BPOM Temukan Obat dan Kosmetik Berbahaya Diklaim Kebal Covid

* 202 Item Obat Tradisional, Suplemen dan Kosmetik Gunakan Bahan yang Dilarang

97 view
BPOM Temukan Obat dan Kosmetik Berbahaya Diklaim Kebal Covid
CNN Indonesia/Andry Novelino
Foto ilustrasi.
Jakarta (SIB)
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan peningkatan peredaran obat tradisional, suplemen kesehatan, serta kosmetik yang mengandung bahan kimia berbahaya selama pandemi Covid-19.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM Reri Indriani menduga, peningkatan peredaran tersebut erat kaitannya dengan kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia.

Reri mengatakan berdasarkan temuan di lapangan, produk-produk berbahaya tersebut diketahui menarik minat masyarakat melalui klaim menjaga kesehatan maupun daya tahan tubuh dari Covid-19.

"Sepanjang pandemi ini BPOM secara rutin melakukan kegiatan sampling dan pengujian terhadap produk yang dikaitkan dengan penanganan pandemi Covid-19," jelasnya dalam konferensi pers, Rabu (13/10).

BPOM mencatat, ada 53 jenis obat tradisional, 1 suplemen kesehatan, dan 18 kosmetik yang mengandung bahan kimia berbahaya dan dijual secara bebas di masyarakat.

Reri menjelaskan, temuan tersebut berasal dari 73 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BPOM yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia selama periode Juli 2020-September 2021.

Lebih lanjut, ia mengatakan pihaknya juga menemukan kecenderungan penggunaan jenis bahan kimia berbahaya tertentu yang baru ditemukan pada masa pandemi Covid-19 ini.

"Yaitu penggunaan bahan kimia berbahaya efedrin dan pseudoefedrin yang sebelum pandemi hampir tidak pernah ditemukan sebagai Bahan Kimia Obat (BKO) dalam obat tradisional," jelasnya.

Reri mengingatkan bahwasanya penggunaan jenis bahan kimia tersebut sebagai pencegahan dan penyembuhan Covid-19 tidaklah tepat, bahkan berbahaya.

Ia mengatakan dari hasil kajian yang melibatkan para ahli dan asosiasi profesi kesehatan dalam negeri, obat-obatan tradisional yang mengandung bahan kimia tersebut terbukti tidak dapat menahan laju keparahan pasien Covid-19.

"Pun tidak menurunkan angka kematian dan tidak mempercepat konversi hasil swab test menjadi negatif," ujarnya.

Terlebih, tanaman Ephedra Sinica yang secara alami mengandung bahan kimia tersebut juga telah dilarang sebagai bahan Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan sesuai PerkaPOM Nomor HK.00.05.41.1384 Tahun 2005 dan PerBPOM Nomor 11 Tahun 2020.

Bahan Dilarang
BPOM juga menerima laporan sedikitnya 202 item obat tradisional dan suplemen kesehatan dan juga 97 item kosmetik yang mengandung BKO atau bahan dilarang.

Dari temuan, pengujian, dan laporan tersebut telah ditindaklanjuti Badan POM dengan melakukan pembersihan pasar dengan melakukan penertiban pada fasilitas produksi dan distribusi, perintah penarikan dan pemusnahan produk, pembatalan nomor izin edar dan juga pro-justitia oleh Badan POM jika ditemukan adanya indikasi pidana.

Reri mengatakan, untuk obat tradisional dan suplemen kesehatan berdasarkan hasil tindak lanjut kegiatan tersebut selama bulan Juli 2020 sampai September 2021 telah dilakukan pemeriksaan terhadap 3.382 fasilitas produksi dan distribusi.

Badan POM melakukan pemusnahan produk dengan nilai ekonomi sebesar Rp21,5 miliar dan pembatalan 27 nomor izin edar produk. Dan sebanyak 69 perkara telah dilakukan proses pro-justitia dengan hukuman tertinggi 2 tahun penjara dan denda Rp250 juta subsider 3 bulan," kata Reri dalam konferensi pers, Rabu (13/10).

Untuk tindak lanjut produk kecantikan telah dilakukan penertiban terhadap 4.862 fasilitas sarana produksi dan distribusi. Badan POM juga melakukan pemusnahan kosmetik dengan nilai ekonomi Rp42 miliar.

Juga dilakukan pembatalan 18 nomor izin edar produk dan sebanyak 89 perkara telah diproses secara pro-justitia dengan hukuman tertinggi 2 tahun penjara dan denda Rp25 juta subsider 2 bulan," ucapnya.

Reri mengatakan selama masa pandemi, pembelian menggunakan sistem daring memang cenderung meningkat, sehingga rawan disalahgunakan oknum yang tidak bertanggung jawab.

Oleh sebab itu, ia mengimbau agar masyarakat hanya membeli obat dan makanan yang mencantumkan izin edar BPOM sehingga mutu dan kualitas makanan bisa dipertanggungjawabkan.

"Selalu cek kemasan, label, izin edar, dan kadaluarsa produk yang ingin dibeli. Pastikan ada izin edar dari BPOM," ujarnya. (CNNI/MetroTV/Dik/TM/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com