Banyak Jatuh Korban, Paus Fransiskus Desak Bentrok di Yerusalem Diakhiri

* Indonesia Desak Masyarakat Internasional Hentikan Aksi Kekerasan

599 view
Banyak Jatuh Korban, Paus Fransiskus Desak Bentrok di Yerusalem Diakhiri
Foto: REUTERS/Ronen Zvulun
BEREAKSI: Warga Palestina bereaksi ketika polisi Israel menembakkan granat setrum selama bentrokan di Laylat al-Qadr saat bulan suci Ramadhan, di Kota Tua Yerusalem, Sabtu (8/5).

Vatikan (SIB)

Paus Fransiskus menyerukan diakhirinya bentrokan dan kekerasan yang terjadi di Yerusalem Timur. Akibat bentrokan selama beberapa hari itu, sejumlah warga Palestina terluka.


Seperti dilansir, Minggu (9/5) setelah menyampaikan doa Regina Caeli dari jendela yang menghadap ke Lapangan Santo Petrus, Paus mengatakan dirinya mengikuti perkembangan pemberitaan yang terjadi di Yerusalem. Dirinya berdoa agar kedamaian bisa diwujudkan di Yerusalem.


"Saya mengajak semua orang untuk mencari resolusi bersama sehingga identitas multi-agama dan multi-budaya kota suci bisa dihormati dan agar persaudaraan bisa menang," katanya.


"Kekerasan hanya menghasilkan kekerasan. Mari kita hentikan bentrokan ini." imbuhnya.


Ketegangan antara warga Palestina dan Polisi Israel memuncak, Minggu (9/5) usai ratusan warga Palestina terluka. Bentrokan ini memicu kekhawatiran dari publik global karena takut kekerasan akan menyebar lebih parah.


Kekerasan di sekitar kompleks masjid Al-Aqsa dan Kota Tua, sebagian besar terjadi pada malam hari, adalah yang terburuk sejak 2017. Bentrokan ini terjadi usai adanya upaya pemukim Yahudi untuk mengambil alih rumah-rumah warga Palestina di Yerusalem Timur.


Sengketa terkait pemukiman memicu pertikaian antara warga Palestina dan pemukim Yahudi di Sheikh Jarrah. Kasus hukum terjadi usai empat rumah keluarga Palestina diklaim oleh pemukim Yahudi.


Pengadilan distrik Yerusalem memutuskan rumah-rumah itu adalah milik keluarga Yahudi yang melakukan pembelian tanah beberapa dekade lalu. Pengklaim menyebut mereka kehilangan tanah saat perang 1948 silam.


Tak terima dengan keputusan pengadilan, empat keluarga Palestina itu juga menyampaikn bukti kepemilikan rumah. Diketahui rumah yang kini mereka tempati diperoleh dari otoritas Yordania yang menguasai Yerusalem Timur antara tahun 1948 hingga 1967 silam. Otoritas Yordania melakukan intervensi dalam kasus ini, dengan menyediakan dokumen untuk mendukung klaim keluarga Palestina.


Rencananya, sidang terkait sengketa tanah akan kembali digelar oleh Mahkamah Agung Israel, Senin (10/5) hari ini.


Kecam

Sementara itu, Indonesia juga mengecam keras aksi polisi Israel di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, saat bentrok dengan warga sipil. Melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu), pemerintah Indonesia mengatakan tindakan kekerasan itu melukai perasaan umat Islam.


"Indonesia juga mengecam tindak kekerasan terhadap warga sipil Palestina di wilayah Masjid Al-Aqsa yang menyebabkan ratusan korban luka-luka dan melukai perasaan umat muslim," kata Kemlu, melalui akun Twitter-nya, Minggu (9/5).


Indonesia juga mengecam pengusiran paksa 6 warga Palestina dari wilayah Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur. Pengusiran paksa dan tindakan kekerasan di Masjid Al-Aqsa itu dinilai bertentangan dengan resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB.


"Pengusiran paksa dan tindakan kekerasan tersebut bertentangan dengan berbagai resolusi DK PBB, hukum humaniter internasional, khususnya Konvensi Jenewa IV tahun 1949, dan berpotensi menyebabkan ketegangan dan instabilitas di kawasan," tutur Kemlu.


Kemlu mengatakan pengusiran paksa dan tindakan kekerasan terhadap warga Palestina itu bisa menyebabkan ketegangan di kawasan. Karena itu, Indonesia pun mendesak masyarakat internasional melakukan langkah nyata untuk menghentikan tindakan aparat Israel itu.


"Mendesak masyarakat internasional lakukan langkah nyata untuk menghentikan langkah pengusiran paksa warga Palestina dan penggunaan kekerasan terhadap warga sipil," lanjut Kemlu.


Wakil Menteri Agama RI Zainut Tauhid Sa'adi juga mengungkapkan keprihatinannya atas tindak kekerasan yang dilakukan polisi Israel itu. Zainut menyebut tindakan tersebut melanggar hak asasi manusia.


"Tindakan membubarkan ribuan jemaah yang menggelar salat tarawih di masjid Al-Aqsa untuk menyambut Lailatul Qadar, malam paling suci di bulan Ramadan, adalah perbuatan yang sangat keji dan bentuk pelanggaran hak asasi manusia," kata Zainut dalam keterangan tertulis, Minggu (9/5).


Politikus PPP itu juga menyoroti aksi pengusiran paksa 6 warga Palestina dari wilayah Sheikh Jarrah, Yerussalem. Menurutnya, aksi pengusiran ini merupakan perbuatan sewenang-wenang yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan.


"Belum lagi pengusiran terhadap warga Palestina yang bermukim di kawasan Sheikh Jarrah, sebelah timur Yerusalem. merupakan bentuk kesewenang-wenangan terhadap nilai-nilai kemanusiaan," jelasnya.


Sebagaimana diketahui, bentrokan berdarah antara polisi Israel dan warga Palestina yang ada di masjid Al-Aqsa pecah. Bentrokan yang membuat ratusan orang terluka ini terjadi usai buka puasa.


Sedikitnya 178 warga Palestina mengalami luka-luka dalam bentrokan dengan polisi Israel di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, pada Jumat (7/5) malam waktu setempat. Polisi Israel menggunakan peluru karet dan granat kejut terhadap warga Palestina yang melemparkan batu ke arah mereka.


Seperti dilansir Reuters, Sabtu (8/5), bentrokan ini pecah saat kemarahan memuncak di kalangan warga Palestina terkait potensi penggusuran sejumlah keluarga Palestina dari rumah-rumah mereka yang tanahnya diklaim oleh para pemukim Yahudi yang menggugat ke pengadilan. (detikcom/d)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com