* Presiden Ukraina Desak Rusia Segera Berunding

Diculik Rusia Sejak 24 Maret, Wali Kota Ukraina-Keluarga Ditemukan Tewas

* Jerman, Prancis, Denmark dan Italia Usir Diplomat Rusia

364 view
Diculik Rusia Sejak 24 Maret, Wali Kota Ukraina-Keluarga Ditemukan Tewas
(Foto AP/Efrem Lukatsky via The Washington Post/Apnews)
MEMERIKSA LOKASI: Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memeriksa lokasi pertempuran baru-baru ini di Bucha, dekat Kyiv, Ukraina, Senin (4/4).

Jakarta (SIB)

Pihak berwenang Ukraina telah menemukan mayat lima warga sipil dengan tangan terikat di sebuah desa di sebelah barat Kiev, ibu kota Ukraina. Di antaranya termasuk mayat wali kota, suami dan putranya.


Dilansir kantor berita AFP, Selasa (5/4), kepolisian Ukraina menunjukkan empat mayat kepada wartawan AFP, termasuk mayat sang wali kota, yang setengah terkubur di sebuah kuburan di hutan pinus yang berbatasan dengan rumahnya di Motyzhyn.


Mayat kelima ditemukan di sebuah sumur kecil di taman.


Para korban tewas, termasuk dua pria yang bukan bagian dari keluarga wali kota, ditemukan dengan kondisi tangan-tangan mereka diikat ke belakang.


Polisi mengatakan bahwa wali kota, Olga Sukhenko yang berusia 50 tahun, suaminya dan putra mereka, diculik oleh pasukan Rusia pada 24 Maret lalu.


Warga mengatakan bahwa wali kota perempuan itu dan suaminya telah menolak untuk bekerja sama dengan pasukan invasi Rusia.


Sebelumnya pada 11 Maret lalu, wali kota Melitopol di Ukraina selatan juga diculik oleh pasukan Rusia, tetapi dibebaskan setelah beberapa hari.


Sementara itu di Bucha, sebuah kota yang terletak sekitar 30 kilometer di utara Motyzhyn, mayat-mayat warga sipil ditemukan berserakan di jalan-jalan dan di kuburan-kuburan massal.


Pemerintah Rusia dengan tegas membantah tuduhan terkait pembunuhan warga sipil, termasuk di Bucha, dan menyebut gambar-gambar mayat dan kuburan massal di sana telah direkayasa oleh Ukraina untuk menyalahkan Rusia.


Namun, sejumlah citra satelit tampaknya mematahkan argumen Rusia yang menyebut mayat-mayat bergelimpangan di kota Bucha itu baru muncul setelah pasukannya menarik diri dari area tersebut.


Foto atau citra satelit yang dirilis Maxar Technologies pada pekan ini menunjukkan keberadaan mayat-mayat berpakaian sipil yang dibiarkan begitu saja tergeletak di area terbuka dan jalanan Bucha sejak beberapa pekan terakhir, saat pasukan Rusia masih menguasai area tersebut.


Citra satelit Maxar soal situasi jalanan kota Bucha yang diambil sejak pertengahan Maret lalu menunjukkan sejumlah warga sipil tergeletak di tengah atau di tepi jalanan, yang baru-baru ini menjadi lokasi para pejabat Ukraina menemukan mayat-mayat bergelimpangan usai pasukan Rusia menarik diri.


"Citra satelit Maxar yang beresolusi tinggi yang dikumpulkan di atas Bucha, Ukraina (sebelah barat laut Kiev) memverifikasi dan memperkuat video dan foto di media sosial baru-baru ini yang mengungkapkan mayat tergeletak di jalanan dan ditinggalkan di tempat terbuka selama berminggu-minggu," sebut juru bicara Maxar Technologies, Stephen Wood, dalam pernyataannya.


Dikepung

Sementara itu, Kota pelabuhan Mariupol di wilayah Ukraina bagian tenggara dilaporkan mengalami kehancuran hingga '90 persen' setelah dikepung pasukan Rusia selama beberapa minggu terakhir. Ratusan ribu warga masih terjebak di kota Mariupol yang hingga kini terus digempur Rusia.


"Kabar sedihnya adalah 90 persen infrastruktur di kota hancur dan 40 persennya tidak bisa dipulihkan," tutur Wali Kota Mariupol Vadym Boichenko dalam konferensi pers pada Senin (4/4) dan dilansir AFP, Selasa (5/4).


Boichenko juga menyebut, sekitar 130.000 orang masih terjebak di dalam kota Mariupol yang terletak di tepi Laut Azov itu.


Sebelum Rusia melancarkan invasinya pada akhir Februari lalu, kota Mariupol diketahui memiliki sekitar setengah juta penduduk.


"Tentara Rusia secara brutal menghancurkan Mariupol," sebut Boichenko. "Pengeboman tiada henti," imbuhnya, sembari melaporkan penggunaan 'banyak peluncur roket' oleh Rusia.


Menurut Boichenko, mayoritas serangan terhadap Mariupol berasal 'dari lautan' di mana 'kapal-kapal Rusia' ditempatkan.


"Kami berencana mengevakuasi warga yang tersisa, tapi kami tidak bisa melakukannya hari ini," ujarnya.


Rusia dan Ukraina saling menyalahkan atas hambatan dan kesulitan dalam upaya evakuasi warga sipil beberapa waktu terakhir.


Kota Mariupol telah dikepung pasukan Rusia selama lebih dari sebulan terakhir. Situasi itu memaksa warga setempat yang terjebak untuk berjuang sendiri di tengah kondisi perang yang memicu kecaman internasional.


Desak

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mendesak Rusia bergerak cepat merundingkan kesepakatan untuk mengakhiri perang.


Hal itu diungkapkannya saat pergi ke Bucha, pinggiran ibu kota Kiev, untuk melihat lokasi terbunuhnya banyak warga sipil usai pasukan Rusia menarik diri dari wilayah tersebut, seperti laporan Associated Press, Senin (4/4).


Di kota Bucha, di mana ratusan warga sipil ditemukan tewas setelah pasukan Rusia mundur pekan lalu, Zelensky mengatakan, bukti kekejaman membuat sulit untuk melakukan pembicaraan dengan Rusia.


“Sangat sulit untuk melakukan negosiasi ketika Anda melihat apa yang mereka lakukan di sini,” kata Zelensky, menambahkan di Bucha dan tempat-tempat lain “orang mati ditemukan di tong, ruang bawah tanah, dicekik, disiksa.”


Zelenskyy menekankan, "Perdamaian tidak bisa datang tanpa kemenangan. Kemenangan dapat dicapai dalam proses negosiasi paralel dengan langkah-langkah tempur tentara kami."


"Tentara kami menunjukkan langkah-langkah tempur setiap hari. Tapi itu tidak mudah. Kami tidak ingin kehilangan jutaan orang. Itulah mengapa kita membutuhkan dialog," sambungnya.


Dia menambahkan, kepemimpinan Rusia “perlu berpikir lebih cepat jika memiliki (otak) untuk berpikir.”


“Semakin lama Rusia menunda pembicaraan, semakin buruk bagi mereka, untuk situasi ini, untuk perang ini. Karena setiap hari ketika pasukan kami masuk dan mengambil kembali wilayah tertentu, Anda melihat apa yang terjadi."


"Sangat sulit untuk melakukan negosiasi ketika Anda melihat apa yang mereka lakukan di sini," ujarnya.


Usir

Terpisah, Jerman dilaporkan telah mengusir 40 diplomat Rusia dan menyebutnya sebagai orang yang tidak diinginkan.


Mereka punya waktu lima hari untuk meninggalkan negara itu.


"Sejumlah besar anggota kedutaan Rusia yang tidak diinginkan dan telah bekerja di Jerman setiap hari melawan kebebasan kita, melawan kohesi masyarakat kita," kata Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock, dikutip dari RT, Selasa (5/4).


Jika diplomat dinyatakan sebagai orang yang tidak diinginkan, ini berarti pengusiran. Keputusan itu disampaikan kepada duta besar Rusia Sergey Netschayev pada sore hari Senin lalu.


Para personel memiliki waktu lima hari untuk meninggalkan Jerman. Menurut laporan media lokal, pegawai dinas luar negeri Rusia diduga bekerja untuk dinas intelijen Moskow.


Media Jerman mengatakan, sebanyak 40 diplomat Rusia akan meninggalkan negara itu.


Prancis, Senin (4/4) juga mengatakan, akan mengusir 35 diplomat Rusia. Langkah itu dilakukan sebagai bagian dari aksi bersama sejumlah negara Eropa atas invasi yang dilakukan Moskow terhadap Ukraina.


"Prancis memutuskan malam ini untuk mengusir sejumlah diplomat Rusia dengan status diplomatik yang ditempatkan di Prancis yang kegiatannya bertentangan dengan kepentingan keamanan kami," kata Kementerian Luar Negeri Prancis dalam sebuah pernyataan, Selasa (5/4).


Sementara itu, sebuah sumber kementerian yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, mengatakan pengusiran 35 diplomat Rusia juga dilakukan demi memastikan keselamatan warga Prancis di Eropa.


"Tindakan ini adalah bagian dari pendekatan Eropa. Tanggung jawab pertama kami adalah selalu memastikan keselamatan orang Prancis dan Eropa," katanya.


Sementara Pemerintah Denmark mengatakan pihaknya juga mengusir 15 "perwira intelijen" Rusia yang terdaftar sebagai diplomat di negara itu. Pengusiran ini dilakukan menyusul langkah serupa oleh sejumlah negara Uni Eropa, termasuk Jerman dan Prancis.


Kementerian Luar Negeri Denmark mengatakan bahwa warga Rusia yang bersangkutan akan memiliki waktu 14 hari untuk meninggalkan negara itu.


"Kami telah menetapkan bahwa 15 perwira intelijen yang diusir telah melakukan mata-mata di tanah air Denmark," kata Menteri Luar Negeri Denmark Jeppe Kofod kepada wartawan setelah pertemuan di parlemen.


Dikatakannya, Denmark ingin mengirim "sinyal yang jelas" bahwa mata-mata di negara Nordik itu "tidak dapat diterima."


Duta Besar Rusia untuk Denmark diberitahu tentang keputusan itu pada Selasa pagi, di mana pemerintah Denmark juga menyatakan "kecaman keras atas kebrutalan Rusia terhadap warga sipil Ukraina di Bucha".


Pada saat yang sama, pemerintah Denmark tetap mempertahankan hubungan diplomatik dengan Rusia.


"Denmark tidak ingin memutuskan hubungan diplomatik dengan Moskow. Oleh karena itu, duta besar Rusia dan yang lainnya di kedutaan di Kopenhagen tidak termasuk dalam pengusiran," kata Kofod.


Sementara itu, Menteri Luar Negeri Italia Luigi Di Maio mengatakan pada Selasa bahwa Roma juga telah mengusir 30 diplomat Rusia sebagai bagian dari tindakan bersama Eropa setelah invasi Moskow ke Ukraina.


"Kami telah mengusir 30 diplomat Rusia karena alasan keamanan nasional," kata Di Miao kepada televisi Italia Rai. (detikcom/Kompas TV/CNNI/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com