Anggota DPR Puji KSAD Hapus Tes Keperawanan, Singgung Seleksi Matra Lain


167 view
Anggota DPR Puji KSAD Hapus Tes Keperawanan, Singgung Seleksi Matra Lain
Foto Istimewa
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Andika Perkasa 
Jakarta (SIB)
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa menghapus tes keperawanan dalam proses pemeriksaan kesehatan seleksi Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad). Anggota Komisi I DPR Rizki Aulia Rahman mengapresiasi langkah tersebut.

"Kami mengapresiasi langkah KSAD untuk melakukan perbaikan pada sistem rekrutmen prajurit TNI AD. Kami berharap Komisi I DPR RI mendapatkan penjelasan yang komprehensif mengenai hal ini agar TNI mampu menciptakan mekanisme rekrutmen yang tepat," kata Rizki kepada wartawan, Selasa (10/8) malam.

Politikus Partai Demokrat ini mengatakan tes calon prajurit harus relevan dengan fungsi dan tugas prajurit. Rizki menyarankan KSAD mencontoh proses seleksi prajurit dari negara lain.

"Memang sebaiknya uji kepatutan calon tentara haruslah berdasarkan penilaian yang relevan dengan fungsi dan pelaksanaan tugas sebagai prajurit TNI. Untuk ke depannya, ada baiknya KSAD memberikan perbandingan sistem rekrutmen calon prajurit militer di negara lain," ujarnya.

"Proses seleksi bagi seorang prajurit negara sudah semestinya bersifat adil, tidak diskriminatif, relevan sesuai dengan kebutuhan penugasan dan juga jati diri TNI yang profesional," lanjutnya.

Rizki menyarankan agar KSAD berkoordinasi dengan Mabes TNI dalam hal ini. Dia juga menyinggung kriteria seleksi di matra lain.

"Keputusan KSAD terkait penghapusan jenis seleksi yang dianggap sudah tidak relevan lagi sebaiknya berkoordinasi juga dengan Mabes TNI, karena kriteria seleksi ini tidak hanya diterapkan di TNI AD, tetapi juga di matra lainnya," ujarnya.

Tak Perlu
Anggota Komisi I dari Fraksi NasDem Hillary Brigitta Lasut juga sepakat dengan penghapusan tes keperawanan untuk calon anggota Kowad. Hillary menilai tidak ada relevansi keperawanan dengan fungsi prajurit TNI.

"Menurut saya secara pribadi saya setuju. Menurut saya, tidak ada relevansinya tes keperawanan dengan memberi diri menjadi abdi negara. Orang mereka memberi diri untuk menjaga pertahanan dan berada di garis depan perlindungan masyarakat, bukan untuk mempersembahkan keperawanan mereka kepada negara. Kalaupun ada, keperawanan mereka mau dipakai buat apa di dunia pekerjaan?" kata Hillary.

Dia menilai tes keperawanan aneh dan diskriminatif. Menurutnya, tes yang serupa tidak dilakukan dalam seleksi prajurit pria.

"Buat saya, selama menjadi TNI wanita, tidak ada hubungannya dengan memberikan keperawanannya kepada negara dan keperawanan anggota TNI tidak dibutuhkan oleh negara, tidak ada relevansinya mengutak-atik privasi dan harga diri seorang calon abdi negara," ujarnya.

"Kalau tidak ada tes keperjakaan buat calon tentara pria yang dapat menjamin 100 persen pria tersebut perjaka, kenapa harus diberlakukan tes begitu untuk wanita apabila tidak ada faedahnya dan hanya jadi penghambat saja," lanjut Hillary.

Hillary mengatakan tes tersebut hanya membuang waktu. Dia menyarankan agar tes itu diganti dengan kesehatan yang lebih lengkap.

"Buat saya membuat tes keperawanan itu hanya buang waktu, buang tenaga dan buang anggaran. Lebih baik dialihkan menjadi tes yang lain yang relevan seperti tes kesehatan lengkap, tes HIV, tes imun setelah vaksin, dan masih banyak lagi," ujarnya Hillary.

Alasan KSAD
Jenderal Andika menjelaskan tes keperawanan tak lagi dilakukan TNI AD terhadap calon Kowad. Menurutnya, proses seleksi itu lebih utama ke kesehatan dan tidak berhubungan lagi dengan tes keperawanan.

"Hymen atau selaput dara tadinya juga merupakan satu penilaian (dalam seleksi siswa pendidikan pertama Kowad), apakah hymen utuh atau ruptur sebagian atau ruptur yang sampai habis. Sekarang tidak ada lagi. Karena tujuan penyempurnaan materi seleksi itu lebih ke kesehatan sehingga yang tidak berhubungan lagi dengan itu, ya tidak perlu lagi," jelas Andika kepada wartawan, Selasa (10/8).

Andika menerangkan, pemeriksaan kesehatan calon Kowad bertujuan menghindari insiden atau hal-hal yang membahayakan nyawa selama pendidikan. Jadi hal-hal yang tak berkaitan dengan tujuan itu dinilai tak perlu dilakukan lagi.

"Tujuan penyempurnaan materi seleksi ini tujuan lebih ke kesehatan, menghindari satu insiden yang menghilangkan nyawa. Jadi yang tidak ada hubungan dengan itu, tak perlu lagi," terang Andika.

Andika ingin proses pemeriksaan kesehatan terhadap calon Kowad diperbaiki agar efektif. "Perbaikan ini agar kita fokus, efektif, dan tepat. Jangan sampai melebar. Agar kita punya arah," ucap dia. (detikcom/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com