Cegah Doktrin NII, MUI Minta Tokoh Masyarakat Awasi Pengajian

* Kemenag akan Beri Pencerahan ke Korban Rekrutmen NII

180 view
Cegah Doktrin NII, MUI Minta Tokoh Masyarakat Awasi Pengajian
Foto: Ari Saputra/detikcom
Abdullah Jaidi
Garut (SIB)
Kementerian Agama menyebut proses rekrutmen organisasi Negara Islam Indonesia (NII) dilakukan melalui bentuk pengajian. Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta tokoh masyarakat berperan aktif dalam mengawasi sejumlah pengajian di daerah masing-masing.

"Peran dan tokoh masyarakat penting di dalam pengawasan terhadap gerakan dan pengajian mereka," ujar Ketua MUI Bidang Pendidikan dan Kaderisasi, Abdullah Jaidi, Senin (11/10).

Abdullah menyebut komitmen sejumlah warga mendirikan NII adalah kasus lama. Pemerintah diminta untuk menyikapi hal ini agar tidak terjadi gesekan di tengah-tengah masyarakat serta tidak ada lagi korban doktrin NII. "MUI sejak lama telah menyatakan ini adalah kelompok yang menyimpang, kata Abdullah.

"Bila perlu tentunya pemerintah melibatkan MUI dan tokoh-tokoh Islam setempat untuk menyadarkan mereka untuk kembali kejalan yang benar dalam hidup berbangsa dan bernegara," tutur Abdullah.

Beri Pencerahan
Sementara itu, Staf Khusus Menteri Agama, Mohammad Nuruzzaman menjelaskan, Kemenag melakukan pendampingan kepada sejumlah masyarakat yang telah menjadi korban baiat NII di Garut, Jawa Barat.

Korban-korban itu, kata dia, perlu diberikan edukasi dan pencerahan terkait relasi agama dan negara, serta pentingnya penguatan moderasi beragama.

"Mereka tentu perlu mendapat pencerahan tentang relasi agama dan negara, serta penguatan moderasi beragama," kata Nuruzzaman dalam keterangan resminya, Selasa (12/10).

Lebih lanjut, Nuruzzaman mengatakan, Kemenag akan terus melakukan upaya dalam penguatan moderasi beragama bagi pengikut NII. Program itu juga menjadi salah satu program prioritas Kemenag.

Moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan berlandaskan prinsip adil, berimbang dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa.

"Setidaknya ada empat indikator moderasi beragama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, serta penerimaan terhadap tradisi. Ini yang akan kita kuatkan," kata dia.

Di sisi lain, Nuruzzaman mengatakan bahwa pola rekrutmen yang dilakukan NII di tengah masyarakat Garut, Jawa Barat melalui metode pengajian.

Ia mengatakan tengah melakukan kajian terkait aktivitas rekrutmen tersebut. Bahkan, Kemenag sendiri telah menerjunkan tim Badan Litbang dan Diklat untuk berkoordinasi dengan Kanwil Kemenag Jawa Barat untuk mendalami hal tersebut.

Hasil kajian tersebut, kata dia, akan disampaikan kepada Polri, Kemendagri, dan Kemenko Polhukam untuk ditindaklanjuti sesuai kewenangannya.

"Kami memang mendapat informasi terkait rekrutmen itu, dan polanya melalui pengajian. Ini sedang kita kaji dan dalami," kata Nuruzzaman.

Sebelumnya, puluhan warga Garut dikabarkan dibaiat untuk masuk aliran sesat NII. Hal tersebut terungkap setelah beberapa di antara mereka menyuarakan hal tersebut. Salah satunya seorang remaja yang mengaku kepada orang tuanya bahwa mereka ikut aliran NII.

Orang tua yang cemas kemudian melaporkan hal tersebut ke perangkat desa setempat. Setelah didata, ternyata ada 59 orang yang diduga sudah dibaiat masuk NII di wilayah tersebut.

Hingga saat ini belum diketahui bagaimana mereka dibaiat hingga apa saja yang harus dilakukan setelah masuk NII. Namun, salah satu kejanggalannya adalah mereka menganggap pemerintah RI sebagai thogut.

Staf Khusus Menteri Agama Mohammad Nuruzzaman mengatakan pihaknya telah menerjunkan tim Badan Litbang dan Diklat untuk berkoordinasi dengan Kanwil Kemenag Jawa Barat melakukan kajian terkait aktivitas rekrutmen NII dalam pengajian masyarakat di Garut. "Kami memang mendapat informasi terkait rekrutmen itu, dan polanya melalui pengajian. Ini sedang kita kaji dan dalami," kata Nuruzzaman dalam keterangan tertulisnya, Senin (11/10). (detikcom/CNNI/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com