Bio Farma Bakal Simulasi Lagi Harga PCR agar Terjangkau Masyarakat


137 view
Bio Farma Bakal Simulasi Lagi Harga PCR agar Terjangkau Masyarakat
Wisma Putra/detikcom
Ilustrasi tes usap metode PCR
Jakarta (SIB)
PT Bio Farma menjawab sejumlah kritik dari anggota Komisi VI DPR RI terkait harga tes PCR yang dinilai masih bisa turun lagi. Dirut PT Bio Farma Honesti Basyir menyebut pihaknya bakal melakukan simulasi lagi terkait harga PCR saat ini.

Awalnya Honesti memberikan penjelasan soal alasan biaya tes PCR di Indonesia pernah mencapai Rp 2 juta lantaran keterbatasan pengetahuan terkait tes PCR. Tak hanya itu, menurutnya, kala itu komponen PCR juga menjadi rebutan semua negara dan langka.

"Reagen juga langka, itu kita rebutan dengan seluruh dunia. Kita dibantu dengan temen-temen KBRI di sana, mereka juga lihat ada sekian banyak negara yang antre, jadi mesin antre, reagen-nya juga antre," kata Honesti saat rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR di gedung DPR, Selasa (9/11).

Dia menyebut harga tes PCR pun lama-kelamaan menurun lantaran pihaknya makin tahu soal struktur cost. Tak hanya itu, dia menyebut komponen PCR juga sudah makin mudah didapatkan.

"Kemudian, beberapa negara sudah mulai produksi muncul ada China, Korea, Taiwan, segala macam, mesinnya open system sehingga bisa dipakai oleh reagen lain. Makin ke sini kita makin tahu, struktur cost kita lama-lama makin tahu seperti apa yang paling efisien yang membuat pemain itu tidak rugi, semua itu yang jadi pembelajaran bagi kita dari harganya di atas Rp 2 juta, turun segala macam," ucapnya.

Simulasi Harga
Sampai saat ini, harga PCR pun telah mencapai Rp 275 ribu. Beberapa anggota Komisi VI DPR RI menyebut harga tersebut sebetulnya masih bisa turun lagi.

Menanggapi hal itu, Honesti menyebut bakal melakukan simulasi kembali terkait harga.

"Tapi prinsipnya pimpinan dan bapak-ibu anggota, kami akan mencoba simulasi lagi, kalau contohnya Bio Farma, komponen MBioCov atau Bio Saliva yang kita keluarkan hanya (memakan biaya) 30 persen dari total layanan, dan dari sisi reagen hanya sekitar 20 persen, jadi nggak signifikan sebenarnya kalau dilihat dari industri," ujarnya.

"Tapi terima kasih ke semua masukan bapak ibu anggota, kami akan coba exercise lagi mulai dari layanan apakah ini Rp 275 ribu akan turun ke berapa," lanjutnya.

Honesti pun menekankan pihaknya sepakat dengan para anggota Komisi VI DPR terkait penurunan harga PCR. Dia bakal mengupayakan agar harga tes PCR bisa dinikmati masyarakat.

"Pada prinsipnya kami setuju dan kami akan coba exercise gimana affordability (keterjangkauan) harga ini bisa dinikmati masyarakat, pemerintah juga seharusnya lihat bahwa suplai semakin banyak maka harga bisa disampaikan pada level tertentu," tuturnya.

Sebelumnya, salah satu anggota Komisi VI DPR yang memberikan kritik terkait harga PCR ialah Andre Rosiade. Dia menyebut, berdasarkan harga komponen kits, tes PCR seharusnya bisa di bawah Rp 200 ribu.

"Saya ingin membedah struktur harga PCR, saya ingin tegaskan, harga PCR di Indonesia seharusnya bisa di bawah Rp 200 ribu. Bahkan, di saat harga mahal, seharusnya bulan Maret dan April 2021, sebenarnya kita, bulan Maret dan April 2021 bisa di bawah Rp 200 ribu," kata Andre dalam rapat tersebut.

"Nah pertanyaannya kenapa PCR kita, kalau kita baca kan sudah beberapa kali mengalami perubahan. Pertama itu Rp 2,5 juta, berubah jadi Rp 900 ribu, berubah jadi Rp 495 ribu, sekarang berubah jadi Rp 275 ribu. Sudah tiga kali," lanjutnya.

Lebih lanjut, politikus Gerindra ini membongkar harga per komponen kits PCR. Menurutnya, berbagai komponen, seperti VTM, ekstraksi kits, hingga reagen, hanya membutuhkan total biaya Rp 100 ribu.

"Kits itu apa? Pertama VTM-nya. VTM bahkan lokal sudah ada, Bapak, sudah produksi. Informasi yang saya dapatkan, di luar mesin ya, VTM itu harganya Rp 10 ribu. Bisa didapat dengan harga Rp 10 ribu," ujarnya.

"Kemudian kedua, ekstraksi kits ada 5 macam cairan itu. Kalau tidak salah harganya Rp 25 ribu. Nah, yang ketiga, kits itu ada PCR kits, harga reagen Rp 65 ribu. Kalau ditotal itu harganya Rp 100 ribu," imbuh dia.

Andre lantas memaparkan biaya kits PCR itu lalu ditambah dengan biaya jasa tenaga kesehatan (nakes) hingga operasional alat pelindung diri (APD) nakes sekitar Rp 50 ribu-70 ribu. Dengan demikian, kata dia, harga tes PCR bisa berada di bawah Rp 200 ribu.

"Tadi kalau saya baca Pak Honesti ada biaya nakes, biaya APD, nakes dan lain-lain. Tapi 1 lab kan bisa ratusan bahkan ribuan spesimen per hari. Anggaplah untuk modal 100 ribu PCR kits, nakes APD operasional untung berapa, sih? Rp 50 ribu, Rp 70 ribu?," tuturnya.

"Masih di bawah Rp 200 ribu, sudah pakai margin. Anggaplah margin (jadi) Rp 200 ribu lah maksimal, bisa di bawah Rp 200 ribu," lanjut Andre. (detikcom/c)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com