Dewan Pakar BPIP: Diplomasi Perdamaian Bukan Pabrik Tempe


291 view
Dewan Pakar BPIP: Diplomasi Perdamaian Bukan Pabrik Tempe
Foto : Istimewa
Darmansjah Djumala.

Jakarta (SIB)

Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala menegaskan dalam fatsun diplomasi, perdamaian setidaknya harus melalui tiga proses yaitu komunikasi, penghentian kekerasan dan dialog. Tiga tahapan proses itu sering dirujuk sebagai adab diplomasi.


Menurutnya, pembicaraan dan negosiasi perdamaian tak akan bisa dimulai jika tidak ada komunikasi. Sebab, dari komunikasi itulah kedua seteru bisa mengetahui posisi dan apa yang diinginkan oleh masing-masing pihak.


"Untuk itu dibutuhkan pihak ketiga untuk mediasi agar kedua pihak dapat berkomunikasi. Dengan mengadakan pertemuan empat mata dengan Zelensky dan Putin, Jokowi sejatinya sudah membuka pintu komunikasi," imbuh Djumala dalam keterangan tertulis, Senin (4/7).


Hal ini dia ungkapkan menanggapi kritikan publik terkait kunjungan Jokowi ke Ukraina dan Rusia beberapa waktu lalu usai menghadiri Pertemuan G7 di Jerman.


Mantan Duta Besar Indonesia untuk Australia ini menuturkan salah satu misi Jokowi ke Ukraina dan Rusia adalah untuk menghentikan kekerasan dan peperangan yang tengah terjadi.


"Perang harus dihentikan. Inilah himbauan yang disampaikan kepada Zelensky dan Putin. Jika kekerasan sudah tidak ada lagi, perang berhenti karena gencatan senjata, maka tersedia ruang kondusif untuk berunding mencari jalan damai," tuturnya.


Djumala juga mengungkapkan dengan adanya proses komunikasi, penghentian kekerasan dan dialog dalam setiap upaya peredaan konflik, inisiatif perdamaian butuh waktu lama, bertahun-tahun, melalui proses panjang dan berliku.


"Sebab, perdamaian bukan barang sekali tepuk jadi. Kerja diplomasi perdamaian tentu beda dengan cara kerja pabrik tempe, hari ini kedele besok jadi tempe," kata Djumala.


Dia meyakini bahwa pesan damai yang dibawa Jokowi ke Ukraina dan Rusia adalah manifestasi nilai yang terkandung dalam Pancasila, yaitu sila kedua tentang kemanusiaan dan sila ketiga terkait nasionalisme Indonesia.


Seperti yang diajarkan Bung Karno, nasionalisme Indonesia bukanlah sikap bangga dengan negara dan cintah tanah air tapi menarik diri dari pergaulan internasional. Justru, nasionalisme Indonesia mekar dalam taman sari internasionalisme.


Internasionalisme di sini merujuk pada nilai kemanusiaan, menghargai harkat manusia tanpa membedakan bangsa, etnik, suku dan agama. Alhasil, misi perdamaian Jokowi ke Ukraina dan Rusia merupakan perwujudan nasionalisme kemanusiaan.


"Nasionalisme, karena membawa nama baik Indonesia dalam pergaulan internasional. Kemanusiaan, karena penghentian kekerasan dimaksudkan untuk menghindari hilangnya nyawa manusia tak berdosa akibat perang. Diplomasi perdamaian Jokowi adalah langkah awal membuka pintu komunikasi bagi kedua seteru agar dapat mengakhiri perang sehingga damai tercipta," jelasnya.


Sebelumnya, pakar hubungan internasional sekaligus mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dino Patti Djalal, menilai misi perdamaian yang dilakoni Jokowi bukan berarti bisa dikatakan tidak berhasil.


"Upaya Presiden Jokowi tidak gagal. Ini awal yang baik. Kita harus peka terhadap tantangan ke depan," kata Dino , Sabtu (2/7).


Indikator kegagalan atau keberhasilan misi Jokowi ada tiga. Pertama, kata dia, apabila Ukraina dan Rusia duduk serius dalam perundingan politik untuk berdamai, maka misi Jokowi berhasil. Itu bukan mustahil terjadi di kemudian hari. (detikcom/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: KORAN SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com