BNPB: Adonara dan Lembata Terdampak Bencana Paling Parah di NTT


167 view
BNPB: Adonara dan Lembata Terdampak Bencana Paling Parah di NTT
(Foto:Dok Okezone)
Bencana alam melanda Nusa Tenggara Timur (NTT).
Jakarta (SIB)
Kepala BNPB Doni Monardo mengungkapkan ada sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak paling parah bencana banjir bandang dan tanah longsor. Sejumlah wilayah itu yakni Pulau Adonara, Flores Timur dan Kabupaten Lembata.

"Paling parah, yang pertama adalah Adonara dan Lembata. Di mana masih ada sejumlah korban hilang, masih belum ditemukan, termasuk Kabupaten Alor," kata Doni dalam jumpa pers virtual, Selasa (6/4).

Doni merinci, hingga kini setidaknya 500 unit rumah rusak berat akibat bencana alam yang melanda Kabupaten Alor dan Pulau Adonara. Sementara, untuk Kabupaten Lembata, lebih dari 300 unit rumah mengalami kerusakan.

"Sementara itu juga yang rusak berat, baik dari Alor, kemudian Lembata dan Adonara total jumlahnya mencapai mendekati 500 unit, hanya memang dalam catatan di sini yang belum masuk Lembata. Barusan Pak Bupati mengatakan di Lembata itu rumah yang rusak berat di Lembata berjumlah 224 unit, yang rusak sedang 15 unit, dan rusak ringan 75 unit," papar dia.

Doni melanjutkan, khusus wilayah Lembata, ada 2 desa yang terdampak paling besar. Sebab, kedua desa tersebut berada di kaki Gunung Ile Lewotolok.

Dia mengatakan, warga di kaki gunung berapi itu sebelumnya memang sudah direncanakan untuk direlokasi. Namun, sebelum terealisasi, bencana alam sudah menghantam kawasan tersebut. Untuk diketahui, Gunung Ile Lewotolok berstatus siaga III.

"Khusus Lembata, 2 desa itu terdampak paling besar berada di kaki Gunung Ile Lewotolok yang seharusnya dalam beberapa waktu terakhir ini. Pemerintah daerah sudah merencanakan untuk merelokasi warga di sana, namun karena adanya badai siklon ini akhirnya terdampak paling banyak," papar Doni.

Doni memastikan, pihaknya bersama Kementerian PUPR akan merancang strategi untuk merelokasi warga di dua desa di kaki Gunung Ile Lewotolok. Selain itu, dapur umum juga akan didirikan untuk memenuhi kebutuhan pangan warga.

"Kami dari BNPB bersama dengan PUPR nantinya akan merancang agar masyarakat dan warga di sana dapat direlokasi, yang berikutnya tim gabungan dari Kemensos dan TNI, Polri telah membangun dapur lapangan di hampir semua titik, sehingga diharapkan tidak ada masyarakat yang tidak mendapat pasokan logistik," kata dia.

128 Meninggal
Korban meninggal akibat bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah. BNPB menyebut 128 orang meninggal akibat bencana banjir dan longsor karena Siklon Tropis Seroja.

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, menyebut berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB per Senin (5/4), pukul 23.00 WIB, total warga meninggal dunia berjumlah 128 warga selama cuaca ekstrem berlangsung di beberapa wilayah tersebut, dengan rincian Kabupaten Lembata 67 orang, Flores Timur 49, dan Alor 12. Total korban hilang mencapai 72 orang, dengan rincian Kabupaten Alor 28 orang, Flores Timur 23, dan Lembata 21.

"Sebanyak 2.019 kartu keluarga (KK) atau 8.424 warga mengungsi serta 1.083 KK atau 2.683 warga lainnya terdampak. Pemerintah daerah terus memutakhirkan data dari kaji cepat di lapangan," kata Raditya dalam keterangan tertulis, Selasa (6/4).

Raditya warga mengatakan warga mengungsi tersebar di lima kabupaten di wilayah Provinsi NTT. Menurutnya, pengungsian terbesar berada di Kabupaten Sumba Timur dengan jumlah 7.212 jiwa atau 1.803 KK, Lembata 958 jiwa, Rote Ndao 672 jiwa atau 153 KK, Sumba Barat 284 jiwa atau 63 KK, dan Flores Timur 256 jiwa.

Siklon tropis ini berdampak di delapan wilayah administrasi kabupaten dan kota. Di antaranya di Kota Kupang, Kabupaten Flores Timur, Malaka, Lembata, Ngada, Sumba Barat, Sumba Timur, Rote Ndao, dan Alor.

Bencana cuaca ekstrem di beberapa wilayah tadi juga berdampak pada sejumlah kerugian. Total ada 1.962 unit rumah terdampak, 119 unit rumah rusak berat (RB), 118 unit rumah rusak sedang (RS), dan 34 unit rumah rusak ringan (RR).
Sedangkan fasilitas umum (fasum) 14 unit RB, 1 RR, dan 84 unit lain terdampak.

Terkait pascakejadian, BPBD kabupaten dan kota dibantu dengan multipihak masih terus melakukan penanganan darurat bencana, seperti evakuasi, penyelamatan, pelayanan di pengungsian, distribusi logistik maupun pembukaan akses ke wilayah terisolasi. Kementerian dan lembaga di bawah kendali BNPB juga memberikan dukungan kepada pemerintah daerah yang terdampak siklon tropis Seroja tersebut. (detikNews/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com