Bercerita dengan Aktivis, Akhyar Nyalon Wali Kota Karena Soal Kepantasan

* Akhyar: Hidup Sekali, Setelah Itu Mati

197 view
Bercerita dengan Aktivis, Akhyar Nyalon Wali Kota Karena Soal Kepantasan
Foto Dok/Tim Pemenangan Akhyar-Salman
MOTIVASI: Calon Wali Kota Medan Akhyar Nasution ketika memberi motivasi kepada aktivis yang tergabung dalam Eksponen Cipayung Plus Kota Medan, Senin (5/10) di Jalan Sei Serayu, Medan. Tampak hadir, mantan Sekjen DPP P Demokrat Dr Hinca Panjaitan, Ketua DPC Demokrat Medan Burhanuddin Sitepu, CP Nainggolan, Efendi Naibaho dan lainnya. 
Medan (SIB)
Akhyar Nasution mengatakan, karakter aktivis pada dirinya tidak pernah hilang. Dia pernah menjadi aktivis di barisan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang masuk dalam kelompok Cipayung. Dia menceritakan, peristiwa aksi demo secara nasional tahun 1998 dimulai oleh anak-anak Medan yang begitu represif.

“Kejadian tahun 1998 itu diawali dari Unimed, bukan di Jakarta yang isunya tentang kenaikan harga BBM tepatnya di persimpangan pasar Bengkok. Barulah dua hari kemudian terjadi peristiwa di Semanggi Jakarta. Maka peristiwa 1998 itu adalah anak-anak Medan tapi seolah-olah di Semanggi,” ungkap Akhyar di hadapan para eksponen Cipayung Plus Kota Medan, Senin (5/10) di Jalan Sei Serayu, Medan.

Pada waktu itu kata Akhyar, mahasiswa-mahasiswa Medan menjadi motor penggerak aksi demonstrasi. Maka, anak-anak Medan jangan pernah berkecil hati. Itu maka dirinya maju menjadi calon Wali Kota Medan karena didasari karakter sebagai aktivis tidak pernah hilang dari dirinya.

“Kalau ada yang tidak benar harus dilawan. Saya tidak pernah mimpi jadi wakil wali kota, tahun 1999 saya tidak pernah mimpi jadi anggota DPRD Medan, tapi saya terpilih. Saya mau jadi calon wali kota, karena ada sesuatu yang harus dilawan. Di atas UU atau peraturan ada norma, ada adat, sopan santun, etika dan kepantasan. Itulah budaya Indonesia, memang ada sesuatu yang tidak tertulis di luar hukum positif. Perlu ada kepantasan, maka saya katakan kepada orang yang menjumpai saya, hidup sekali, setelah itu mati,” terangnya.

Menurut dia, hidup itu harus berarti, kalau tidak berarti sebaiknya jadi hewan saja. Berarti untuk masyarakat, bangsa dan negara. Naluri aktivis, tidak bisa melihat ketidakadilan, keserakahan dan keangkuhan. Inilah yang dialaminya meski masuk di jajaran elit Kota Medan, jiwa aktivis itu tetap muncul.

“Lahir dari aktivis maka akan tetap berjiwa aktivis. Walaupun ada gangguan-gangguan, itu saya anggap latihan saja, karena sudah saya alami pada waktu-waktu lalu sehingga terlatih. Kalau adik-adik mendapat hambatan, anggaplah itu latihan. Kalau loyo, kita akan jadi pecundang. Jangan takut beda pendapat dan bersikap,” tegasnya.

Turut hadir, mantan Sekjen DPP P Demokrat Dr Hinca Panjaitan, Ketua DPC P Demokrat Medan Burhanuddin Sitepu, Ketua DPD K-SPSI Sumut CP Nainggolan SE MSP, Efendi Naibaho, Ustadz Ade dan lainnya. (M10/d)

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com