* Mobilitas Warga Meningkat Signifikan

Banten, Jabar, Jateng dan Jatim Dapat Peringatan Keras WHO

* Menkes Siapkan Jurus Pandemi Jadi Endemi

180 view
Banten, Jabar, Jateng dan Jatim Dapat Peringatan Keras WHO
Edward Ricardo
Foto: Infografis/ WHO Beri Peringatan ke RI
Jakarta (SIB)
Badan Kesehatan Dunia memberi peringatan kepada beberapa daerah di Indonesia. Hal ini akibat meningkat signifikannya mobilitas warga RI seiring dengan pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Setidaknya ada empat wilayah yang disorot WHO. Yakni Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Ada peningkatan signifikan mobilitas masyarakat di bidang ritel dan rekreasi yang telah mencapai prapandemi," tulis terbaru WHO "Covid-19 Situation Report-72", dikutip Jumat (17/9).

Karenanya, WHO meminta rencana antisipasi dan mitigasi. Ada kemungkinan, peningkatan mobilitas akan berdampak pada transmisi Covid-19 yang berujung pada kenaikan kasus kembali.

Ini, dikatakan WHO, bisa meningkatkan kapasitas sistem kesehatan nasional dan daerah.

Sebelumnya dalam catatan WHO, RI mengalami penurunan 30% kasus di rentang tanggal 6 hingga 12 September, jika dibanding dengan minggu sebelumnya. Kematian di waktu yang sama juga menurun 23%.

Bukan hanya itu, di wilayah Jawa Bali terlihat jelas bagaimana kasus mulai turun selama seminggu. Namun, WHO masih mencatat penurunan di level moderat di luar Jawa-Bali.

Karenanya, WHO meminta RI mengevaluasi tren ini. "Provinsi dan level analisis daerah harus mengevaluasi tren ini," ujar laporan itu lagi.

Persiapkan
Terpisah, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, punya sejumlah strategi untuk mengendalikan Covid-19 dari pandemi menjadi endemi dan mentransformasi industri kesehatan.

Untuk mengendalikan Covid-19 dari pandemi menjadi endemi salah satu caranya untuk menekan laju penularan. Namun, ditegaskan Budi vaksinasi bukan satu-satunya strategi. Ada beberapa yang tak kalah penting.

"Ada empat, 3 itu sifatnya strategi, dan satu strategi kepepet mencakup keperawatan di rumah sakit itu kepepet yang penting di depan deteksi. Nah vaksinasi salah satu di antaranya bukan the only strategy," jelas dia dalam acara Wealth Wisdom 2021 secara virtual, Sabtu (18/9).

Budi mengatakan yang terpenting itu adalah penerapan 3 M, Memakai masker, Mencuci tangan dan Menjaga jarak. Kemudian deteksi dengan 3 T, Testing, Tracing dan Treatment.

"Contoh 3 M kalau kita pakai masker akan mengurangi laju penularan 95%. Kenapa sih kita harus Testing, Tracing dan Treatment, karena kita testnya cepat kita tahu siapa yang kena tracingnya cepat kita tahu siapa yang ditulari, kita isolasi cepat, mengurangi laju penularan," ujarnya.

Meski demikian, vaksinasi juga penting untuk membuat antibodi manusia itu siap akan paparan virus. Jadi, kata Budi apabila terpapar bisa mengurangi lamanya penyembuhan misal dari 14 hari hanya menjadi 5,4, atau 3 hari aja.

Lanjut Budi, untuk mengubah pandemi menjadi endemi itu bukan sesuatu yang mudah. Dia mengungkap dalam sejarah pandemi tidak ada yang selesai dengan cepat.

"Umat manusia mengalami pandemi sudah sering. Saya lihat sejarahnya itu Black Death puluhan juta yang meninggal, kemudian dalam perang dunia ada Spanish Flu, lalu ada Polio, Cacar. Yang paling cepet 5 tahun, polio mungkin ratusan tahun dan masih ada sekarang belum selesai-selesai," katanya.

Ke depan Budi diperintahkan Presiden Joko Widodo untuk mentransformasi industri kesehatan pasca pandemi Budi sudah menyiapkan 6 kerangka. Pertama, soal primary care atau perawatan kesehatan utama.

"Karena kita merasa itu yang paling penting jauh lebih efektif lebih murah lebih nyaman dibandingkan transformasi kedua yakni second re-care." lanjutnya.

Second re-care itu transformasi bagaimana layanan rujukan ke rumah sakit. Kerangka ketiga sistem ketahanan kesehatan. Keempat, sistem pembayaran kesehatan.

"Kelima, transformasi sumber daya kesehatan seperti orang-orang, khususnya dokter. Terakhir transformasi informasi teknologi kesehatan," pungkasnya. (CNBCI/detikfinance/d)


Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com