa meminta tolong dimonitor," ucapnya.

Usai pertemuan tersebut, Stepanus mengaku menghubungi Maskur Husain seorang advokat, yang dipercaya bisa membantu mengamankan kasus tersebut.

"Saya merasa, permasalahan yang disampaikan terdakwa bisa dibantu Maskur. Karena dia berpengalaman pernah mengurus perkara di KPK. Saya pikir mungkin dia punya akses, dia bisa mendapat bnyak informasi mengenai perkara korupsi," ucapnya.

Selanjutnya kata Stepanus, Maskur pun menyanggupi untuk membantu pengurusan perkara tersebut, asalkan ada dananya sebesar Rp1,5 miliar.

"Syahrial minta dirinya tidak menjadi tersangka mengenai proyek yang tak selesai. Lalu saya bilang saya jamin," ucap Stepanus. Selanjutnya uang tersebut pun dikirim terdakwa Syahrial secara bertahap.

Setelah memeriksa Robin, giliran Azis Syamsuddin dihadirkan sebagai salah satu saksi dalam persidangan yang berlangsung virtual tersebut.

Dalam persidangan tersebut, penuntut umum KPK mencecar Azis dengan berbagai pertanyaan mulai dari pengetahuannya terkait perkenalan Stepanus Robin Pattuju dengan HM Syahrial.

Akan tetapi, Azis selalu mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui bagaimana hubungan antara Stepanus dengan M Syahrial.

Hanya saja kata Azis, dirinya mengenal Stepanus setelah dikenalkan okeh temannya yang juga polisi bernama Agus. "Saya mengira ini temannya pak Agus tentu dia punya teman polisi juga," katanya.

Terkait kasus dugaan korupsi suap yang melibatkan HM Syahrial, Stepanus dan Maskur Husein, ia mengaku baru mengetahui kasusnya saat dipanggil oleh KPK.

"Saya tahu kasus ini setelah di BAP penyidik. Pak Syahrial sendiri tidak pernah cerita soal kasus hukumnya kepada saya," ujarnya.

Azis juga mengaku tidak mengetahui urusan hadirnya Stepanus di rumah dinasnya. Sedangkan hadirnya Syahrial di rumah dinasnya menurutnya berkaitan dengan urusan rapat terkait partai politik mereka Golkar.

"Robin hadir dan saat itu saya hanya melambaikan tangan dan mempersilahkan dia minum dan makan. Tapi tidak sempat ngobrol karena banyak rapat saya saat itu," pungkasnya.

Usai mendengar keterangan saksi, majelis Hakim yang diketuai As'ad Rahim Lubis menunda sidang pekan depan masih dengan agenda keterangan saksi.(detikcom/A17/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com