Bamsoet Terima Dubes Australia

Australia Dukung Kedaulatan RI Termasuk Papua dalam Bingkai NKRI


163 view
Australia Dukung Kedaulatan RI Termasuk Papua dalam Bingkai NKRI
Foto: Dok/MPR
MENERIMA: Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk RI, H.E. Ms. Penny Williams di Gedung Parlemen Jakarta, Senin (11/10).
Jakarta (SIB)
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk RI, H.E. Ms. Penny Williams di Gedung Parlemen Jakarta. Dalam kesempatan itu, Bamsoet menyinggung soal kerja sama Australia-UK-US (AUKUS) hingga jalinan kerja sama antara RI dan Australia.

Bamsoet menyampaikan AUKUS yang fokus pada peningkatan kapasitas Angkatan Laut Australia (RAN) selama 18 bulan di bidang pembuatan kapal selam bertenaga nuklir serta kemampuan bawah laut lainnya, jangan sampai mendorong berkembangnya perlombaan senjata dan meningkatkan tren unjuk kekuatan militer antar berbagai negara dunia.

"Duta Besar Australia untuk Indonesia, H.E. Ms. Penny Williams, menjelaskan propeller kapal selam yang ditingkatkan Australia melalui AUKUS menggunakan kekuatan nuklir, bukan kapal selam yang akan membawa senjata nuklir. AUKUS bukanlah sebuah perjanjian (treaty) atau pakta (pact) tetapi pengelolaan keamanan (security arrangement). Sehingga, AUKUS bukanlah untuk membangun kemampuan nuklir sipil," jelas Bamsoet dalam keterangannya, Senin (11/10).

"Australia tetap mendukung perjanjian non-proliferasi nuklir, serta tetap berkomitmen menjaga perdamaian kawasan. Sebagai tetangga terdekat, kita sangat mengapresiasi komitmen tersebut, dan berharap bisa diimplementasikan dengan baik," imbuhnya.

Ketua DPR RI ke-20 dan Mantan Ketua Komisi III Bidang Hukum dan Keamanan DPR RI ini menjelaskan Australia juga mendukung kedaulatan Indonesia, termasuk terhadap keberadaan Papua dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia menyatakan relasi RI dan Australia dilandasi asas saling menghormati dan saling mendukung kedaulatan, kesatuan, kemerdekaan, dan integritas wilayah, sebagaimana tertuang dalam Agreement between Australia and the Republic of Indonesia on the Framework for Security Cooperation/Lombok Treaty yang ditandatangani pada 13 November 2006.

"Selain kerja sama di bidang politik dan pertahanan, kita juga memiliki kerja sama di bidang ekonomi, yang diimplementasikan melalui IA CEPA (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership). Diberlakukan pada 5 Juli 2020, untuk memperluas pasar produk Indonesia, kerja sama investasi dan penempatan tenaga kerja terampil Indonesia," papar Bamsoet.

Kepala Badan Penegakan Hukum, Keamanan, dan Pertahanan KADIN Indonesia ini juga menekankan pentingnya peningkatan ekspor sawit Indonesia ke Australia. Bamsoet menyoroti masih adanya beberapa hambatan perdagangan produk Indonesia ke Australia, antara lain hambatan non tarif seperti tingginya standar karantina, tuduhan dumping untuk komoditas kertas dan baja, failed products yang dikenakan terhadap beberapa produk ekspor Indonesia ke Australia, dan persyaratan packaging serta labelling lainnya.

"Melalui IA-CEPA, kita harap berbagai hambatan tersebut bisa diatasi. Sekaligus meningkatkan investasi Australia di Indonesia. Australia merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia. Di tahun 2018, jumlah investasinya mencapai US$ 597,43 juta yang tersebar di 1.066 proyek. Di tahun 2019 mencapai US$ 348,27 juta yang tersebar di 1.378 proyek. Sementara di tahun 2020, investasinya tercatat mencapai US$ 348,55 juta yang tersebar di 1.665 proyek. Sedangkan di Q1-Q2 2021, nilai investasinya tercatat sudah mencapai US$ 100,66 juta yang tersebar di 803 proyek. Kita harap ke depannya jumlah tersebut bisa semakin ditingkatkan," urai Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini juga menyambut baik kehadiran kampus Monash University Indonesia di Green Office Park 9, Bumi Serpong Damai (BSD) City, Tangerang Selatan. Keberadaan universitas tersebut dipandang Bamsoet sebagai upaya peningkatan pendidikan antara Australia dengan Indonesia, yang dapat berkontribusi bagi peningkatan pembangunan sosial dan teknologi.

"Monash University Indonesia yang fokus pada empat jurusan di program pascasarjana, yakni Sains Data (Data Science), Kebijakan Publik (Public Policy), Desain Perkotaan (Urban Design) dan Inovasi Bisnis (Business Innovation), juga harus bisa bekerja sama dengan kampus negeri di berbagai wilayah Indonesia. Sehingga ada kolaborasi antara kampus negeri dengan kampus asing, dalam meningkatkan mutu pendidikan dan hasil peserta didik Indonesia," sebut Bamsoet. (detikcom/d)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com