Didakwa Korupsi Rp 32,5 M

Direktur PT Tanjung Siram dan Mantan Kacab BSM Perdagangan Dituntut Masing-masing 14 Tahun Penjara


172 view
Direktur PT Tanjung Siram dan Mantan Kacab BSM Perdagangan Dituntut Masing-masing 14 Tahun Penjara
TRIBUN MEDAN/GITA
Dua terdakwa korupsi Rp 32,5 miliar Direktur PT Tanjung Siram.   
Medan (SIB)
Didakwa korupsi Rp 32,5 miliar Direktur PT Tanjung Siram, Memet Soilangon Siregar dan Mantan Kepala Cabang Pembantu (KCP) Bank Syariah Mandiri (BSM) Perdagangan, Dhanny Surya Satrya dituntut masing-masing 14 tahun penjara di Pengadilan Tipikor Medan, Kamis (14/10).

Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Asor Olodaiv DB Siagian menilai kedua terdakwa terbukti melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana diancam dalam pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) Ke -1 KUHPidana.

"Menjatuhkan terdakwa Memet Soilangon Siregar dan Dhanny Surya Satrya dengan pidana 14 tahun penjara, denda Rp 500 juta, subsidair 6 bulan kurungan," kata jaksa.

Tidak hanya itu, terdakwa Memet juga dituntut membayar Uang Pengganti (UP) kerugian keuangan negara sebesar Rp 32,5 miliar lebih, dengan ketentuan apabila paling lama 1 bulan sesudah putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap terdakwa tidak membayar uang pengganti maka harta bendanya akan disita dan dilelang oleh jaksa.

"Apabila harta benda Terdakwa Memet tidak mencukupi untuk membayar uang pengganti tersebut, maka dipidana selama 7 tahun penjara," ucap Jaksa.

Sementara itu, terdakwa Dhanny juga dituntut membayar UP sebesar Rp 84 juta lebih, subsidar 7 tahun penjara.
Usai tuntutan dibacakan, Majelis Hakim yang diketuai Jarihat Simarmata menunda sidang pekan depan dengan agenda nota pembelaan (pledoi).

Sementara itu dalam dakwaan, Jaksa menyebutkan bahwa kedua terdakwa terlibat korupsi pemberian fasilitas pembiayaan yang menyebabkan negara merugi Rp 32,5 Miliar.

Jaksa menguraikan dalam dakwaannya, perkara yang menjerat kedua lelaki ini berawal pada November 2009 sampai dengan April 2016. Terdakwa Dhanny Surya Satrya bersama-sama dengan terdakwa Memet Soilangon Siregar menerima permohonan investasi dari PT Tanjung Siram.

"Kemudian terdakwa Dhanny selaku Kepala Cabang Pembantu (KCP) Bank Mandiri Syariah Perdagangan, mengeluarkan surat persetujuan pemberian pembiayaan meskipun lahan dalam sengketa dan adanya mark-up harga beli yang diajukan pihak PT Tanjung Siram," ujarnya.

Lebih lanjut, kata jaksa, penyimpangan berikutnya, adanya sengketa lahan kebun Hak Guna Usaha (HGU) di Desa Aek Kanan antara PT TS dengan masyarakat sekitar mengakibatkan perpanjangan Sertifikat HGU yang akan jatuh tempo Desember 2010 tidak dapat disetujui Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumatera Utara.

Mirisnya, meski KCP Perdagangan mengetahui harga jual beli kebun di Desa Bagan Baru antara PT TS dengan PT Suka Damai Lestari (SDL) berdasarkan Perjanjian Jual Beli (PJB) senilai Rp 32.000.000.000, tetapi tetap memasukkan harga jual beli senilai Rp 48.051.826.000.

Apalagi, penyusunan analisa cash flow atau repayment capacity tidak valid dan terkesan PT Tanjung Siram (TS) memiliki kemampuan membayar.

Dan pencairan fasilitas pembiayaan tidak bertahap sesuai progress yang dicapai, serta tidak melampirkan rencana anggaran biaya (RAB) atau invoice dari supplier.

Selanjutnya, sambung JPU, terdakwa Memet Siregar selaku Direktur PT Tanjung Siram, bertempat tinggal di Jalan Sei Putih Kelurahan Babura, Medan, sebagai peminjam mempunyai peran aktif dalam penyimpangan tersebut.

Sesuai laporan hasil audit BPK RI atas penyimpangan tersebut mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 32.565.870.000. (A17/D2/a)


Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com