Ada Pawang Hujan di Mandalika, BRIN Jelaskan Sisi Teknologi


379 view
Ada Pawang Hujan di Mandalika, BRIN Jelaskan Sisi Teknologi
(Foto: Tangkapan Layar Youtube MotoGP)
PAWANG HUJAN: Aksi Rara Istiani Wulandari yang menjadi pawang hujan di sirkuit Mandalika  MotoGP 2022, Minggu (20/3). Penyelenggara MotoGP mengupayakan sedemikian rupa agar tak terjadi cuaca buruk di Sirkuit Mandalika. Modifikasi cuaca dan pawang hujan menjadi solusinya.

Jakarta (SIB)

Heboh aksi seorang pawang hujan, Raden Roro Istiati Wulandari, yang diklaim mampu mengusir hujan saat perhelatan MotoGP di kawasan Mandalika, Lombok, NTB. Begini penjelasan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara teknologi.


Koordinator Laboratorium Pengelolaan TMC BRIN Budi Harsoyo mengaku tergelitik oleh viralnya sosok RR Istiati yang diklaim mampu mencegat hujan di Sirkuit Mandalika. Budi memberi penjelasan secara ilmiah serta andil Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di sana.


"Berhubung pemberitaan mengenai sosok Mbak Rara, pawang hujan di Mandalika yang saat ini sedang viral di media sosial, rasanya saya tergelitik untuk perlu memberikan beberapa penjelasan mengenai kaidah saintifik Teknologi Modifikasi Cuaca yang sejak tanggal 18-20 Maret 2022 ini juga diminta untuk dioperasikan di sana," kata Budi dalam keterangan tertulis, Minggu (20/3).


Dikatakan Budi, secara ilmiah, ada teknologi yang disebut Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Menurut penjelasannya, cara kerja TMC ialah armada pesawat beroperasi di jalur penyemaian awan. TMC kemudian melepaskan bahan semai dari unsur kimia yang mampu menjatuhkan hujan di luar area sirkuit.


"Sebelum mereka (awan-awan hujan) mendekat, kami cegat, kami jatuhkan hujannya di luar Mandalika. Ada awan tumbuh baru, segera kami terbang dan jatuhkan kembali. Begitu seterusnya," jelas dia.


Dia mengatakan upaya tersebut dibuktikan dari konsentrasi hujan pada 18 dan 19 Maret yang mampu dieliminasi dari Mandalika ke perairan selatan Pulau Lombok. Namun, sambung Budi, ada tantangan terberat menuju klimaks perhelatan Moto GP, Minggu ore, yakni embusan angin yang berubah arah.


Dia menjelaskan selama dua hari arah angin berasal dari tenggara ke selatan. Sementara, kemarin berubah dari arah utara karena low pressure sudah bergeser di selatan Pulau Lombok.


"Bisa berpotensi menjadi senjata makan tuan jika kami semai awan di utara. Sementara pesawat belum sempat ke posko, entah karena kondisi cuaca ataupun karena adanya NOTAM RI-1 yang akan mendarat di BIL siang," imbuhnya.


Budi menyebut TMC sudah beroperasi sejak 18-20 Maret lantaran BMKG memprediksi pada periode tersebut Mandalika berpotensi diguyur hujan ekstrem.


Adapun BMKG telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah NTB, yakni siklus puncak hujan hariannya terjadi pada pagi hingga sore hari.


"Prediksi ini terbukti cukup akurat. Pagi hari, umumnya terjadi hujan secara cukup merata di seluruh wilayah NTB pada umumnya. Pada aktualnya, hujan pagi hari terjadi pada tanggal 18 dan 19 Maret 2022 untuk wilayah Pulau Lombok, tidak terkecuali Sirkuit Mandalika," papar Budi.


"TMC belum mampu mengantisipasi hujan yang terjadi di dini hari karena armada pesawat TMC belum mempunyai kemampuan beroperasi untuk penerbangan malam/dini hari," lanjut dia. (detikcom/d)


Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com