Bamsoet Ajak Puteri Anak dan Remaja Indonesia Sebarkan Vaksin Ideologi


208 view
Bamsoet Ajak Puteri Anak dan Remaja Indonesia Sebarkan Vaksin Ideologi
Foto: MPR
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet).

Jakarta (SIB)


Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengingatkan seluruh masyarakat, khususnya generasi muda jika perkembangan media informasi media sosial dan komunikasi yang berkembang pesat saat ini telah mendorong percepatan proses diseminasi informasi.

Perkembangan informasi dan pesatnya kemajuan teknologi informasi tersebut juga telah membawa masyarakat pada era disrupsi, era digital, era 'the internet of things' dan berbagai tantangan kebangsaan lainnya, termasuk dalam membangun wawasan kebangsaan.

"Karenanya, membangun wawasan kebangsaan di era digital mempunyai tantangan yang lebih kompleks. Loncatan kemajuan teknologi informasi ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi menawarkan efisiensi dan simplifikasi dalam berbagai bidang kehidupan.

Namun, disisi lain lain juga berpotensi menghasilkan residu dan dampak negatif pada dimensi kehidupan kebangsaan kita." ujar Bamsoet usai pertemuan dengan Puteri Anak dan Remaja Indonesia Bali 2022, Selasa (13/9).

"Fenomena ini dapat dirasakan dalam bentuk melemahnya rasa toleransi dalam keberagaman, demoralisasi generasi muda bangsa, tergerusnya kearifan lokal dan nilai-nilai luhur adat budaya bangsa, serta hadirnya faham-faham dan produk-produk yang dikemas menarik, khususnya bagi generasi muda," imbuhnya.

Lebih lanjut, Ketua DPR RI ke-20 ini menjelaskan berdasarkan data Digital Report 2021, diperkirakan bahwa pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 telah mencapai 202,6 juta jiwa. Berarti, akses publik terhadap layanan koneksi internet jangkauannya semakin luas, walaupun dari aspek pemerataan belum optimal.

"Namun sayangnya, besarnya angka pengguna internet tersebut tidak diimbangi dengan tingkat keadaban yang memadai. Hasil riset Digital Civility Index (DCI) menyebutkan bahwa etika dan tingkat keadaban warganet di Indonesia kian rendah. Indonesia berada di peringkat ke-29 dari 32 negara yang disurvei. Rendahnya etika berinternet tersebut ditandai dengan maraknya berita bohong dan penipuan di internet sekitar 47%, ujaran kebencian sekitar 27% serta diskriminasi sekitar 13%," kata Bamsoet.

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com