Belum Ada Keputusan RI Masuk Endemi Covid-19, Aplikasi PeduliLindungi Tetap Dijalankan

* Pandemi Mulai Reda, Tetap Wajib Pakai Masker

189 view
Belum Ada Keputusan RI Masuk Endemi Covid-19, Aplikasi PeduliLindungi Tetap Dijalankan
Foto : KOMPAS.com/ Galuh Putri Riyanto
Ilustrasi aplikasi PeduliLindungi.

Jakarta (SIB)

Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan, perubahan status pandemi Covid-19 menjadi endemi diterapkan apabila kasus Covid-19 dapat dikendalikan serendah mungkin.


"Jadi ini (status endemi) belum sampai keputusan kita sudah bergeser ke endemi, perlu rentang waktu yang cukup untuk kita masuk dalam fase endemi, artinya kasus dipastikan ditekan serendah mungkin," kata Nadia saat dihubungi, Rabu (11/5).


Nadia juga mengatakan, meski Indonesia masuk ke fase Endemi, penggunaan aplikasi PeduliLindungi akan tetap dijalankan sebagai salah satu upaya pengendalian kasus Covid-19. "Masih digunakan PeduliLindungi dan bisa menjadi citizen health apps," ujarnya.


Lebih lanjut, Nadia mengatakan, apabila wabah Covid-19 berstatus endemi, mekanisme pembiayan perawatan pasien Covid-19 akan mengacu pada kebijakan yang berlaku saat itu. "Kalau sudah tidak pandemi, maka akan menggunakan mekanisme pembiayaan yang ada," ucap dia.


Naik

Sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri persentase tingkat kesembuhan pasien Covid-19 malah melesat mencapai lebih dari 90 persen.


"Persentase kesembuhan harian di seluruh provinsi mengalami kenaikan. Pertanggal 9 Mei 2022, persentase kesembuhan di seluruh provinsi sudah lebih dari 90 persen," kata Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (10/5) dikutip dari rilis Info Publik.


Wiku Adisasmito menyatakan, persentase kesembuhan tertinggi yaitu DKI Jakarta sebanyak 98,7 persen, Jawa Barat 98,4 persen dan Sumatra Utara 97,8 persen.


Pada delapan provinsi tujuan mudik yakni, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Yogyakarta, Lampung, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, kasus positif, sembuh, meninggal dunia, kasus aktif, serta BOR mengalami perkembangan yang bervariasi. Sedangkan untuk kasus positif mingguan di seluruh provinsi mengalami penurunan.


"Penambahan kasus positif pada tujuh hari terakhir tertinggi di DKI Jakarta yaitu 519 kasus, dan penambahan terendah di Sumatra Barat sebanyak 6 kasus," ujar dia.


Kasus kematian mingguan di seluruh provinsi selama tiga bulan terakhir juga telah mengalami penurunan. Namun untuk Jawa Tengah beberapa minggu terakhir masih mengalami kenaikan namun tidak signifikan.


Penambahan kasus kematian pada tujuh hari terakhir tertinggi juga di Jawa Tengah yaitu 63 kasus, dan penambahan kasus terendah di Sumatera Barat yaitu 0 kasus.


Kemudian, untuk kasus aktif mingguan di seluruh provinsi juga mengalami penuruan. Per 8 Mei 2022, penambahan kasus aktif tertinggi di Jawa Barat yaitu 1.598 kasus, dan penambahan terendah di Sumatera Barat yaitu 92 kasus.


Untuk persentase BOR atau keterisian tempat tidur di ruang isolasi rumah sakit rujukan COVID-19 pun terbilang masih sangat rendah yakni sekitar 0,35 sampai 2,71 persen.


"Dari kedelapan provinsi, BOR paling rendah ada di Lampung yaitu 0,99 persen, dan paling tinggi di Yogyakarta 2,71 persen," kata Wiku.


Wajib Pakai Masker

Selama musim liburan berlangsung, penyebaran virus Corona juga semakin terkendali dan tidak terjadi lonjakan kasus yang tinggi.


"Alhamdulillah penanganan Covid-19 sudah landai. Walaupun yang mudik lebih dari 80 juta orang, namun dari indikasi yang dimonitor sampai hari ini tidak ada lonjakan kasus," tutur Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Green Economy Indonesia Summit 2022 yang diselenggarakan oleh Warta Ekonomi, Rabu (11/5).


Meski demikian, Airlangga menegaskan penggunaan masker tetap wajib dilakukan masyarakat. Termasuk dengan penerapan protokol kesehatan dan mendorong percepatan vaksin booster di tingkat masyarakat.


"Lesson learn dari Covid-19 adalah 3 kunci yang kita harus siap, terutama untuk penyakit yang berbasis paru-paru, yaitu masker, social distancing dan bagaimana men-deploy vaksin secepat-cepatnya nya," imbuhnya. (Kps/KJ/Merdeka/d)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: KORAN SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com