Basarnas Ungkap Kendala Pencarian CVR Sriwijaya Air SJ182

* 29 Korban Berhasil Dikenali

309 view
Basarnas Ungkap Kendala Pencarian CVR Sriwijaya Air SJ182
Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
Kotak perekam suara kokpit atau CVR ditampilkan usai ditemukan saat SAR pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Jumat (15/1).
Jakarta (SIB)
Cockpit voice recorder (CVR) atau perekam suara kokpit black box pesawat Sriwijaya Air SJ182 hingga kini belum ditemukan. Basarnas mengungkap pencarian tersebut terkendala CVR yang tidak lagi memancarkan sinyal.

"Persoalannya sinyalnya yang ada di CVR itu sudah tidak memunculkan sinyal, sehingga pencarian dengan finder locator ini sudah tidak bisa seperti itu," kata Deputi Bidang Operasi Pencarian dan Pertolongan dan Kesiapsiagaan Basarnas, Bambang Suryo Aji, di JICT2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (17/1).

Untuk diketahui, dalam CVR terdapat komponen underwater locator beacon (ULB) atau yang juga disebut underwater acoustic beacon. ULB tersebut dapat memancarkan sinyal 'Ping' yang bisa dilacak apabila pesawat jatuh ke dalam air. Sinyal ini mampu bekerja di kedalaman 6.000 meter selama tiga bulan.

Dalam kasus CVR Sriwijaya Air SJ182, ULB ditemukan terpisah dari CVR. Dengan demikian, CVR tak lagi bisa dilacak melalui sinyal dari ULB tersebut dan harus dilakukan secara manual.

Menurut Suryo, pencarian terhadap CVR saat ini yang paling efektif adalah menggunakan robot bawah laut (ROV) milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). ROV, kata dia, bisa maksimal digunakan ketika dipakai saat malam hari.

"Yang terbaik adalah pada saat malam hari ketika tim penyelam sudah berkurang. Dia membutuhkan suasana di kedalaman itu yang jernih, sehingga bisa maksimal melihat barang-barang yang ada di bawah," jelasnya.

Tunggu Evaluasi
Masa pencarian pesawat telah memasuki hari ke-9. Basarnas pun belum memutuskan apakah akan kembali memperpanjang masa pencarian atau tidak.

"Kita melihat hasil nanti karena kan perpanjangan pertama itu kan sampai dengan hari Senin. Nanti akan kita evaluasi bagaimana. Apakah mau diperpanjang atau tidak, menunggu hasil evaluasi besok," ujar Suryo Aji.

Dia menyampaikan keputusan perpanjangan masa pencarian Sriwijaya Air akan melihat situasi yang ada di lapangan. Terlebih, kata Suryo, masih ada beberapa instrumen yang belum ditemukan, seperti cockpit voice recorder (CVR) pesawat.

308 Kantong Jenazah
Sementara itu Basarnas menyampaikan hasil pencarian Sriwijaya Air SJ182 hingga hari kesembilan. Tim SAR gabungan mengumpulkan 308 kantong jenazah, dan 54 kantong serpihan kecil dan 51 potongan besar pesawat.

"Untuk bagian tubuh kita hari ini sudah mengumpulkan 308 kantong jenazah. Serpihan kecil pesawat 58 kantong, potongan besar pesawat 54 bagian. FDR (flight data recorder) 1 unit, dan bagian dari CVR (Cockpit voice recorder) unit," ujar Kepala Basarnas (Kabasarnas) Marsdya TNI (Purn) Bagus Puruhito di JICT II.

Pada hari kesembilan ini, Tim SAR gabungan juga memaksimalkan proses pencarian. Kemarin mereka dapat menemukan 10 kantong body part, 4 kantong serpihan kecil, dan 3 potongan besar badan pesawat.

"Ini dilaksanakan oleh tim Basarnas special group dan penyelam-penyelam dari TNI AL dan juga lainnya yang hari ini tetap melaksanakan kegiatan dengan semangat," ucap dia.

Dia melanjutkan, operasi SAR hingga kemarin dan seterusnya akan terus dilaksanakan. Kata Bagus, Tim SAR gabungan juga tidak mengubah metode pencarian di hari berikutnya.

"Keterlibatan masih sama, besok juga kita masih melaksanakan operasi pencarian di lokasi dan dengan metode yang sama," pungkasnya.

Berhasil Dikenali
Kabar terbaru mengenai proses identifikasi korban disampaikan Polri. DVI Polri berhasil mengidentifikasi 5 korban Sriwijaya Air SJ182 hari ini.

"Kemudian yang berikutnya hasil identifikasi dari tim DVI. Hari ini berhasil mengidentifikasi 5 korban," ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono, saat konferensi pers di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur (Jaktim).

Rusdi menjelaskan hanya 4 nama yang diizinkan diungkap ke publik. Korban pertama yang teridentifikasi bernama Fao Nuntius Zai, bayi berumur 11 bulan. Lalu yang kedua Yunni Dwi Saputri (34). Ketiga bernama Lu Iskandar (52), dan yang keempat adalah Oke Dhurrotu (24).

"Keluarga tidak ingin identitasnya disampaikan ke publik. Tentunya ini patut kita hormati dan kita hargai," tambahnya.

Rusdi mengatakan data ini adalah update sampai pukul 17.00 WIB. Kelima korban ini teridentifikasi bukan berdasarkan sidik jari, seperti korban yang pertama kali teridentifikasi.

"Dari kelima korban ini berhasil diidentifikasi melalui DNA," tandas dia.

Bila dihimpun, total korban Sriwijaya Air SJ182 yang telah diidentifikasi ada 29 orang. Sebab sebelumya DVI Polri mengumumkan sudah mengidentifikasi 24 korban.

Para korban yang sebelumnya sudah diidentifikasi bernama Okky Bisma, Khasanah, Fadly Satria Satrianto, Asy Habul Yamin, Indah Halimah Putri, dan Agus Minarni. Korban bernama Ricko, Ikhsan Adhan, Supianto, Pipit Piyono, Mia Tresetyani, dan Yohanes Suherdi juga telah teridentifikasi.

Selain itu, korban atas nama Rosi Wahyuni, Rizki Wahyudi, Nelly, Beben Sopian, Makrufatul Yeti Srianingsih, Arifin Ilyas, dan Arneta Fauziah juga berhasil diidentifikasi.

Ikut Investigasi
Sementara itu sejumlah investigator mendatangi kawasan JICT II, Jakarta Utara, yang menjadi pusat penampungan puing pesawat SJ182. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan ada 13 investigator yang datang, 4 di antaranya berasal dari Boeing.

"Ada 11 orang dari Amerika. 2 orang dari Singapura," ujar Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo saat dikonfirmasi.

"Iya (investigator). 4 dari NTSB (National Transportation Safety Board), 2 dari FAA (Federal Aviation Administration), 4 dari Boeing, 1 dari GE (pabrik pembuat mesin), dan 2 dari TSIB (Transport Safety Investigation Bureau) Singapura," sambungnya.

Nurcahyo mengatakan kunjungan tersebut merupakan kedatangan pertama mereka untuk mengecek puing SJ182 sejak jatuh beberapa waktu lalu. Mereka baru datang kemarin siang sekitar pukul 13.13 WIB.

"Baru datang. Baru pertama," ucapnya.

Selain itu, lanjut Nurcahyo, para investigator berhak berpartisipasi dalam proses investigasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182. Pasalnya, hal tersebut sesuai dengan ketentuan internasional.

"Sesuai ketentuan internasional, sebagai negara pembuat pesawat, mereka berhak berpartisipasi dan membantu investigasi yang dilaksanakan oleh Indonesia," jelas Nurcahyo.

Meski demikian, belum ada hasil yang signifikan dari pengecekan para investigator Boeing tersebut terkait penyebab jatuhnya SJ182 yang menewaskan seluruh penumpang serta awak kabinnya.

"Belum ada yang signifikan," kata Nurcahyo. (detikcom/c)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com