Disidang, Djoko Tjandra Cerita Rencana Bertemu Wapres di Malaysia

* Jubir Wapres Membantah

228 view
Disidang, Djoko Tjandra Cerita Rencana Bertemu Wapres di Malaysia
(Foto: Agung Pambudhy)
Djoko Tjandra 
Jakarta (SIB)
Djoko Tjandra dalam sidang pemeriksaan terdakwa tiba-tiba menceritakan rencana bertemu dengan Wapres Ma'ruf Amin di Malaysia. Juru Bicara Wakil Presiden Ma'ruf Amin, Masduki Baidlowi, menegaskan Wapres Ma'ruf tidak pernah terlibat kasus tersebut.

"Nggak ada itu, jadi itu Wapres tidak ada urusan hal-hal seperti itu dan tidak pernah ada hal yang cerita seperti itu. Itu saya nggak ngerti ada cerita seperti itu. Saya kira nggak ada hubungan," kata Masduki kepada wartawan, Kamis (25/2).

Masduki mengatakan, Ma'ruf Amin tidak pernah menjalin komunikasi dengan pihak yang ingin mempertemukan Ma'ruf Amin dengan Djoko Tjandra. Dia menegaskan Ma'ruf Amin tidak tahu rencana tersebut.

"Jadi nggak ada cerita itu, Pak Wapres tidak tahu-menahu soal itu, nggak ada itu ya. Pokoknya nggak ada cerita, Wapres nggak ada cerita seperti itu dan tidak tahu-menahu dengan cerita itu," tegasnya.

Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra sebelumnya dalam sidang pemeriksaan terdakwa tiba-tiba menceritakan rencana bertemu dengan Wapres Ma'ruf Amin di Malaysia. Namun, pertemuan itu batal.

Awalnya jaksa Kejagung bertanya tentang hubungan Djoko Tjandra dengan seorang swasta bernama Rahmat. Djoko Tjandra menjelaskan awal bertemu Rahmat dalam acara ICMI pada 2018 saat pembebasan Anwar Ibrahim.

"Saat itu ada tim ICMI zamannya ayah angkatnya Pak Rahmat itu mereka semua merasa dekat sama Pak Anwar Ibarahim yang saat itu di-hidden oleh raja di Malaysia sehingga beliau keluar dari penjara, teman-teman dekat Pak Anwar semua datang, welcome beliau. Di situ saya bertemu (Rahmat), karena waktu itu teman-teman di ICMI saya semua kenal. Di situ saya ketemu namanya Rahmat juga di situ," jelas Djoko Tjandra dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (25/2).

Lalu, tiba-tiba Djoko Tjandra mengaku pernah ditelepon Rahmat. Pembicaraan mereka terkait pertemuan Djoko Tjandra dengan Ma'ruf Amin.

"Saya tidak pernah menyampaikan (masalah hukum) tapi mereka tahu. Saya nggak tahu persis, tapi beliau beberapa kali telepon saya, saat itu minta untuk saya bersedia menemui kiai... Pak Rahmat. Mereka mau datang ke KL (Kuala Lumpur)," kata Djoko Tjandra.

Sempat Berkelakar
Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra juga menceritakan peristiwa pertemuannya dengan Pinangki Sirna Malasari di Kuala Lumpur, Malaysia. Termasuk dengan isi pembicaraannya dengan Pinangki, seperti apa?

Dia mengungkapkan percakapannya dengan Pinangki saat bertemu di Malaysia pada 25 November 2019.

"Ada suatu event dimana pada tea time tanggal 25 November, jam 17.00 atau 18.00 (waktu Malaysia), kita lagi minum kopi, ada cetus dari Pinangki 'wah Pak Djoko bangun gedung ini berapa miliar'. Saya bilang 'habis USD 5,5 miliar'. Kata dia 'wah ini Gedung kebanggan Indonesia dibangun oleh orang Indonesia, saya bilang amin," ungkap Djoko.

Djoko Tjandra mengatakan saat itu Pinangki melontarkan pernyataan terkait permintaan USD 100 juta jika Djoko Tjandra berhasil pulang Indonesia tanpa dieksekusi. Saat itu Djoko mengaku tidak menanggapi Pinangki.

"Dia bilang 'wah untuk Pak Djoko kalau pulang, buang USD 100 juta nggak apa kan'. Jadi nggak spesifik, saya nggak tanggapi (Pinangki). Itu bisa jadi ditangkap ada permintaan USD 100 juta. Jadi nggak spesifik mereka minta USD 100 juta. Hanya bilang kalau saya pulang, buang USD 100 juta nggak ada masalah," katanya.

Lebih lanjut, Djoko Tjandra juga mengatakan Pinangki saat bertemu dengannya dia menawarkan tentang fatwa Mahkamah. Djoko menyebut Pinangki mempresentasikan langsung rencana pengajuan fatwa MA itu.

"Mekanisme yang ditawarkan saat itu adalah mekanisme yang disebut namanya fatwa MA," tutur Djoko Tjandra.
"Kira-kira fatwa itu akan bersurat Kejagung kepada MA, dan MA mengeluarkan fatwa. Lalu, pihak Kejagung membuat SE terhadap fatwanya. Pinangki jelaskan itu," jelasnya.

Diketahui, Djoko Tjandra didakwa memberikan suap senilai USD 500 ribu kepada Pinangki Sirna Malasari. Uang itu diberikan melalui Andi Irfan Jaya dengan maksud agar Pinangki sebagai jaksa di Kejaksaan Agung (Kejagung) mengupayakan Djoko Tjandra yang saat itu menjadi buronan perkara pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali untuk tidak dieksekusi ketika pulang ke Indonesia dengan fatwa dari Mahkamah Agung (MA). (detikcom/f)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com