Bamsoet Ungkap 4 Alasan Pentingnya Modernisasi Beragama, Apa Saja?


303 view
Bamsoet Ungkap 4 Alasan Pentingnya Modernisasi Beragama, Apa Saja?
Foto: Antara/Indriani
SAMBUTAN: Tangkapan layar Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesatyo memberikan sambutan dalam perayaan Dharma Santi Nasional Tahun 1944 yang dipantau di Jakarta, Minggu (10/4). 

Jakarta (SIB)

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan, dewasa ini membangun modernisasi dalam kehidupan beragama menjadi isu penting. Paling tidak ada 4 alasan mengapa modernisasi beragama dinilai penting, apa saja?


Bamsoet mengungkapkan hal pertama yaitu Indonesia merupakan negara majemuk dengan dari sekian banyak penduduknya, ada 6 agama berbeda serta 10 aliran kepercayaan.


"Dengan kemajemukan tersebut, modernisasi dalam kehidupan beragama akan menjadi faktor kunci terwujudnya harmoni dan kerukunan umat beragama," imbuh Bamsoet dalam acara Dharma Santi Nasional, Minggu (10/4).


Kedua, lanjut Bamsoet, dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa, kerukunan umat beragama bukanlah sesuatu yang statis, melainkan terus berkembang secara dinamis.


Ia pun membeberkan data indeks kerukunan umat beragama yang mengalami pasang surut sejak tahun 2017. Di tahun 2017, indeks kerukunan beragama diungkapkan Bamsoet berada di angka 72,27, kemudian di 2018 turun menjadi 70,9.


"Tahun 2019 kembali naik lagi menjadi 73,8, dan 2020 yang lalu turun lagi menjadi 67,46 dan tahun 2021 naik kembali menjadi 72,39 dan saya yakin ke depan dengan kepemimpinan Menteri Agama hari ini akan naik lagi ke atas," katanya.


Bamsoet melanjutkan yang ketiga adalah kehidupan berdemokrasi menjamin kebebasan untuk mengutarakan pendapat dalam segala bidang termasuk dalam keagamaan. Menurut Bamsoet, diskusi keagamaan di ruang publik sangat mungkin akan bersinggungan dengan isu-isu sensitif dan dapat menimbulkan kesalahpahaman karena adanya perbedaan literasi keagamaan.


Menurut Bamsoet, dampak paling ekstrem yang bisa terjadi karena hal tersebut adalah agama disalahgunakan menjadi alat pembenaran untuk melakukan tindakan intoleransi dan kekerasan atas nama agama.


Selanjutnya yang keempat, Bamsoet melihat saat ini isu modernisasi dalam beragama telah menjadi sebuah isu global. Hal ini berkaca dari intoleransi yang telah menyebabkan kebebasan beragama di seluruh dunia menghadapi tekanan.


"Hari toleransi sedunia setiap tanggal 16 November yang telah ditetapkan PBB berangkat dari kenyataan bahwa sikap intoleransi dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam kehidupan beragama adalah ancaman yang harus disikapi bersama oleh komunitas global," imbuh Bamsoet.


Meski begitu, Bamsoet mengungkapkan modernisasi dalam kehidupan beragama tidak dimaknai untuk mengabaikan ajaran dan nilai agama, karena sesungguhnya nilai agama akan selalu melekat kehidupan sehari-hari.


Bamsoet mengutarakan tantangan modernisasi agama harus disinergikan dan dikolaborasikan dari segenap elemen dari masing-masing umat beragama. Ia juga mengingatkan agar tidak mudah terpengaruh dengan orang-orang yang memakai agama untuk menebar kebencian.


"Jangan percaya kalau ada orang memakai agama untuk menebarkan kebencian, karena sesungguhnya puncak dari agama adalah cinta. Mungkin ada di antara kita yang tidak seiman tapi percaya kita semua satu dalam kemanusiaan," pungkas Bamsoet. (detikcom/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: KORAN SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com