Kasus TKI di Malaysia

Ayah Jonatan Temui Kemenlu RI, Mohon Anaknya Tidak Dihukum Mati


775 view
Foto: dok Tim Advokasi
Datang ke Kemenlu: Ayah Jonatan Asdin Sihotang(2 dari kiri), Sekretaris Tim Advokasi Patar Sihotang,ketua tim advokasi Tommy Sihotang dan Sekjen DPP PPRSSBI Odjak Sihotang(paling kanan) di Kemenlu,Kamis(6/8).
Medan (SIB)
Asdin Sihotang,warga Pematangsiantar,Kamis(6/8) memenuhi undangan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI di Jakarta,sehubungan kasus yang dihadapi putranya Jonatan Sihotang, TKI ,yang kini proses sidang pengadilan di Penang Malaysia, dengan ancaman hukuman mati atas dakwaan membunuh majikan dan menganiaya anak majikannya. Hal itu diinformasikan Patar Sihotang SH MH selaku Sekretaris Tim Advokasi kasus Jonatan Sihotang, kepada SIB via WA ,Kamis (6/8).

“Kepada pejabat Kemenlu dalam pertemuan itu,Asdin Sihotang atas nama anaknya Jonatan Sihotang dan atas nama keluarga serta atas nama Perkumpulan Sihotang memohon kepada negara dan pemerintah agar dapat menolong dan mengupayakan anaknya Jonatan Sihotang tidak sampai hukuman mati,” ungkap Patar Sihotang yang juga Chairman Human Trafficking Watch (HTW).

Asdin Sihotang merasa terbantu dapat segera memenuhi undangan Kemenlu RI difasilitasi Ketua DPD PPRSSB Sumut-Aceh Drs Manahan Sihotang (Par Pupuk) dan Ketua DPC PPRSSB (Punguan Pomparan Raja Sigodangulu Sihotang dohot Boruna) Pematangsiantar Agus Sihotang (Lapo Hotang). Sedangkan di Jakarta dan untuk bertemu pejabat berwenang di Kemenlu, Asdin Sihotang didampingi Odjak Sihotang,DR Tommy Sihotang SH LLM dan Patar Sihotang SH MH.Kehadiran mereka diterima Yudha Nugraha selaku Direktur Perlindungan Warga Negara dan Badan Hukum Kemenlu.

Disebutkan, DPP PPRSSBI (Punguan Pomparan Raja Sigdangulu Sihotang Boru Indonesia) yang diketuai Henry Sihotang dan Sekjen Drs Odjak Sihotang telah mengatensi kasus anggota Sihotang ini dengan membentuk Tim Advokasi dan Tim Media dengan beberapa anggota.Tim advokasi diketuai advokat DR Tommy Sihotang SH LLM dan sekretaris Patar Sihotang SH MH, sedangkan tim media diketuai Lesson Sihotang SH MH dan sekretaris Martohap Simarsoit SH (wartawan SIB).

Menurut Patar,pada pertemuan itu pejabat Kemenlu RI menjelaskan, Jonatan pada Desember 2018 ditangkap kepolisian Malaysia dan disidangkan dengan 2 dakwaan yaitu pembunuhan dan penganiayaan.Sidang selanjutnya akan dilaksanakan tanggal 15,16 dan 17 Oktober 2020 untuk pemeriksaan saksi- saksi yang artinya belum putusan akhir, tetapi masih ada rangkaian pesidangan sesuai hukum di Malaysia.

Dalam kasus Jonatan,kata Patar, negara telah hadir melalui Kemenlu dan Direktur Perlindungan Warga Indonesia beserta KBRI di Kualalumpur dan KJRI di Penang,secara bersama-sama melaksanakan tugas perlindungan kepada warga negeri yang bermasalah sesuai dengan Undang- Undang.Para pejabat terkait tersebut telah melakukan langkah-langkah antara lain koordinasi ke pejabat kepolisian Malaysia,menjenguk Jonatan dan menunjuk kantor pengacara terkenal di Malaysa untuk melakukan pembelaan terhadap Jonatan Sihotang yang didakwa hukuman mati.

Menurut Patar, pihak Kemenlu akan berusaha melakukan upaya penyelesaian secara konsuler dan secara diplomatik sesuai aturan hukum yang berlaku secara internasional dan tetap menghormati kedaulatan hukum Malaysia.Apabila keluarga ingin bertemu Jonatan, dapat di fasilitasi KJRI Penang.

Tommy Sihotang dan Odjak Sihotang menyatakan perkumpulan marga Sihotang berterima-kasih kepada pemerintah RI cq Kemenlu yang telah mengundang dan menjelaskan tentang kronologis kasus dan upaya penyelesaian serta perlindungan sesuai hukum yang berlaku.

”Kami berharap Negara dan pemerintah benar-benar memerhatikan nasib Jonatan Sihotang, karena pidana mati bertentangan dengan HAM," kata mereka.
Sebelumnya diberitakan,Jonatan Sihotang disidang di Mahkamah Majistret pada 31 Desember 2018 atas dakwaan melakukan pembunuhan terhadap majikannya, Sia Seok Nee (44). Jonatan juga didakwa melakukan penganiayaan terhadap dua anak laki-laki majikannya tersebut.Jonatan diancam hukuman mati ketika menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Penang,Malaysia pada 1 Februari 2019. Pada sidang itu, pihak KJRI mengutus pembela yang mendampingi Jonatan.

Berdasarkan proses sidang,Jonatan melakukan perbuatannya karena merasa kecewa majikannya menolak untuk memberikan sisa gajinya. Awalnya, majikan Jonatan menjanjikan uang sebesar RM15.000. Pada akhirnya, majikan Jonatan hanya memberi senilai RM 3000.Dalam persidangan juga dikatakan Jonatan yang memiliki dua orang anak masih kecil dan seorang istri, kini merenung di penjara dan mengakui perbuatannya. (rel/BR1/c)
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com