Pakar Lingkungan Jaya Arjuna Soal Banjir Rob di Medan Utara:

Banjir akan Berulang Bila Muara Sungai Belawan Tidak Dikeruk Rutin


150 view
Banjir akan Berulang Bila Muara Sungai Belawan Tidak Dikeruk Rutin
Foto Dok
Jaya Arjuna, Jonathan Tarigan
Medan (SIB)
Kalangan pakar lingkungan hidup di daerah ini menegaskan banjir di sekitar Belawan atau kawasan Medan bagian utara, akan terus berulang bila muara sungai di Belawan tidak dikeruk secara rutin dengan volume kerukan yang sesuai dengan periode kerawanan banjir lanjutan.

"Banjir rob di Belawan atau Medan bagian utara akan tetap terulang sebelum dilakukan pengerukan muara sungai dan pengorekan saluran drainase sekunder serta parit-parit yang ada di setiap penjuru pemukiman. Ingat, secara histori dan topografi Belawan itu rawan banjir dari dua arah, yaitu banjir kiriman dari kawasan hulu Medan, dan banjir rob dari hempasan laut atau air pasang. Belum lagi faktor ketiga berupa hujan deras yang berintensitas tinggi," ujar Jaya Arjuna, pakar lingkungan hidup dari USU, kepada SIB di Medan, Jumat (8/10).

Hal senada dicetuskan ahli geologi Ir Jonathan Ikuten Tarigan, bahwa kerawanan Belawan atau Medan bagian utara terhadap banjir rutin dan berulang, juga dipicu kondisi seluruh lokasi di Medan bagian utara sudah terimbas serangan arus dari 11 objek eks daerah resapan air (DRA), khususnya di area Medan Labuhan, Medan Marelan, Medan Belawan dan sekitarnya serperti Tanjungmulia dan Tanah Enamratus.

"Perulangan banjir rob di Belawan atau wilayah utara Medan dari tahun ke tahun ini, juga menimbulkan pertanyaan publik soal realisasi proyek-proyek normalisasi sungai yang digaungkan selama ini. Misalnya proyek normalisasi enam sungai dan pengerukan serta pelebaran alur sungai sepanjang inti kota Medan hingga muara sungai di Belawan. Tapi lihatlah kenyataannya, banjir ini terkesan dipelihara," ujar Jonathan prihatin.

Jaya Arjuna dan Jonathan Tarigan mengutarakan hal itu ketika mencermati peristiwa besar banjir rob di Belawan pada Kamis (7/10), yang telah menggenangi ribuan rumah penduduk sekitar. Peristiwa ini mirip dengan banjir serupa di Belawan pada 12 Agustus lalu, pada 26 Mei dan pada 27 April lalu.

Secara khusus, Jaya Arjuna menayangkan konsep dan disain rencana kerja proyek untuk penanganan banjir secara intensif di kawasan Medan bagian utara. Disain dengan tahapan mulai dari teknis penanganan alur sungai dengan sampel seluruh peralatan (alat-alat berat) untuk kendali arus serta kelola drainasi primer hingga sekunder, Jaya Arjuna dengan optimis proyek itu akan lebih efisien dan efektif dengan total biaya sekitar Rp 350 miliar saja.

"Semula, taksasi biaya penanganan banjir rob di Belawan ini mencapai Rp 6 triliun, dan ini angka terlalu fantastis dan terkesan mengada-ngada. Tim ahli kami telah mengkalkulasikan biaya atau anggaran penanganannya cukup Rp350-an miliar saja dan selesai dalam dua tahun. Tapi entah kenapa instansi terkait tidak meresponnya, temu diskusi adu argumen dan uji matematispun tidak berkenan, ada apa?" ujar Jaya Arjuna.

Selama ini, lanjut dia, publik kota Medan dari kalangan warga dan dunia usaha terus memertanyakan realisasi penanganan banjir kota Medan, khususnya soal proyek normalisasi empat sungai yang melintasi kota Medan, yaitu paket normalisasi untuk peningkatan kapasitas berupa pengerukan dan pelebaran Sungai Deli mulai dari hulu Sungai Babura hingga sungai di Titikuning sepanjang 7,5 km, Sungai Deli mulai titik temu arus dari Sungai Babura hingga Sungai Bekala sepanjang 16 km, Sungai Batugingging mulai Kota Lubukpakam hingga Sungai Serdang sepanjang 8,9 km, dan Sungai Belawan mulai dari muara hingga titik temu arus di Sungai Brantas dan anak sungai sekitar, sepanjang 37,5 km.

Bahkan, menurut Jonathan Tarigan, peristiwa berulang banjir rob di Belawan dari tahun ke tahun menunjukkan pekerjaan atau proyek-proyek teknis kendali banjir selama ini ternyata tidak maksimal. Ironisnya, ada kesan terjadinya banjir merupakan kesalahan masyarakat yang buang sampah ke sungai dan saluran drainase selama ini (SIB 17/3).

"Pihak PUPR selama ini mempublisir fenomena bahwa 40 persen banjir di kota disebabkan faktor 'humanis' atau prilaku manusia seperti pertambahan populasi dan perkembangan properti di area tepian sungai yang seharusnya menjadi area bantaran bebas, dan juga akibat sulitnya pembebasan lahan di area-area akses utama. Tapi hingga kini kita publik belum tahu, bagaimana sudah realisasi pekerjaan itu, apa sudah aman sungai-sungai itu menampung dan mengalirkan arus banjir bila hujan deras tiba atau arus kiriman dari hulu meluap lagi?. Lalu, tentang banjir rob yang di Belawan apakah jadi alasan atau kambing hitam menyalahkan masyarakat, padahal karena muara sungai di Belawan itu nyaris tak pernah optimal apalagi maksimal pengerukannya," kata Tarigan. (A5/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com