Densus 88 Pastikan Siaga soal Isu Serangan Balasan dari JI

* Kimia Farma Pecat Pegawai yang Ditangkap Densus

195 view
Densus 88 Pastikan Siaga soal Isu Serangan Balasan dari JI
Foto Dok
Kombes Aswin Siregar
Jakarta (SIB)
Pakar terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Ridlwan Habib menyebut penangkapan Thoriquddin alias Abu Rusydan yang merupakan Dewan Syuro Jamaah Islamiyah (JI) bisa memicu aksi balasan. Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menyatakan selalu siap mengantisipasi setiap gerakan teroris.

"Densus selalu dalam kondisi siaga untuk memonitor gerakan-gerakan jaringan teroris di wilayah kita, termasuk regional dan internasional. Akan ada tindak lanjut terhadap informasi-informasi seperti ini," ujar Kabag Banops Densus 88 Kombes Aswin Siregar saat dihubungi, Selasa (14/9).

"Ketika ada perubahan eskalasi ancaman, tentu kita akan berbuat. Bahkan siaga untuk melakukan preemptive strike," sambungnya.

Aswin menjelaskan preemptive strike yang senantiasa dilakukan Densus mampu mencegah ancaman dari para teroris. Dia menekankan Densus selalu menempatkan keamanan publik sebagai prioritas utama.

Lebih lanjut, kata Aswin, Densus 88 membutuhkan dukungan dari masyarakat untuk melakukan operasi penangkapan kepada para teroris. Aswin memastikan Densus tidak pernah berhenti bergerak, baik untuk menangkap para terduga teroris maupun melakukan pencegahan.

"Bekerjasama dengan semua komunitas masyarakat, Densus 88 secara terus-menerus melakukan peninjauan operasi dan perencanaan kontingensinya. Densus 88 juga senantiasa bekerjasama dengan lembaga pusat dan daerah, layanan darurat dan lembaga terkait lainnya. Densus 88 tidak pernah berhenti bergerak, baik dalam pencegahan maupun penindakan," imbuh Aswin.

Diketahui, Densus 88 kembali menangkap seorang terduga teroris jaringan Jamaah Islamiyah (JI) berinisial T alias AR di Bekasi. Pakar terorisme, Ridlwan Habib, menjelaskan Abu Rusydan adalah tokoh senior JI yang selama ini berkeliling Indonesia menjadi penceramah dan motivator agama. Menurutnya, ini merupakan penangkapan yang serius.

"Kalau betul T alias AR yang ditangkap polisi adalah Abu Rusydan berarti itu penangkapan yang sangat serius. Ini figur yang sangat terkenal di kelompoknya, " ujar Ridlwan Habib dalam keterangan tertulis, Minggu (12/9).

Menurut Ridlwan, Abu Rusydan adalah alumni pelatihan militer mujahidin Afghanistan angkatan ke-2 tahun 1990. AR disebut sempat berinteraksi langsung dengan Osama bin Laden.

"Abu Rusydan berlatih militer di Camp Sadda Pakistan dan sempat berinteraksi langsung dengan Osama bin Laden," kata Ridlwan.

Dia mengatakan penangkapan Abu Rusydan dikhawatirkan akan memicu aksi balasan dari pengikutnya.

"Tokoh senior ini banyak murid online-nya yang dalam istilah kontra-terorisme disebut lone wolf," ujar Ridlwan.

Pecat
Sementara itu, PT Kimia Farma Tbk memecat pegawainya berinisial S, yang ditangkap Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror terkait terorisme.

"Clear, kita sidang, kita memutuskan untuk kita pecat, yang bersangkutan juga sudah kita berhentikan," ujar Direktur Umum dan Human Capital PT Kimia Farma, Dharma Syahputra, kepada wartawan, Selasa (14/9).

Dharma menyebut terorisme dan radikalisme merupakan hal yang sangat serius. Hal itu bertentangan dengan pengembangan karakter pegawai PT Kimia Farma Tbk.

"Itu merugikan perusahaan merusak citra perusahaan, itu merupakan hal yang sifatnya sangat serius," kata Dharma.

"Upaya penanganan radikalisme dan terorisme adalah hal yang serius. Kita memang di dalam program pengembangan karakter karyawan itu masuk program pertama kita dalam pembentukan karakter," jelasnya.

TaK Punya Akses
Kimia Farma memastikan S tak punya akses menggunakan dana CSR.

"Saya ingin mengklarifikasi berita yang beredar di sosial media yang mengaitkan bahwa karyawan tersebut menduduki posisi strategis memiliki akses terhadap penggunaan dana CSR dan dapat mempengaruhi penggalangan dana, saya katakan itu tidak benar," ujar Dharma Syahputra.

Dharma memastikan S tidak memiliki jabatan strategis. S, kata Dharma, hanya berposisi sebagai operator.

"(S) pelaksana operator, jadi posisi layer kalau di kita itu paling rendah (jabatan)," kata Dharma.

Dharma menegaskan sekali lagi bahwa S tidak memiliki akses dana CSR.

"Kemudian akses terhadap CSR tidak benar karena program CSR kita dilakukan secara terpusat di sini, keputusan terhadap alokasi CSR itu pasti melalui tahapan check dan re-check dan saya putuskan secara terpusat dan kita juga prosesnya itu kita lakukan klarifikasi, termasuk klarifikasi ke lapangan," terangnya.

Dharma menambahkan pihaknya sudah melakukan skrining terhadap rekan-rekan kerja S. Hasilnya, Kimia Farma tak menemukan adanya indikasi kegiatan terorisme.

"Tidak ada kegiatan yang terkait itu (terorisme), di dalam (Kimia Farma) yang kita ketahui seluruh indikasi yang disampaikan oleh dari Densus 88 itu kaitannya dengan kegiatan di luar kantor," lanjutnya. (detikcom/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com