Dipukul Saat Tes Antigen, Dandim Buleleng Polisikan Warga


182 view
Dipukul Saat Tes Antigen, Dandim Buleleng Polisikan Warga
instagram @infogilimanuk/
Sejumlah oknum TNI di Buleleng Bali lakukan aksi pemukulan pada warga 
Buleleng (SIB)
Komandan Kodim (Dandim) 1606/Buleleng akhirnya melaporkan warga Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, ke polisi. Pelaporan dilakukan usai warga tersebut memukul kepala Dandim saat pelaksanaan screening rapid test antigen di desa tersebut.

"Ya semalam kita sudah (melaporkan warga tersebut). Karena ternyata bukan saya sendiri yang dipukul lainnya," kata Dandim 1606/Buleleng Letkol Inf Muhammad Windra Lisrianto saat dihubungi, Selasa (24/8).

Namun, setelah adanya pelaporan ke polisi, Windra mengaku menerima informasi bahwa pihak warga tersebut mau datang ke Kodim. Mereka akan datang ke Kodim 1606/Buleleng.

"Kita mau lihat (setelah mereka datang) bagaimana kelanjutannya. Sekarang katanya (mereka datang), informasinya sekarang mau ke Kodim," terang Windra.

Windra menegaskan, jika mereka mau bermediasi dan meminta maaf, pihaknya bakal menyelesaikan perkara tersebut secara damai. Menurutnya, sesama manusia bisa saling memaafkan.

"Ya namanya manusia kan kita saling memaafkan lah ya. Tapi cara mereka kemarin membuat video viral itu sepotong saja. Mudah-mudahan bisa berakhir baik itu," kata dia.

Lalu jika mereka bersedia meminta maaf apakah laporan akan dicabut? Windra mengatakan bahwa pihaknya bakal menyesuaikan.

"Ya kalau itu kita akan sesuaikan (laporannya), karena niat kita memang membantu masyarakat. Dibayangkan saja, kita lihat yang kegiatan (rapid test) antigen, mereka menolak melawan petugas kemudian melakukan pemukulan, kan seperti itu. Itulah sebenarnya yang kurang sesuailah," tuturnya.

"Kita kan sebagai warga negara yang baik harus mendukung pemerintah. Anggota saya memukul (warga itu) karena saya dipukul duluan. Jadi jangan memandang kesalahannya itu dari satu sisi saja," kata dia.

Sebelumnya, sebuah video menampilkan beberapa orang berseragam TNI yang memukul remaja viral di media sosial (medsos). Peristiwa tersebut terjadi di Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali.

Dua remaja itu dihajar anggota TNI lantaran sempat memukul kepala Dandim Buleleng dari belakang. Setelah remaja tersebut memukul Dandim, anggota TNI yang lain spontan menghajar keduanya.

Dandim Buleleng Letkol Muhammad Windra mengatakan, peristiwa itu terjadi tiba-tiba. Dia mengatakan informasi di medsos hanya sepotong alias tidak utuh.

"Kepala saya dipukul dari belakang, kemudian saya bingung siapa yang mukul saya, nah saat itulah anggota yang ada di kanan kiri saya langsung spontan, karena dia tahu, dipukul lah orang itu (oleh anggota). Jadi yang di Instagram itu hanya sepotong dari versi mereka saja," terang Letkol Windra saat dihubungi, Senin (23/8).

Bantah
Warga Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali berinisial DI (24) menepis dirinya memukul Letkol Inf Muhammad Windra Lisrianto. Dia mengaku tak melawan aparat TNI.

"Tidak ada (pemukulan kepada Dandim), orang saya tidak melawan. Saya di bawah, duduk," kata dia saat dihubungi, Selasa (24/8).

Menurutnya kejadian berawal saat dia pulang dari kebun untuk makan siang, sekitar pukul 10.00 Wita. DI mengaku lupa memakai masker.

Saat melintasi lokasi tes rapid antigen, dirinya dicegat oleh personel TNI. Karena tak memakai masker, DI merasa takut dan mencoba lari.

DI menyebut hampir jatuh karena ditarik petugas, tetapi masih bisa meloloskan diri. Sekitar 40 meter dari lokasi, ternyata ada lagi TNI yang menghadang.

DI mengatakan teman yang diboncengnya, AG (23) dipukul saat itu oleh prajurit TNI. Karena temannya dipukul, DI menuturkan dirinya pun menghentikan laju motor.

"Lalu saya nanya, 'Pak kenapa teman saya dipukul?' Tidak tahu kenapa (petugas) marah-marah langsung mukul, langsung nyekik. Terus saya diseret sejauh 30 meter ke titik lokasi yang pertama," cerita DI.

"Sejauh saya diseret, saya juga ditendang dari belakang, padahal saya sudah tidak melawan. Tapi terus saja saya ditendang. Setelah sampai di titik 30 meter, saya diduduki dan disiram pakai air berdua," imbuhnya.

Sekitar 15 menit kemudian, DI menyebut pamannya datang untuk melerai. Namun, lanjut DI, pamannya ikut dihajar juga.

"Kami bertiga dipukuli lagi, padahal kami tidak melawan. Setelah itu datang lagi adik saya, dia datang, karena adik saya tahu kalau saya dipukul sampai luka, dicekek, otomatis kan adik saya marah. Adik saya melawan, tapi melawan belum sampai mukul, adu mulut lah. Setelah itu adik saya dipukuli sampai bibirnya robek," jelasnya.

DI menyebutkan hal itu membuat ayahnya mendatangi lokasi dan membawanya pulang. Namun prajurit TNI masih mengikutinya hingga ke rumah.

"Kemudian datang Bapak saya membawa saya pulang ke rumah, kebetulan dekat jaraknya sekitar 100 meter dari lokasi, dibawa pulang. Terus tentaranya ini ikut, dikejar saya, sampai di depan rumah," terang DI.

DI lalu mendengar penjelasan aparat TNI yang menyampaikan alasan pemukulan karena dirinya menabrak personel TNI. DI membantah hal tersebut.

"Setelah di depan rumah, kenapa dipukul karena tidak pakai masker. Tapi dipenjelasannya pihak aparat, saya dibilang nabrak aparat. Kan tidak mungkin saya nabrak, kalau saya nabrak pasti saya jatuh. Jadi berbeda dengan fakta yang di lapangan," ujar DI.

"Dibilang saya yang mengeroyok aparat, padahal kan saya tidak melawan, saksi mata ada," sambung dia.
Atas kejadian itu, DI sudah melakukan visum et repertum. DI menjelaskan hasilnya ditemukan luka di leher, kening dan kakinya. DI mengaku juga punggungnya terasa sakit.

"Tidak ada (penolakan swab rapid antigen), saya kan sudah pernah swab. Sudah ada buktinya. Dia itu (petugas) sosialisasi kepada masyarakat belum merata, artinya masyarakat belum ada yang tahu kalau hari itu akan dilakukan swab. Saya kan takut jadinya kalau saya ditekan, makanya saya lari," pungkas DI. (detikcom/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com