Banjir Kian Parah

Bongkar ‘Riol Hantu MUDP' Membelah Kota Medan

* Victor Silaen SE: Mana Janji BWS-Pemko Kolaborasi Tangani Banjir?

116 view
Bongkar ‘Riol Hantu MUDP' Membelah Kota Medan
(Foto : istimewa/warga)
Ilustrasi banjir 
Medan (SIB)
Banjir yang meluas dan meluap akibat hujan deras pada Selasa malam hingga dinihari Rabu (24/11) dinilai sebagai fakta potensi dan kondisi banjir di Kota Medan ternyata kian parah dibanding tahun-tahun sebelumnya, walaupun belum separah banjir luapan sungai yang mengakibatkan tergenangnya ratusan hingga ribuan rumah penduduk seputar kota, plus tiga tewas dan 3.000-an rumah terendam banjir pada Desember 2020 lalu.

Ketua DPD Asosiasi Kontraktor Air-bersih Indonesia (Akaindo) Provinsi Sumut, Victor Silaen SE yang juga anggota DPRD Sumut menegaskan, sudah begitu banyak proyek konstruksi atau instalasi penanganan banjir yang dibangun dan dikerjakan dari tahun ke tahun dengan biaya setara mega-proyek, tapi kenyataannya banjir tampak masih dan makin parah, bukannya berkurang atau surut, terlebih pada saat hujan deras berintensitas tinggi.

"Pada 2006 lalu sudah ada wacana, kalau Pemko Medan serius mau mengatasi banjir, bongkar kembali terowongan panjang yang dibangun dengan proyek Medan Urban Development Project (MUDP) pada 1990-an dulu. Selain memanfaatkan kembali riol yang kini jadi 'riol hantu' membelah Kota Medan itu, juga untuk menekan biaya untuk proyek lain yang mubajir, karena hanya butuh biaya keruk terowongan dari titik nol hingga ujung arusnya," katanya kepada pers di Medan melalui hubungan seluler, Rabu (24/11).

Sembari menyebutkan sejumlah proyek besar yang telah dikerjakan khusus untuk kendali banjir selama ini (dalam catatan SIB dari TMPI, ada 7 proyek), Victor menyebutkan, indikasi makin parahnya banjir di Kota Medan belakangan ini adalah fakta rambahan arus dan genangan banjir sudah merambah kawasan yang selama ini terbilang aman dan relatif bebas dari serangan banjir.

Sebagaimana viral di kalangan publik, kawasan yang dilanda banjir sehingga mengenai pemukiman warga dan menimbulkan ratusan kendaraan mogok terjebak arus setinggi lutut orang dewasa (sekira 50 cm), terjadi di Jalan Gatot Subroto, Kesawan mulai dari Ahmad Yani VII hingga jalan Stasiun sekitar Lapangan Merdeka dan di Jalan Irian Barat ke arah Sambu.

Pada kawasan lain, banjir menggenangi Jalan Setiabudi hingga batas Simpang Pemda, yang selama ini terbilang bebas banjir. Lalu, di lokasi Jalan Dr Mansyur mulai depan Kampus USU hingga titi kecil depan PPIA yang selama ini dikenal genangan buntu karena arusnya bertumpu mirip 'artesis' (arusnya dari dua arah berlawanan sehingga ruas jalan mirip sungai baru). Lokasi lain di Kota Medan yang turut terambah banjir adalah Jalan Sekip, Jalan Karya, Jalan Darussalam, Jalan Ayahanda, sebagian kawasan Helvetia dan juga sekitar Perumnas Mandala.

"Tadinya kita apresiasi dan optimis adanya program tindak kolaborasi Pemko Medan dengan PUPR BWSS-II Medan (SIB 17/3) untuk mengatasi banjir di Kota Medan. Tapi jangankan realisasinya, aksinya pun, yang mana? Pemko, Wali Kota Medan Bobby Nasution harus seriuslah. Kalau masih butuh waktu untuk anggaran proyek baru, ya bongkar saja dulu riol-riol raksasa yang sudah puluhan tahun menganggur dan mubajir itu," katanya prihatin.

Hal senada juga dicetuskan ahli konstruksi sanitasi dan pakar lingkungan hidup Jaya Arjuna, bahwa pernyataan pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan banjir Medan pada Selasa malam hingga Rabu dinihari kemarin diakibatkan drainase yang tak mampu menampung debit air, hanya alasan kronis dan berulang.

"Kalau alasannya faktor drainase terus, kenapa tidak ditangani dengan metode sedot dan angkut sedimen dengan alat multi purpose dredger (MPD), yang sekaligus bisa digunakan menata semua saluran primer, sekunder hingga saluran tersier di Kota Medan. Kota Medan ini kan tidak punya lahan lagi untuk buat waduk atau dam kota walaupun sekaligus untuk fungsi RTH (Ruang Terbuka Hijau) menampung arus-arus banjir itu. Bayangkan, areal depan Kantor Gubernur dan Kesawan pun kini ikut tergenang banjir. Apa kota ini memang bakal tenggelam?" katanya dalam presentasi khusus: Solusi Tuntas Banjir Medan' yang ditayangkan 41 halaman via virtual kepada SIB.

Solusi cepat bila alasannya faktor drainase, ujar Arjuna, adalah pengerukan dan angkat sedimen dengan alat MPD pada semua saluran primer yang berupa drainase alami seperti Sungai Deli, Sungai Babura dan Sungai Deli. Bahkan, alur Sungai Sulangsaling di timur Sungai Deli dan kanal Sungai Badera di sisi barat Sungai Deli sebagai kanal buatan, harus ditingkatkan menjadi kapasitas saluran primer. Demikian juga dengan Kanal Sungai Sulangsaling hingga muaranya di Sungai Pegatalan, hulunya langsung ke Kualadeli, juga Kanal Badera mulai hulu di Sungai Terjun yang bermuara ke Belawan.

Penataan drainase sekunder dimulai dari objek air penghubung saluran awal tangkapan arus yang bersal dari kawasan pemukiman, perumahan perkantoran, pasar niaga, menjadi objek drainase setara primer, Misalnya, pada alur Seiputih, Seiselayang, Seibatuan, Seisikambing, Seibekala, hingga Seiterjun. Saluran sekunder ini umumnya terkombinasi drainase alam dan buatan (konstruksi) karena lokasinya pada badan atau sisi sungai kecil tersebut.

"Sedangkan penataan drainase tersier harus fokus pada objek-objek saluran yang mayoritas tertutup oleh mobilitas publik, seperti pada trotoar, gerbang kantor dan plaza-plaza, area perkir dan ruko-ruko. Selain alat MPD yang disertai armada truk angkut sedimen, juga harus pakai pompa sedot sedimen tekanan tinggi (high pressure nozzle). Kalau model manual bongkar selokan dan tumpuk sedimen di pinggir jalan selama ini, malah menambah genangan banjir seperti selama ini.

Jalan makin sempit dan macet, lumpur sedimen kembali masuk selokan didorong arus dan drainase tersumbat lagi tanpa dikeruk ulang," katanya sembari menambahkan proposal ini sudah diajukan tim-nya beberapa tahun lalu, tapi tak direspon pihak terkait karena (diduga) biayanya tak sebesar yang diajukan pihak 'pemerintah' saat itu. (A5/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com