China Tolak Penyelidikan Lanjutan WHO Soal Asal-usul Corona

* WHO Peringatkan Kemunculan Virus Marburg

183 view
China Tolak Penyelidikan Lanjutan WHO Soal Asal-usul Corona
dok Getty Images/iStockphoto/Richard Maguluko
Ilustrasi
Beijing (SIB)
Otoritas China menolak seruan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memperbarui penyelidikan asal-usul virus Corona (Covid-19). China menegaskan pihaknya mendukung upaya-upaya 'ilmiah' bukannya 'politik' dalam mencari tahu bagaimana virus Corona bermula.

Seperti dilansir AFP, Jumat (13/8), WHO pada Kamis (12/8) waktu setempat, mendorong China untuk membagikan data mentah dari kasus-kasus awal Corona di wilayahnya untuk menghidupkan kembali penyelidikan asal-usul Corona.

Dalam tanggapannya pada Jumat (13/8) waktu setempat, otoritas China memberikan reaksi keras dengan menegaskan kembali posisinya bahwa penyelidikan awal sudah cukup. China juga menyebut seruan data lanjutan lebih dimotivasi oleh politik bukannya penyelidikan ilmiah.

"Kami menentang penelusuran politik ... dan mengabaikan laporan bersama (WHO)," tegas Wakil Menteri Luar Negeri China, Ma Zhaoxu, kepada wartawan setempat, merujuk pada laporan yang dirilis setelah tim pakar WHO mengunjungi Wuhan, China pada Januari lalu.

"Kami mendukung penelusuran ilmiah," imbuhnya.

Laporan bersama antara tim pakar WHO dan ilmuwan China itu menyebut bahwa virus Corona melompat dari kelelawar ke manusia melalui seekor hewan perantara menjadi skenario paling mungkin.

Sementara dugaan kebocoran dari laboratorium virologi di Wuhan dinyatakan 'sangat tidak mungkin' terjadi.

Ma dalam pernyataannya terang-terangan menolak usulan penyelidikan terbaru untuk menelusuri asal-usul Corona.

"Kesimpulan dan rekomendasi laporan bersama WHO dan China telah diakui oleh komunitas internasional dan komunitas sains," sebut Ma.

"Upaya penelusuran global di masa mendatang seharusnya dan hanya bisa dilakukan atas dasar laporan ini, bukannya memulai yang baru," cetusnya.

Peringatkan
Terpisah, WHO melaporkan pada Senin (9/8), di Afrika Barat ditemukan kasus pertama infeksi virus Marburg. Penemuan kasus pertama itu juga telah dikonfirmasi oleh pemerintah Guinea, dua bulan setelah wabah Ebola kedua berakhir di Guinea.

Menurut WHO, virus ini terdeteksi pertama kali di Frakfurt, Jerman dan Beograd, Serbia pada 1967. Virus Marburg memiliki hubungan dengan kelelawar Rouseltus yang hidup di lokasi tambang atau gua.

Virus Marburg dapat menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi, atau permukaan yang terkontaminasi. Gejala yang dirasakan seperti sakit kepala, nyeri otot, muntah darah, dan pendarahan.

WHO merekomendasikan cara pencegahan dan pengendalian seperti berikut:

Setiap orang yang mengunjungi lokasi tambang atau gua yang dihuni oleh kelelawar harus memakai alat pelindung diri (APD), seperti sarung tangan, pakaian pelindung, dan masker. Selama wabah, semua produk hewani harus dimasak dengan matang sebelum dikonsumsi.

Hindari kontak fisik dengan orang yang terinfeksi. Gunakan APD saat merawat orang yang terinfeksi. Cuci tangan secara teratur dengan sabun setelah selesai merawat pasien.

Masyarakat yang terkena dampak Marburg harus mengetahui segala informasi yang berkaitan dengan virus tersebut.

Pasien yang meninggal harus cepat dikuburkan dengan protokol yang tepat. Identifikasi orang-orang yang telah melakukan kontak erat dengan pasien. Orang yang telah kontak erat dengan pasien harus dikarantina selama 21 hari.

Berdasarkan penelitian yang sedang berlangsung, laki-laki yang terinfeksi harus menjaga kebersihan organ intim selama 12 bulan sejak timbulnya gejala atau sampai air mani yang dites hingga dua kali dinyatakan negatif dari virus. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko penularan penyakit seksual. (detikHealth/Detikcom/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com